RSS

Monthly Archives: January 2009

Gong Xi Fat Cai

Gong Xi Fat CaiAh…lagi-lagi postingan gue ngga ada hubungannya ama makroekonomi, kayak ide awal gue bikin blog ini. Yeaah…whatever, gue lagi ngga mood =)

Untuk pertama kalinya gue ngerasain (walopun ngga ngerayain) Gong Xi Fat Cai di negeri yang mayoritas penduduknya orang Tionghoa. Singapura. Gue kesana sama isteri dan anak bayi gue (apakah anak usia 14 bulan masih disebut ‘bayi’?). Karna gue dan isteri masing-masing dah pernah ke negeri Lee Kwan Yew ini, kami memutuskan untuk traveling sendiri, ngga ngambil paket tour. That’s where the trouble beginRead the rest of this entry »

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on January 30, 2009 in Santai

 

Tips Menghadapi Auditor

Sebelumnya gue tegaskan, tips ini bukan dalam konteks untuk anda yang sedang jatuh cinta kepada auditor. Sungguh…gue ngga punya kompetensi di bidang itu! Tips ini gue desain untuk anda yang kantornya sedang diobok-obok oleh auditor dan anda secara menyedihkan telah ditunjuk sebagai orang yang harus berhadapan langsung, menyuplai data dan dokumen untuk sang auditor (kayak yang gue ceritain di posting sebelum ini). Tips sederhana ini gue buat berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama menjadi auditor dan teraudit (...covering both sides of the story, kata om wartawan)

Tips Non-Teknis
1. Tempatkan auditor di ruangan yang AC nya sangat dingin atau ngga pakai AC sama sekali.
Memang terlihat kejam. Tapi apa boleh buat, anda harus membuat auditor susah konsentrasi dan ngga betah sehingga jadi pengen buru-buru pull-out (balik ke kantornya) Read the rest of this entry »

 
12 Comments

Posted by on January 22, 2009 in Uncategorized

 

Mafia Berkeley

godfather1Gue suka banget sama film trilogi The Godfather. Di film tentang mafia itu, Don Corleone jadi tokoh yang sangat dihormati sekaligus paling ditakuti. Dihormati karena ia memberikan kesejahteraan, perlindungan dan kehormatan bagi pengikutnya. Ditakuti karena ia sangat keras dan mematikan bagi orang-orang yang menentangnya. Mafia, meskipun ngga pake Akta Pendirian, menjelma menjadi kekuatan yang menentukan dan sangat berpengaruh di Chicago. Ia menyusupkan anggotanya dipemerintahan, kepolisian dan kejaksaan untuk mempengaruhi setiap kebijakan agar ngga ngutak-atik bisnisnya, baik yang halal maupun haram. Organisasi ini (sekali lagi: ngga pake Akta Pendirian, jadi ngga bisa dibuktiin keberadaannya secara hukum) tersusun sangat rapi, kebal hukum dan terus menciptakan kader-kader baru untuk melanjutkan bisnisnya.

Itu mafia asal kepualuan Sisilia, Italia. Lha…emangnya di Berkeley juga ada mafia? Entahlah. Yang jelas you ngga bakal nemuin akta pendirian organisasi ini di Departemen Hukum dan HAM republik ini (biarpun nyarinya pake sisminbagkum yang pengadaannya sarat korupsi itu…hehehe). Kalau you aja ngga bisa ngebuktiin keberadaan Mafia Berkeley di Indonesia, apalagi gue! Biarlah ekonom profesional yang ngebuktiinnya. Ekonom amatir (me, you dummies…!!) cukup ngasih overview aja tentang apa itu Mafia Berkeley.

Istilah Mafia Berkeley, entah siapa yang ngasih, merujuk pada ahli-ahli ekonomi Indonesia di jaman awal pemerintahan Eyang Harto yang menentukan arah kebijakan perekonomian negara ini. Wajar. Eyang Harto kan tentara yang tentu saja kemampuan utamanya adalah berperang. Jadi doi butuh nasihat-nasihat canggih dari para begawan ekonomi biar pemerintahannya berhasil secara poleksosbudhankam (…halah…korban penataran P4). Mafia Berkeley kerjanya ngga ngebunuh orang-orang kayak Don Corleone. Kebijakan makro ekonomi yang mereka terapkan di Indonesialah yang dianggap oleh banyak pihak sebagai biang terpuruknya ekonomi Indonesia saat ini (meski sempat berkembang pesat secara semu). Empat pilar utama kebijakan Mafia Berkeley ini, liberalisasi keuangan, liberalisasi perdagangan, kebijakan uang ketat dan privatisasi ditengarai (maafkan bahasanya yang sok jurnalis) merupakan titipan dari ‘The Godfather’ untuk kepentingan dunia Barat.

Para ahli ekonomi ini adalah lulusan University of California, Berkeley, Amerika Serikat yang disekolahin pake beasiswa Ford Foundation. Siapa aja yang jadi anggota Mafia Berkeley itu? Psst…. kayak mafioso Sisilia itu, anggota Mafia Berkeley juga ngga bisa diidentifikasi secara pasti, karna ngga ada akta pendiriannya. Lha wong ‘organisasi’ nya juga ngga terdaftar dimana-mana. Kebanyakan ‘anggota’ nya menjabat berbagai posisi penting dipemerintahan kayak Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Subroto, JB. Sumarlin dan Adrianus Mooy. Dikabinet SBY sekarang kader-kadernya juga ada lhoo…

Okelah… siapapun mereka, buat yang kontra Mafia Berkeley dianggap sangat pro Amerika (lah yang ngasih beasiswa si Paman Sam ini…) Kebijakan liberalisasi keuangan dan liberalisasi perdagangan dipaksakan biar AS dan negara-negara Barat bisa ngubek-ubek pasar Indonesia. Privatisasi dilakukan sesuai ‘petunjuk’ Washington melalui butir-butir rekomendasi IMF. Indonesia di biarkan terus terpuruk di jurang hutang yang dalam, gali lubang tutup lubang. Intinya, ketergantungan Indonesia kepada si paman harus dipertahankan dengan cara apapun. Logis. Namanya orang berhutang, pasti banyak sungkannya dan jadi penurut ke yang ngutangin.

Sekali lagi… Semua itu hanya dugaan. Siapa yang bisa mastiin kalo keputusan para menteri yang sejalan dengan keinginan Washington itu memang pesanannya sang paman? Siapa tau kebijakan ngambil hutang lagi atau kebijakan ngejual saham perusahaan-perusahaan strategis milik negara memang mendesak dan sesuai dengan kondisi saat itu?

 
2 Comments

Posted by on January 21, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

Hukum Karma Itu Ada

Gue ngga suka sama auditor yang ngaudit kantor gue. Mau auditor eksternal atau internal, sama nyebelinnya. Apalagi dikantor gue yang punya pemerintah republik ini, yang ngaudit silih berganti kayak lomba lari estafet. Sempat kepikiran, kok auditor ini ngga ngopi aja laporan dari auditor lain yang dah ngubek-ngubek kantor gue sebelumnya? Kan jadinya ngga ngerepotin gue dan teman-teman kantor yang lain, si teraudit.

Pertama, auditor dengan semena-mena merubah pekerjaan gue dan teman-teman kantor dari seorang bankir menjadi juru fotokopi yang harus mengkopi berlembar-lembar dokumen untuk dibawa pulang ke Jakarta. Katanya sih buat dianalisa.
Auditor : Mas, tolong difotokopiin dokumen ini ya…
Gue      : Semuanya, Mas? [dengan muka malas]
Auditor : Iya, semuanya [ngga peduli ]

Kedua, auditor sukanya nanya daripada mbaca (terutama kalo auditornya masih cupu, fresh from the college!!).
Auditor : Mas, sejak kapan PT Z jadi debitur bank anda? [sambil memegang laporan kredit PT Z]
Gue      : Sejak tahun 2007… Kan ada di laporan analisa kreditnya..
Auditor : Oiya..bener. Trus plafon kredit PT Z berapa ya?
Gue      : Duapuluh miliar…Kan ada di laporan analisa kreditnya.. [mulai ngga sabaran]
Auditor : Hmm…. Lokasi pabriknya dimana mas?
Gue       : Di Padang… Kan ada di laporan analisa kreditnya..[minta izin pura-pura mau ke toilet]

Ketiga, auditor sukanya memaksa orang untuk berkomitmen yang belum tentu sanggup dipenuhinya.
Auditor : Mas, tolong dibikinin rincian debitur bank anda berdasarkan sektor industri ya..
Gue       : Baik Pak..
Auditor : Kapan rinciannya bisa diserahkan ke saya?
Gue       : Saya usahakan besok siang, Pak [kelihatan ragu-ragu]
Auditor : Ntar sore aja deh
Gue       : Baik Pak [makin ragu-ragu]

Keempat, auditor sukanya mengancam.
Auditor : Pokoknya laporan keuangan PT Y harus kami terima sebelum akhir bulan ini!
Gue      : Wah ngga janji deh Pak… laporannya masih disusun sama debiturnya [memelas]
Auditor : Kalau laporannya belum kami terima akhir bulan ini, debiturnya turun ke golongan 3*
Gue      : Jangan dong, Pak… [makin memelas]
* turun golongan debitur bagi bank adalah aib karena menunjukkan ketidakmampuan si bankir yang mengelola debitur ybs untuk membayar kewajibannya kepada bank..

Hmm…masih banyak alasan buat gue sebel sama auditor… Tapi gue jadi ingat, dialog-dialog sejenis sering gue alami beberapa tahun yang lalu. Waktu itu, gue yang merubah pekerjaan si teraudit jadi juru fotokopi, gue yang suka nanya sebelum membaca, gue yang maksa si teraudit untuk berkomitmen yang belum tentu sanggup dipenuhinya dan gue juga yang suka mengancam. Karena waktu itu gue yang jadi auditornya!!! Hehehe…Hukum Karma Itu Ada…=)

Disclaimer:
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menyerang atau menjelek-jelekkan suatu profesi tertentu. Tulisan ini gue persembahkan untuk teman-teman gue yang masih setia mengabdikan diri sebagai auditor dimanapun didunia ini. Tetaplah tegar, kawan…meskipun banyak yang sebel ama lo…*peace*

 
11 Comments

Posted by on January 16, 2009 in Uncategorized

 

Hot Money

Gue bukan lagi mau ngomongin uang sogokan yang dibagi-bagi ke para anggota dewan di republik ini. Bukan juga mau ngomongin soal uang yang diperoleh dari bisnis haram semisal jual narkoba, prostitusi atau judi (mmhh…kalo uang jenis ini ada kaitannya juga sih). Trus apa donk? Yang lagi gue omongin ini adalah jargon ekonomi untuk uang dalam jumlah besar, dengan angka nol bisa mencapai 10 digit, dalam dolar amrik pula, yang bisa berpindah dari satu negara ke negara lain selama bisa ngasih keuntungan buat para pemiliknya.

Siapa aja pemilik hot money itu? Pemiliknya ya bisa siapa aja, investor kelas kakap dari berbagai negara (masih inget sama George Soros yang ngubek-ngubek perekonomian Indonesia pas krismon tahun 1998?), bandar judi, koruptor dan mafia yang mau nyuci uangnya biar kelihatan halal atau pemda di republik ini yang berwawasan global (..cuih…uang itu harusnya digunakan untuk pelayanan masyarakat bung…) Oiya…semua pemilik uang panas ini ngga secara langsung menginvestasikan uangnya tapi menggunakan jasa lembaga keuangan atau fund manager.

Gimana caranya? Mereka akan menginvestasikan uangnya di negara-negara yang ngasih keuntungan paling tinggi. Misalnya tingkat bunga deposito atau simpanan di Thailand sedang tinggi-tingginya, maka berbondong-bondonglah uang panas itu masuk ke Thailand. Atau waktu pasar modal Indonesia lagi bagus-bagusnya dengan kenaikan harga saham yang relatif tinggi, beredarlah uang panas itu di Indonesia melalui pasar modal (Bursa Efek Indonesia….kalo ada yang ngga tau). Pokoknya miliaran dolar itu akan datang dan pergi dari suatu negara ke negara yang lain yang paling memberi keuntungan buat mereka. In a blink of an eye…thanks to global economics and information system!! [ mecoba untuk sarkastik ]

Gimana dampaknya terhadap perekonomian suatu negara? Hot money masuk ke suatu negara, baik berupa penempatan dana di deposito ataupun investasi di pasar modal, melalui sistem perbankan negara tersebut. Namanya uang masuk ya kudu lewat bank sentral ( Bank Indonesia…you dummies;-p) dan itu di bank sentral tercatat dalam cadangan devisa. Tahun 2006 (maap datanya ngga gitu update sosodara..) dari US$ 40 miliaran cadangan devisa Indonesia ternyata +US$ 10 miliar adalah hot money. Positifnya adalah (dan ini relatif, tergantung yang ngebacanya eksportir apa importir), biasanya uang panas yang masuk itu dalam US dolar. Sesuai hukum dasar perekonomian, kalau penawaran meningkat lebih tinggi dari permntaan, maka harga akan turun. Demikian pula dengan nilai tukar uang Paman Sam ini. Jutaan atau bahkan miliaran dolar yang yang masuk Indonesia akan mengatrol turun nilai dolar (secara teori lho, boss..)

Tapi kayak yang tadi gue bilang, uang panas itu bisa dipindahkan ke negara lain dalam sekejap mata. Kalo uangnya dah kabur, mau ngga mau cadangan devisa jadi turun. Kalau cadangan devisa turun, BI susah mau intervensi kalo kurs rupiah gonjang-ganjing. Supply dolar turun drastis artinya nilai tukar dolar amrik bisa ngamuk lagi. Pasar modalpun jadi lesu darah karna di tinggal pemodalnya. Dampak selanjutnya? Help me out, guys….

 
4 Comments

Posted by on January 14, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

12 Januari

Lagu Gigi yang judulnya 11 Januari diduga terinspirasi dari kisah hidup gue dan untuk itu gue berencana menuntut kompensasi yang memadai kepada Armand (pake huruf “d” kan?) Maulana. Lho…kok bisa? Ya bisa donk. Jaman sekarang kan kalo ada orang yang sukses dan terkenal dan elo ga kecipratan rejekinya (minimal dapet rembesannya ;-p), tinggal bikin kasus aja. Pilihannya kalo ga si orang sukses ngajak lo damai dan ngasih sangu alakadarnya atau lo malah dituntut balik sama gerombolan pengacaranya. Eits..kok ngelantur jadi bikin rencana jahat gini? Terlalu…[dengan wajah sendu ala Rhoma Irama]

Engga kok….gue ngga punya bukti kuat kalo si Armand terinspirasi dari kisah hidup gue pas nulis lagu itu, lha wong dia kenal aja engga ama gue. Gue cuma nyama-nyamain aja karena judul lagunya Gigi itu adalah H-1 dari tanggal pernikahan gue ama isteri gue (ya iyalaah….masa sama suami gue!!!), Dian persis 2 tahun yang lalu. “Ooo…..jadi sebenernya postingan lo ini mau ngasih tau kalo kemaren adalah 2nd anniversary of your marriage?” pasti sebagian dari lo berpikiran gitu. Hehehe…akhirnya sampeyan semua ngeh juga…

Selama dua tahun nikah udah ngapain aja? Banyak donk… Yang jelas sekarang udah ada Alif, bayi mungil (apakah anak usia 14 bulan masih bisa dibilang bayi?) buah hati kami yang ngegemesin. Selain itu? Ya masih banyaklah… ya ada hepi-hepinya, ya ada ribut-ributnya, pokoknya semua yang dialami pasutri lain juga gue alami kok (dengan level dan intensitas yang berbeda-beda tentunya). Gue jadi inget petuah instruktur gue waktu pelatihan calon analis kredit di sebuah bank milik negara. Waktu gue ngasih undangan resepsi pernikahan gue, didepan kelas beliau berpidato bak Aa’ Gym: “….Getting married is creating problems. The beauty is how to solve those problems” Gue dan teman-teman seangkatan termangu takjub….ini kelas Financial Statements Analysis apa konseling perkawinan?

Anyway, gue berharap masih akan ada 3rd anniversary, 4th anniversary dan seterusnya dari pernikahan gue. Semoga masalah-masalah yang timbul selama perjalanan pernikahan gue dan isteri bisa kami pecahkan bersama-sama dengan cara yang cantik, kayak kata instruktur gue itu. Semoga rejeki kami makin lancar (…beeuuh, doa ini pasti ngga pernah ketinggalan) dan kalo memungkinkan si Alif bisa punya adek lagi (we surely won’t give a name like Ba, Ta or Tsa for our future kids).

Kembali ke Armand Maulana tadi…kenapa sih dia ngga ngasih judul lagunya “12 Januari” aja? Mungkin karena 12 dinyanyiin dengan 4 suku kata (du-a-be-las), jadi ngga masuk dengan iramanya yang hanya 3 suku kata (se-be-las)….[analisa yang ngga penting]. Kami telah mencoba berkali-kali di karaoke dan emang pengucapan angka 12 terkesan maksa. Tapi kuat dugaan gue, si Armand nulis judul 11 Januari itu sebagai pembeda aja, untuk menghindari tuntutan kompensasi dari gue karna make kisah hidup gue buat dikomersilkan…[halah…masih aja maksa!!!]

 
2 Comments

Posted by on January 13, 2009 in Santai

 

Makroekonomi vs Mikroekonomi

Topik yg too dummy, tapi menurut gue jargon umum ini perlu dipahami. Kalau kita lagi ngomongin masalah tingkat inflasi, tingkat pengangguran yang makin parah di Indonesia, kebijakan moneter dan fiskal yang diambil oleh Ibu Menkeu Sri Mulyani atau kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam mengontrol nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, itu artinya kita sedang membicarakan masalah MAKRO EKONOMI.

Kalau kita ngomongin masalah strategi Telkomsel untuk menambah jumlah pelanggannya atau strategi PT Semen Gresik memperoleh supply bahan bakunya dengan harga yang paling menguntungkan atau strategi si Badu untuk mengelola gaji yang diperolehnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, itu artinya kita sedang membicarakan masalah MIKRO EKONOMI.

Sederhananya, kalau kita nemuin berita, bacaan atau cuap-cuap jurkam partai politik  mengenai masalah yang berhubungan dengan perekonomian negara atau kebijakan pemerintah terkait masalah perekonomian, that’s macroeconomics, dude.. Kalau pembahasan itu seputar masalah di lingkup perusahaan atau individu, that’s microeconomics.

 
1 Comment

Posted by on January 7, 2009 in Macroeconomics for Dummies