RSS

Sistem Penilaian Kinerja

29 Jul

Sewaktu gue masih kuliah di salah satu kampus plat merah di Padang, ada salah seorang dosen pengajar mata kuliah Teori Akuntansi yang sangat old fashioned (…hmmm…padahal masa itu adalah pertengahan tahun 90an, gimana jadulnya ya?:-D) Gue ngga bermaksud mengomentari cara berpakaiannya karena cara mengajarnya lah yang old fashioned. Umurnya sudah lebih dari setengah abad. Mengajar akuntansi sejak mata kuliah itu masih bernama Tata Buku. Pola mengajarnya satu arah, tidak komunikatif dan tidak melibatkan mahasiswa untuk terlibat aktif dalam diskusi. Ia akan terus berbicara sampai topik bahasannya yang direncanakan pada sesi itu selesai, dan diakhiri dengan pertanyaan,” Ada yang belum paham dan ingin ditanyakan?”. Tapi ada satu hal yang justru dimasa itu dianggap sebagai sesuatu yang masih baru dan belum lazim digunakan dikalangan akademisi yaitu sistem penilaiannya.

Pak Sutan, anggap saja demikian namanya, menggunakan sistem penilaian untuk mata kuliahnya berdasarkan prinsip kurva normal (bell shape curve). Dengan sistem ini, dimana besaran nilai yang berlaku adalah A, B, C, D dan E (A terbaik dan E tidak lulus), maka akan ada beberapa mahasiswa yang mendapat nilai A dan sudah pasti juga akan ada mahasiswa yang mendapat nilai E. Bagian terbesar dari mahasiswa akan memperoleh nilai C. Dari contoh gambar kurva normal berikut, misalkan proporsi yang ditetapkan adalah 5% dari jumlah mahasiswa mendapat nilai A, 20% mendapat nilai B, 50% nilai C, 20% nilai D dan 5% nilai E. Maka dari 40 orang mahasiswa yang mengambil mata kuliah dengan beliau, hanya ada 2 orang yang mendapat nilai A, dan ‘harus’ ada 2 orang pula yang mendapat nilai E alias ngga lulus. Kebanyakan diantara mahasiswa, dan untungnya (apa sialnya?) gue termasuk diantaranya, mendapat nilai C.

kurva normal Sejatinya sistem penilaian seperti itu akan membangkitkan semangat berkompetisi dikalangan mahasiswa karena ngga peduli setinggi apapun nilainya, kalau udah ada 2 orang mahasiswa yang dapat nilai A, maka ia harus rela ‘turun’ menjadi nilai B. Nah, kalau si mahasiswa itu sadar bahwa banyak diantara teman-temannya yang pintar dan rajin belajar, maka otomatis ia akan terpacu untuk ikut belajar lebih giat. Karena ia tau meskipun nilainya secara teknis memenuhi syarat kelulusan suatu mata kuliah, tapi karena ia adalah bagian dari 5% mahasiswa dengan nilai terbawah, maka ia harus menerima nilai ‘E’ dan engga lulus!!

Di tempat gue kerja sekarang, penilaian kinerja juga menggunakan sistem yang kurang lebih sama dengan sistem penilaian Pak Sutan. Kinerja unit dan kantor cabang dibuat oleh kantor pusat pada score sheet berdasarkan parameter tertentu, dengan bobot masing-masingnya yang berbeda-beda pula. Yudisium akhir penilaian kinerja yaitu: buruk, kurang, baik, memuaskan dan sangat memuaskan. Berapa persentase karyawan unit tersebut mendapat yudisium tertentu di tetapkan dengan formula yang dibuat oleh kantor pusat dengan menganut faham Distribusi Normal. Artinya, berapapun skor individual anda tidak menentukan yudisium yang akan diperoleh selama masih banyak karyawan lain yang skornya lebih tinggi dari anda. Sampai disini semuanya masih terlihat fair. Masalahnya justru pada implementasinya. Di banyak unit (dan juga di tempat gue), skor individual yang dibuat atasan langsung anda akan diutak-atik oleh pemimpin unit, si raja kecil, dengan berbagai pertimbangan. Halaah…yang begini nih yang selalu merusak tatanan. Berbagai alasan dijadikan justifikasi kenapa si anu nilainya harus dikatrol, kenapa si anu nilainya harus mengalah. Lha, kalau begini mah bukannya memacu semangat untuk berkompetisi, yang ada malah karyawan jadi malas-malasan. Toh yang menentukan skor pada akhirnya adalah si raja kecil. “…Dan lidah-lidah pun jadi makin panjang terjulur dan bokong si raja kecil jadi makin licin”

 
15 Comments

Posted by on July 29, 2009 in Serius Tapi Santai

 

15 responses to “Sistem Penilaian Kinerja

  1. Ade

    July 29, 2009 at 12:54 pm

    waa kalo gitu pastinya akan banyak yang kissing as* untuk menyenangkan hati sang raja kecil ya uda😆

     
  2. arman

    July 29, 2009 at 4:33 pm

    tentang penilaian pas kuliah: gak setuju nih sistem begini. jadi untung2an dong sekelas ama siapa aja. kalo pas pinter2 semua, masa tetep ada yang gak lulus? gak adil dong… trus kalo pas kebetulan sekelas bego2 semua, masa walaupun nilainya katakanlah cuma 20 (yang lain 0 semua soalnya) tetep lulus dengan nilai A? gak bener dong ya kualitas lulusannya…

    tentang penilaian di kantor: udah biasa ya emang begitu. pasti nilai tuh udah diatur begini begono. jadi gak objektif lagi.

     
  3. vizon

    July 29, 2009 at 11:44 pm

    memang cara penilaian yang tak lazim. tapi, justru itu lazim untuk tidak ditiru, hehehe…

    setuju dengan arman, bahwa sistem penilaian seperti itu tidak fair. parameternya aneh dan sangat merugikan mahasiswa. sepertinya si bapak kudu memahami lagi filosofi nilai dalam pembelajaran. kesalahan fatal beliau adalah memandang pendidikan seperti perusahaan. ya jelas keduanya berbeda! tapi beliau sudah pensiun kan?😆

     
  4. marshmallow

    July 30, 2009 at 1:14 am

    sistem penilaian normatif semacam itu memang memiliki kelemahan dan kelebihan, begitupun sistem sebaliknya yang berbasis kriteria. sementara sistem normatif menghendaki setiap kelas memiliki profil yang seragam agar adil (dalam arti yang berhak lulus pada kelas ini sama dengan yang berhak lulus pada kelas lain), sistem kriteria menghendaki kualitas soal yang benar-benar valid dan reliabel, yang sejauh ini sangat sulit tercapai. nah, masing-masing punya kelemahan dan kekuatan yang seimbang.

    dengan begitu, bila salah satu ketetapan telah digunakan, hendaknya konsisten, jangan ada intervensi raja-raja kecil yang malah bikin rusuh itu. atmosfir kompetisi sehat jadi porak-poranda dibuatnya.

     
  5. arham blogpreneur

    July 30, 2009 at 11:34 am

    jadi berpikir…. kenapa ngak parameter kerja di publish dan transparant plus , penilaian dikembalikan bukan pada siraja kecil tapi pada karyawan laennya. tentu memanfaatkan jaringan social media yang bersifat intrannet, seperti yammer misalnya.

    Hanya mampukah perusahaan yang sudah enjoy dengan iklim konventional mau berubah ??

     
  6. DV

    July 30, 2009 at 11:26 pm

    Hehehehe suka tulisan ini, mbikin ingat jaman kuliah dulu🙂 Menurutku sih memang lebih baik pake sistem terdistribusi seperti itu jadi perhitungan tinggi rendah ditentukan oleh peserta/orang yang dinilai itu sendiri. Sehingga kalau sudah begitu tak kan ada lagi lidah yang semakin menjulur panjang ituw🙂

     
  7. imoe

    July 31, 2009 at 6:25 am

    Waduhhh kok kayaknya kalo di dunia kerja kejam amat siy menggunakan sistem itu…

     
  8. Anderson

    July 31, 2009 at 9:48 am

    @Ade
    Ya…makanya lidah-lidah akan semakin panjang terjulur untuk licking as*…hehehe

    @Arman
    hahaha…untungnya sistem kek gitu ngga berlaku umum di kampus:-D Itu hanya ada di mata kuliah si Bapak ntu..

    @vizon
    Hmm…seharusnya sih udah pensiun, Uda..🙂

    @marshmallow
    …..glek…. gitu ya, Uni? Wah, musti diulang beberapa kali mbaca komentar Ibu Dosen nih, biar mudeng😀

    @arham
    Yammer? well, Bro… karna saya rada-rada gaptek, jadi ya, atur aja deh sama Mas Arham🙂 Oiya, kunjungan balik ke blog kamu udah dilakukan tapi blom sempat ninggalin jejak. I’ll b back soon..

    @DV
    Yah…terlepas dari sistem penilaian seperti apapun yang akan digunakan, lidah-lidah itu akan tetap terjulur ke arah para raja, Bro… at least for other purposes

    @Imoe
    Kejam..kejam..kejam… That’s life😀

     
  9. Yari NK

    August 1, 2009 at 3:09 am

    Sebenarnya kriteria penilaian apapun yang diterapkan, tidaklah bermasalah, asalkan pada implementasinya, peraturan tersebut harus dipatuhi oleh semua fihak termasuk mereka yang membuat peraturan tersebut. Masalahnya semua akan menjadi kacau jika si pembuat aturan mulai melenceng dari kriteria yang dipilihnya sendiri dengan menerapkan sistem favoritisme yang subyektif itu misalnya.🙂

     
  10. Yari NK

    August 1, 2009 at 3:11 am

    Loh… kok komentarku nggak muncul?? Masuk spam ya??😦

     
    • soyjoy76

      August 3, 2009 at 1:25 am

      Oalaah…Pak Yari, maap kalo komennya masuk Spam, saya ndak tau kenapa..bukan saya yang suruh ngeblok komen Pak Yari loh😀

      Itulah Pak,penilaian kinerja akan selalu ada unsur subyektifnya, asal ngga keterlaluan. Karna kalau penilaian diserahkan sepenuhnya kepada sistem, katakanlah skoring, tanpa human touch, mungkin juga hasilnya akan terlalu kaku…

       
  11. Eka Situmorang-Sir

    August 6, 2009 at 3:07 am

    Semua sistem ada baik dan buruknya, ya seperti postingan yang satulagi. Sebaik – baiknya suatu sistem… it’s the man behind it who can make it good or bad.

    Kembali ke manusianya….

     
  12. nh18

    August 6, 2009 at 5:16 am

    Ini yang biasa diperhalus dengan menyebut …
    “Proses Bending” dan “Calibrating”

    hehehe

     
  13. soyjoy76

    August 6, 2009 at 7:47 am

    @Eka
    bisa aja Ito ini menghubungkannya dengan posting saya yang lain…😀

    @nh18
    Ya Om, biarpun istilahnya diperhalus, efeknya sama buat si objek penilaian..

     
  14. Josep Ginting

    September 2, 2014 at 11:07 pm

    apakah metode penilaian tersebut sama dengan Normative Reference Evaluation atau biasa disebut PAN?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: