RSS

Mafia Berkeley

21 Jan

godfather1Gue suka banget sama film trilogi The Godfather. Di film tentang mafia itu, Don Corleone jadi tokoh yang sangat dihormati sekaligus paling ditakuti. Dihormati karena ia memberikan kesejahteraan, perlindungan dan kehormatan bagi pengikutnya. Ditakuti karena ia sangat keras dan mematikan bagi orang-orang yang menentangnya. Mafia, meskipun ngga pake Akta Pendirian, menjelma menjadi kekuatan yang menentukan dan sangat berpengaruh di Chicago. Ia menyusupkan anggotanya dipemerintahan, kepolisian dan kejaksaan untuk mempengaruhi setiap kebijakan agar ngga ngutak-atik bisnisnya, baik yang halal maupun haram. Organisasi ini (sekali lagi: ngga pake Akta Pendirian, jadi ngga bisa dibuktiin keberadaannya secara hukum) tersusun sangat rapi, kebal hukum dan terus menciptakan kader-kader baru untuk melanjutkan bisnisnya.

Itu mafia asal kepualuan Sisilia, Italia. Lha…emangnya di Berkeley juga ada mafia? Entahlah. Yang jelas you ngga bakal nemuin akta pendirian organisasi ini di Departemen Hukum dan HAM republik ini (biarpun nyarinya pake sisminbagkum yang pengadaannya sarat korupsi itu…hehehe). Kalau you aja ngga bisa ngebuktiin keberadaan Mafia Berkeley di Indonesia, apalagi gue! Biarlah ekonom profesional yang ngebuktiinnya. Ekonom amatir (me, you dummies…!!) cukup ngasih overview aja tentang apa itu Mafia Berkeley.

Istilah Mafia Berkeley, entah siapa yang ngasih, merujuk pada ahli-ahli ekonomi Indonesia di jaman awal pemerintahan Eyang Harto yang menentukan arah kebijakan perekonomian negara ini. Wajar. Eyang Harto kan tentara yang tentu saja kemampuan utamanya adalah berperang. Jadi doi butuh nasihat-nasihat canggih dari para begawan ekonomi biar pemerintahannya berhasil secara poleksosbudhankam (…halah…korban penataran P4). Mafia Berkeley kerjanya ngga ngebunuh orang-orang kayak Don Corleone. Kebijakan makro ekonomi yang mereka terapkan di Indonesialah yang dianggap oleh banyak pihak sebagai biang terpuruknya ekonomi Indonesia saat ini (meski sempat berkembang pesat secara semu). Empat pilar utama kebijakan Mafia Berkeley ini, liberalisasi keuangan, liberalisasi perdagangan, kebijakan uang ketat dan privatisasi ditengarai (maafkan bahasanya yang sok jurnalis) merupakan titipan dari ‘The Godfather’ untuk kepentingan dunia Barat.

Para ahli ekonomi ini adalah lulusan University of California, Berkeley, Amerika Serikat yang disekolahin pake beasiswa Ford Foundation. Siapa aja yang jadi anggota Mafia Berkeley itu? Psst…. kayak mafioso Sisilia itu, anggota Mafia Berkeley juga ngga bisa diidentifikasi secara pasti, karna ngga ada akta pendiriannya. Lha wong ‘organisasi’ nya juga ngga terdaftar dimana-mana. Kebanyakan ‘anggota’ nya menjabat berbagai posisi penting dipemerintahan kayak Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Subroto, JB. Sumarlin dan Adrianus Mooy. Dikabinet SBY sekarang kader-kadernya juga ada lhoo…

Okelah… siapapun mereka, buat yang kontra Mafia Berkeley dianggap sangat pro Amerika (lah yang ngasih beasiswa si Paman Sam ini…) Kebijakan liberalisasi keuangan dan liberalisasi perdagangan dipaksakan biar AS dan negara-negara Barat bisa ngubek-ubek pasar Indonesia. Privatisasi dilakukan sesuai ‘petunjuk’ Washington melalui butir-butir rekomendasi IMF. Indonesia di biarkan terus terpuruk di jurang hutang yang dalam, gali lubang tutup lubang. Intinya, ketergantungan Indonesia kepada si paman harus dipertahankan dengan cara apapun. Logis. Namanya orang berhutang, pasti banyak sungkannya dan jadi penurut ke yang ngutangin.

Sekali lagi… Semua itu hanya dugaan. Siapa yang bisa mastiin kalo keputusan para menteri yang sejalan dengan keinginan Washington itu memang pesanannya sang paman? Siapa tau kebijakan ngambil hutang lagi atau kebijakan ngejual saham perusahaan-perusahaan strategis milik negara memang mendesak dan sesuai dengan kondisi saat itu?

 
2 Comments

Posted by on January 21, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

2 responses to “Mafia Berkeley

  1. FK

    January 22, 2009 at 4:48 am

    University of California at Berkeley, tepatnya memang banyak melahirkan pembuat skenario ekonomi di negeri ini. Konsep mininya adalah membuat sejahtera segelintir pihak yang kemudian “diharapkan” dapat membuat trickle-down effect kepada masyarakat bawah secara “merata”. Sebanarnya hal ini juga sudah dkritik mahasiswa zaman itu sehingga meletuskan peristiwa “Malari”. Indikator makro dianggap sebagai lambang keberhasilan tanpa melihat kondisi riil di lapangan (rakyat bawah-red). “Widjojonomics” memang telah gagal (kalau bisa dikatakan demikian) membawa bangsa ini ke arah kesejahteraan (konsep Welfare State-Kranenburg) di usianya ke 63 saat ini. Sungguh sangat miris dan menyakitkan…, tapi apa boleh buat, kita terlahir sebagai WNI.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: