RSS

Category Archives: Macroeconomics for Dummies

Makro ekonomi tak jarang dipandang sebagai disiplin ilmu yang eksklusif dan susah di pahami oleh awam. Makro ekonomi adalah makanan para analis ekonomi dan komentator di televisi dan radio atau politisi yang mengincar posisi-posisi strategis negaranya. Tapi sebenarnya makro ekonomi dapat dipahami dari kondisi sehari-hari di sekitar kita. Bahkan masyarakat awam sebaiknya paham dasar-dasar pemikiran yang melandasi kebijakan-kebijakan makroekonomi suatu negara dan janji-janji kesejahteraan yang dibuat para juru kampanye dari partai-partai politik itu. Tujuannya ya supaya kita tidak hanya menjadi obyek pembodohan dengan mengatasnamakan isu-isu perekonomian yang muluk-muluk. Saatnya kita melek makroekonomi…

They Call It Systemic Risk

They Call it Systemic Risk. Do you think so?

Advertisements
 
8 Comments

Posted by on December 23, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

Tags: ,

Windfall Profit

Dalam ilmu ekonomi dikenal istilah windfall profit atau bahasa awamnya, rejeki nomplok alias ketiban duren dari langit. Istilah ini biasa digunakan untuk menunjukkan keuntungan yang diperoleh suatu negara atau perusahaan dari kejadian yang tidak di duga sebelumnya. Waktu harga minyak bumi naik tinggi akibat perang di Irak, negara-negara penghasil minyak diam-diam tersenyum riang karena dollar mengalir deras ke rekening bank mereka. Itu windfall profit. Pun ketika nilai tukar dollar naik gila-gilaan terhadap rupiah waktu krisis moneter tahun 1998, para eksportir yang penghasilannya dalam dollar bersiul-siul kegirangan. Itu juga windfall profit. Layaknya hukum kekekalan energi (jieeh…suit…suit… padahal pas SMA dulu nilai IPA gue pas-pasan kok :-), diantara yang profit selalu ada yang loss. Ketika negara-negara penghasil minyak bumi tersenyum riang, negeri pengimpor minyak pada manyun, tekor, nombok dan harus ngeluarin uang ekstra untuk beli minyak. Ketika eksportir Indonesia beriul-siul kegirangan, importir yang kudu merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan dollar buat membayar pembeliannya pada terjengkang, mumet dan stress berat.Ā  Read the rest of this entry »

 
14 Comments

Posted by on October 13, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

Wimbledon Effect

wimbledon 2

Dari serangkaian turnamen tenis grand slam yang diadakan setiap tahunnya, Australia Open, French Open, Wimbledon dan US Open, Wimbledon memiliki catatan unik dibanding ketiga turnamen prestisius itu. Bukan karena turnamen di negeri David Beckham ini menggunakan lapangan rumput (please, jangan membayangkan rumput gajah dihalaman rumah saodara-sodara šŸ˜€ ). Bukan pula karena hadiah uang buat kampiunnya merupakan jumlah tertinggi dibanding yang lainnya. Fakta sejarah mencatat bahwa di turnamen Wimbledon yang sudah dimulai sejak tahun 1877 ini sudah lama sekali dikuasai oleh petenis-petenis asing. Terakhir kali petenis tunggal putra asal Inggris menjadi juara Wimbledon adalah tahun 1936! Masuk babak final pun dilakoni terakhir kali pada tahun 1938. Prestasi tunggal putri masih sedikit mendingan. Petenis putri asal Inggris yang terakhir kali jadi juara wimbledon adalah tahun 1977. Read the rest of this entry »

 
16 Comments

Posted by on August 14, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

Kalo Negara Gue Miskin, Emang Kenapa?

Dalam suatu kesempatan mengikuti konferensi global AIESEC di Basel, Swiss waktu masih mahasiswa dulu, gue bersusah payah mencari sponsor yang bersedia mendanai keberangkatan itu. Maklum, kota Padang hanyalah sebuah kota yang ngga terlalu besar dengan dunia bisnis yang ngga terlalu berkembang. Perusahaan yang bisa didatangi dan diajak bekerjasama mendanai aneka kegiatan mahasiswa pun itu-itu aja. Bisa dibayangkan gimana kerasnya perjuangan mendapatkan sponsor di kota itu. Meski urusan sponsor belum menunjukkan titik terang, gue nekat ngurus visa dan lain-lain make celengan sendiri. Untunglah sampai 3 minggu menjelang keberangkatan gue, pihak kampus Universitas Andalas tercinta :-), Dinas Pariwisata dan sebuah pabrik semen satu-satunya di Sumatera Barat berkenan menjadi sponsor. Yah lumayanlah, buat bekal di negeri orang. Soalnya tiket PP udah ditanggung sama panitia.

Read the rest of this entry »

 
27 Comments

Posted by on June 15, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

Maaf

Alkisah zaman dahulu kala, ketika Nabi Muhammad SAW masih berdakwah menyiarkan islam di tanah Arab, ada seorang Yahudi yang selalu meludahi Beliau setiap kali melewati rumahnya. Suatu saat selama beberapa hari sang Nabi lewat didepan rumah si Yahudi tanpa diludahi. Beliau pun diberitahu bahwa ternyatasi Yahudi sedang terkapar sakit dirumahnya. Alih-alih senang dan mensyukuri si Yahudi kualat itu, Nabi Muhammad malah mengunjunginya dan mendoakan semoga ia cepat sembuh. Si Yahudi trenyuh karena sifat pemaaf Beliau yang demikian tulus.

Lho, ada apa ini? Kok tiba-tiba Soyjoy jadi majlis ta’lim begini? Hehehe…. gue cuma ngasih ilustrasi pembuka aja sekedar untuk mengingatkan sosodara tentang sifat pemaaf. Sifat Pemaaf itu amat mulia sosodara

*curiga* Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on February 25, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

Tags: ,

Championship Manager, Barrack Obama, SBY

Diakhir tahun 90an sampai awal tahun 2000 gue terkena demam hebat. Kalo malam susah tidur, kalo siang kepala cenut-cenut (other term perhaps: cekot-cekot). Gejala lain, muka pucat, gairah kerja menurun. Nama demamnya Championship Manager. Ini adalah salah satu game strategi favorit gue, sebagai komplementer untuk penyakit gue yang lain, Gila Bola!! Periode itu adalah masa-masa dimana gue sepulang kantor langsung nge-game sampe tengah malam, yang menimbulkan gejala seperti gue sebutkan diatas tadi.

Buat yang blom pernah maen game ini, gue jelasin dikit yah.. Kamu berperan sebagai manajer tim sepakbola, mengatur taktik permainan, mengatur pembelian dan penjualan pemain, sampai mengatur berapa kamu ingin menggaji seorang Fernando Torres, misalnya. Kesulitannya adalah, kondisi keuangan klub dan harga pemain bintang dibuat serealistis mungkin. Jadi kalo gue jadi manajer klub favorit gue yang terkenal pelit ngeluarin uang di masa itu, Liverpool, gue sering kecewa ngga bisa beli pemain bintang inceran gue karna pemilik ngga ngasih uang. Untunglah gue dikasih cheat code (kode rahasia untuk maen game dengan fasilitas yang sengaja ngga dicantumkan di petunjuk permainannya) sama temen gue, yang membuat segalanya jadi mudah. Keuangan Liverpool jadi unlimited. Alhasil, tim Liverpool gue ketika itu diperkuat oleh Zidane, Batistuta, Ronaldo (the tonggos) dan Roberto Carlos, semuanya bintang dan pemain termahal di zamannya. Juara liga Inggris sampai juara Liga Champion Eropa pun gue dapat dengan mudah. Read the rest of this entry »

 
7 Comments

Posted by on February 18, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

Tags: , , ,

Valentine

Ngga tahan juga ngga nulis soal valentine day. Coba aja blogwalking pada V-1, hari V dan V+1 (V=Valentine Day… šŸ™‚ ), pasti banyak banget yang nulis tentang hari cayang-cayangan ini. Aroma valentine memang masih kental menyelimuti kehidupan masyarakat kota. Waktu gue sama isteri lagi mallwalking (jalan-jalan di mal, sosodara…) di sebuah pusat perbelanjaan di kota gue pas tanggal 14 itu, gue dijebak untuk ‘secara ngga langsung’ merayakannya. Ceritanya gue sama isteri lagi jalan berduaan karna anak bayi kami, my beloved Alif lagi ngelayap di sisi lain mal itu. Kebetulan ada acara Valentine yang kurang lebih kegiatannya ‘nangkepin’ pasangan-pasangan yang lagi berbelanja (atau cuma jalan-jalan aja..) untuk kemudian si pria diminta untuk membacakan puisi cinta ke si wanita (asumsi ini adalah pasangan normal, pria-wanita). Kami tertangkap. Bodo ah… gue nurut aja disuruh membacakan puisi cinta picisan yang telah disiapkan oleh host acara itu karna di iming-imingi coklat. Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by on February 16, 2009 in Macroeconomics for Dummies