RSS

Category Archives: Macroeconomics for Dummies

Makro ekonomi tak jarang dipandang sebagai disiplin ilmu yang eksklusif dan susah di pahami oleh awam. Makro ekonomi adalah makanan para analis ekonomi dan komentator di televisi dan radio atau politisi yang mengincar posisi-posisi strategis negaranya. Tapi sebenarnya makro ekonomi dapat dipahami dari kondisi sehari-hari di sekitar kita. Bahkan masyarakat awam sebaiknya paham dasar-dasar pemikiran yang melandasi kebijakan-kebijakan makroekonomi suatu negara dan janji-janji kesejahteraan yang dibuat para juru kampanye dari partai-partai politik itu. Tujuannya ya supaya kita tidak hanya menjadi obyek pembodohan dengan mengatasnamakan isu-isu perekonomian yang muluk-muluk. Saatnya kita melek makroekonomi…

Mafia Berkeley

godfather1Gue suka banget sama film trilogi The Godfather. Di film tentang mafia itu, Don Corleone jadi tokoh yang sangat dihormati sekaligus paling ditakuti. Dihormati karena ia memberikan kesejahteraan, perlindungan dan kehormatan bagi pengikutnya. Ditakuti karena ia sangat keras dan mematikan bagi orang-orang yang menentangnya. Mafia, meskipun ngga pake Akta Pendirian, menjelma menjadi kekuatan yang menentukan dan sangat berpengaruh di Chicago. Ia menyusupkan anggotanya dipemerintahan, kepolisian dan kejaksaan untuk mempengaruhi setiap kebijakan agar ngga ngutak-atik bisnisnya, baik yang halal maupun haram. Organisasi ini (sekali lagi: ngga pake Akta Pendirian, jadi ngga bisa dibuktiin keberadaannya secara hukum) tersusun sangat rapi, kebal hukum dan terus menciptakan kader-kader baru untuk melanjutkan bisnisnya.

Itu mafia asal kepualuan Sisilia, Italia. Lha…emangnya di Berkeley juga ada mafia? Entahlah. Yang jelas you ngga bakal nemuin akta pendirian organisasi ini di Departemen Hukum dan HAM republik ini (biarpun nyarinya pake sisminbagkum yang pengadaannya sarat korupsi itu…hehehe). Kalau you aja ngga bisa ngebuktiin keberadaan Mafia Berkeley di Indonesia, apalagi gue! Biarlah ekonom profesional yang ngebuktiinnya. Ekonom amatir (me, you dummies…!!) cukup ngasih overview aja tentang apa itu Mafia Berkeley.

Istilah Mafia Berkeley, entah siapa yang ngasih, merujuk pada ahli-ahli ekonomi Indonesia di jaman awal pemerintahan Eyang Harto yang menentukan arah kebijakan perekonomian negara ini. Wajar. Eyang Harto kan tentara yang tentu saja kemampuan utamanya adalah berperang. Jadi doi butuh nasihat-nasihat canggih dari para begawan ekonomi biar pemerintahannya berhasil secara poleksosbudhankam (…halah…korban penataran P4). Mafia Berkeley kerjanya ngga ngebunuh orang-orang kayak Don Corleone. Kebijakan makro ekonomi yang mereka terapkan di Indonesialah yang dianggap oleh banyak pihak sebagai biang terpuruknya ekonomi Indonesia saat ini (meski sempat berkembang pesat secara semu). Empat pilar utama kebijakan Mafia Berkeley ini, liberalisasi keuangan, liberalisasi perdagangan, kebijakan uang ketat dan privatisasi ditengarai (maafkan bahasanya yang sok jurnalis) merupakan titipan dari ‘The Godfather’ untuk kepentingan dunia Barat.

Para ahli ekonomi ini adalah lulusan University of California, Berkeley, Amerika Serikat yang disekolahin pake beasiswa Ford Foundation. Siapa aja yang jadi anggota Mafia Berkeley itu? Psst…. kayak mafioso Sisilia itu, anggota Mafia Berkeley juga ngga bisa diidentifikasi secara pasti, karna ngga ada akta pendiriannya. Lha wong ‘organisasi’ nya juga ngga terdaftar dimana-mana. Kebanyakan ‘anggota’ nya menjabat berbagai posisi penting dipemerintahan kayak Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Subroto, JB. Sumarlin dan Adrianus Mooy. Dikabinet SBY sekarang kader-kadernya juga ada lhoo…

Okelah… siapapun mereka, buat yang kontra Mafia Berkeley dianggap sangat pro Amerika (lah yang ngasih beasiswa si Paman Sam ini…) Kebijakan liberalisasi keuangan dan liberalisasi perdagangan dipaksakan biar AS dan negara-negara Barat bisa ngubek-ubek pasar Indonesia. Privatisasi dilakukan sesuai ‘petunjuk’ Washington melalui butir-butir rekomendasi IMF. Indonesia di biarkan terus terpuruk di jurang hutang yang dalam, gali lubang tutup lubang. Intinya, ketergantungan Indonesia kepada si paman harus dipertahankan dengan cara apapun. Logis. Namanya orang berhutang, pasti banyak sungkannya dan jadi penurut ke yang ngutangin.

Sekali lagi… Semua itu hanya dugaan. Siapa yang bisa mastiin kalo keputusan para menteri yang sejalan dengan keinginan Washington itu memang pesanannya sang paman? Siapa tau kebijakan ngambil hutang lagi atau kebijakan ngejual saham perusahaan-perusahaan strategis milik negara memang mendesak dan sesuai dengan kondisi saat itu?

 
2 Comments

Posted by on January 21, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

Hot Money

Gue bukan lagi mau ngomongin uang sogokan yang dibagi-bagi ke para anggota dewan di republik ini. Bukan juga mau ngomongin soal uang yang diperoleh dari bisnis haram semisal jual narkoba, prostitusi atau judi (mmhh…kalo uang jenis ini ada kaitannya juga sih). Trus apa donk? Yang lagi gue omongin ini adalah jargon ekonomi untuk uang dalam jumlah besar, dengan angka nol bisa mencapai 10 digit, dalam dolar amrik pula, yang bisa berpindah dari satu negara ke negara lain selama bisa ngasih keuntungan buat para pemiliknya.

Siapa aja pemilik hot money itu? Pemiliknya ya bisa siapa aja, investor kelas kakap dari berbagai negara (masih inget sama George Soros yang ngubek-ngubek perekonomian Indonesia pas krismon tahun 1998?), bandar judi, koruptor dan mafia yang mau nyuci uangnya biar kelihatan halal atau pemda di republik ini yang berwawasan global (..cuih…uang itu harusnya digunakan untuk pelayanan masyarakat bung…) Oiya…semua pemilik uang panas ini ngga secara langsung menginvestasikan uangnya tapi menggunakan jasa lembaga keuangan atau fund manager.

Gimana caranya? Mereka akan menginvestasikan uangnya di negara-negara yang ngasih keuntungan paling tinggi. Misalnya tingkat bunga deposito atau simpanan di Thailand sedang tinggi-tingginya, maka berbondong-bondonglah uang panas itu masuk ke Thailand. Atau waktu pasar modal Indonesia lagi bagus-bagusnya dengan kenaikan harga saham yang relatif tinggi, beredarlah uang panas itu di Indonesia melalui pasar modal (Bursa Efek Indonesia….kalo ada yang ngga tau). Pokoknya miliaran dolar itu akan datang dan pergi dari suatu negara ke negara yang lain yang paling memberi keuntungan buat mereka. In a blink of an eye…thanks to global economics and information system!! [ mecoba untuk sarkastik ]

Gimana dampaknya terhadap perekonomian suatu negara? Hot money masuk ke suatu negara, baik berupa penempatan dana di deposito ataupun investasi di pasar modal, melalui sistem perbankan negara tersebut. Namanya uang masuk ya kudu lewat bank sentral ( Bank Indonesia…you dummies;-p) dan itu di bank sentral tercatat dalam cadangan devisa. Tahun 2006 (maap datanya ngga gitu update sosodara..) dari US$ 40 miliaran cadangan devisa Indonesia ternyata +US$ 10 miliar adalah hot money. Positifnya adalah (dan ini relatif, tergantung yang ngebacanya eksportir apa importir), biasanya uang panas yang masuk itu dalam US dolar. Sesuai hukum dasar perekonomian, kalau penawaran meningkat lebih tinggi dari permntaan, maka harga akan turun. Demikian pula dengan nilai tukar uang Paman Sam ini. Jutaan atau bahkan miliaran dolar yang yang masuk Indonesia akan mengatrol turun nilai dolar (secara teori lho, boss..)

Tapi kayak yang tadi gue bilang, uang panas itu bisa dipindahkan ke negara lain dalam sekejap mata. Kalo uangnya dah kabur, mau ngga mau cadangan devisa jadi turun. Kalau cadangan devisa turun, BI susah mau intervensi kalo kurs rupiah gonjang-ganjing. Supply dolar turun drastis artinya nilai tukar dolar amrik bisa ngamuk lagi. Pasar modalpun jadi lesu darah karna di tinggal pemodalnya. Dampak selanjutnya? Help me out, guys….

 
4 Comments

Posted by on January 14, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

Makroekonomi vs Mikroekonomi

Topik yg too dummy, tapi menurut gue jargon umum ini perlu dipahami. Kalau kita lagi ngomongin masalah tingkat inflasi, tingkat pengangguran yang makin parah di Indonesia, kebijakan moneter dan fiskal yang diambil oleh Ibu Menkeu Sri Mulyani atau kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam mengontrol nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, itu artinya kita sedang membicarakan masalah MAKRO EKONOMI.

Kalau kita ngomongin masalah strategi Telkomsel untuk menambah jumlah pelanggannya atau strategi PT Semen Gresik memperoleh supply bahan bakunya dengan harga yang paling menguntungkan atau strategi si Badu untuk mengelola gaji yang diperolehnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, itu artinya kita sedang membicarakan masalah MIKRO EKONOMI.

Sederhananya, kalau kita nemuin berita, bacaan atau cuap-cuap jurkam partai politik  mengenai masalah yang berhubungan dengan perekonomian negara atau kebijakan pemerintah terkait masalah perekonomian, that’s macroeconomics, dude.. Kalau pembahasan itu seputar masalah di lingkup perusahaan atau individu, that’s microeconomics.

 
1 Comment

Posted by on January 7, 2009 in Macroeconomics for Dummies