RSS

Introducing: Kayla Khairunnisa

25 Feb

Aku ingin menulis tentang seorang perempuan yang tak pernah kuceritakan sebelumnya di blog ini. Seorang perempuan cantik. Matanya bulat besar dan sedikit sipit dikedua ujung yang mengarah ke telinga. Kulitnya putih bersih dengan rambut pendek tidak terlalu hitam. Ketika tersenyum matanya menyipit, sungguh menggemaskan. Aku mengenalnya setahun yang lalu, di Pekanbaru…..

Namanya Kayla Khairunnisa. Kalau anda/ kamu/ elo pernah membaca tulisan ini maka, maka tentu paham kalau ini adalah adiknya Alif, anakku yang pertama. Ya, Kayla hadir didunia ini tepat setahun yang lalu, menggenapi kebahagian kami menjadi keluarga kecil dengan sepasang anak. Kehadirannya setelah tiga tahun kami menjalani hidup bertiga, aku, mama Alif dan Alif tentunya disambut dengan sukacita. Bahkan Alif tak sabar untuk segera menggendong adiknya, yang tentu saja terpaksa tidak kami izinkan mengingat Alif toh juga masih terhitung Balita. Tapi, seperti penantian kami waktu kelahiran Alif, hadirnya Kayla pun didahului momen-momen yang tak kurang menguji kesabaran dan kekuatan hati seorang Ibu.

Ketika usia kandungan Dian, mama Alif (eh…sekarang nggak bisa lagi ngomong gitu yah…mama Alif dan Kayla) udah lebih dari 4 minggu, aku membawa Dian check up ke dokter kandungan terkenal di Pekanbaru, yang kata orang merupakan adik (apa kakak yah?) dari Menpora saat ini. Ramah tamah bu dokter yang hangat dan setia meladeni kebawelan Alif  yang banyak nanya diruang pemeriksaan berubah menjadi sedikit tegang waktu beliau bilang: ” kayaknya ada masalah dikit, deh..” “Masalah apa bu dokter” Dian langsung nanya dengan wajah cemas. Bu dokter menjelaskan berdasarkan pengamatan pada hasil USG kalau janin yang dikandung Dian letaknya menutup jalan lahir, atau bahasa kedokterannya Placenta Previa. Bahaya ngga? “Silahkan googling aja, banyak referensi dan literatur yang membahas masalah placenta previa” kata Bu Dokter. Tesss… Dian langsung manyun, kenapa ni dokter malah ngomong gitu? Segitu beratnya kah masalah sampai-sampai beliau ngga mau jelasin? Atau malah ini masalah sepele yang cukup baca di internet dan langsung ada solusinya.

Singkat cerita, kami mencari second opinion dari dokter kandungan yang dulu ‘menyambut’ kelahiran Alif. Bu dokter senior ini membenarkan kondisi placenta previa itu berpotensi janinnya bisa luruh karena posisi menempel di dinding rahim tidak kuat. Namun beliau tidak membuatnya kedengaran menakutkan. Dian diberi obat-obatan untuk penguat rahim. Menurut bu dokter lagi, “seiring berkembangnya janin posisinya bisa aja bergeser kok sehingga nggak menutupi jalan lahir.” Alhamdulillah, Dian pun terlihat tenang kembali.

Demikianlah, konsultasi bulanan pun kami alihkan kembali ke dokter senior ini. Hari-hari selanjutnya kami mulai memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa, memohon agar amanah yang sedianya akan dititipkan-Nya kepada kami itu tetap terlaksana. Dian ku perhatiin semakin rajin ngaji (ehem… jadi malu sendiri). Obat-obatan yang per bijinya gede-gede banget itu tak pernah lupa diminumnya. Tekadnya jelas, bakal bayi ini harus dipertahankan dan semoga terlahir dengan selamat dan sehat.

Sebuah hadis dalam agamaku bermankna kurang lebih begini: “Allah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan ummatnya” Ya, tampaknya Sang Khalik menganggap keluarga kecil in masih layak diberi cobaan lebih lanjut, maka pada bulan ke tujuh bu dokter mengabarkan, berdasarkan USG, kondisi janin terlilit tali pusar. Oh ya.. terus gimana, batinku. Bu dokter bilang kondisi ini sedikit berbahaya pada saat persalinan namun pemantauan akan diintensifkan sebelum nantinya diputuskan apakah dapat dilahirkan secara normal atau operasi cesar. Oalah… bu dokter ini memang dikenal anti operasi cesar, sehingga terus menerus mengedukasi agar persalinan dilakukan secara normal, kecuali terpaksa. Buat saya dan istri, sejak divonis placenta previa, kami udah pasrah dan mempersiapkan diri untuk persalinan melalui operasi cesar. Dan ini udah kategori ‘terpaksa’. Singkat cerita, karena khawatir dipaksakan untuk persalinan normal, mendekati hari-H kamipun kembali ke bu dokter funky adik Pak Menpora tadi. Beliau lebih fleksibel, dan menyerahkan keputusan untuk persalinan normal atau operasi cesar kepada si Ibu.

Begitulah, 24 Februari 2011 aku berangkat ke Jakarta untuk ikut tes awal dari serangkaian tes menjadi International Banking Officer. Dian mengikhlaskan aku berangkat walaupun udah mendekati hari H kelahiran calon anak kedua kami, karena dia ngerti gimana pentingnya tes ini buatku. It’s a life time opportunity buatku kalau ingin ditempatkan di cabang luar negeri bank tempat ku bekerja. New York, London, Tokyo, Hongkong, Singapura… alangkah gagahnya kalau aku jadi bankir disalah satu kota tersebut. Selesai tes hari pertama jam 12 siang, Dian telpon. “Bang, perutku mules dari subuh tadi. Interval 10 menitan perut ini terasa mules”. OMG… dari literatur yang kubaca, itu udah saatnya si jabang bayi mbrojol. Tanpa pikir panjang, aku lapor ke panitia tes kalau aku harus balik ke Pekanbaru siang itu juga. “Lho, bentar lagi hasil tes pagi tadi keluar lho mas. Kalo lulus, langsung ikut tes tahap berikutnya jam 2 nanti. Ini sistem gugur” celoteh ibu gendut di bagian administrasi. “Ya ngga papa mbak, mau gimana lagi. Mungkin belum rejeki saya” jawabku. Siang itu akupun terbang ke Pekanbaru  (pakai pesawat tentunya, karna ku bukanlah Superman) untuk menyongsong amanah-Nya.

Sampai di Pekanbaru, Dian langsung kuungsikan ke rumah sakit tempat rencana operasinya akan dilaksanakan. Ternyata kata dokternya, masih nunggu besok operasinya. Ya sudahlah, tetap Dian kuinapkan dirumah sakit itu. Alif yang masih harus pegang kuping mamanya kalau mau tidurpun ikut menginap dirumah sakit.

Tanggal 25 Februari 2011, sampailah hari yang dinantikan itu. Tempat tidur Dian didorong menuju ruang operasi. Dian deg-degan. Aku deg-degan. Alif nunggu diruang inap sama pembokat. Sepanjang jalan aku berzikir memohon keselamatan istri dan anakku. Aku diizinkan masuk ke ruang operasi, tapi nggak boleh berdiri dekat istriku, walau sekedar untuk menenangkannya. Kira-kira sepuluh menit didalam, hadirlah anakku Kayla Khairunnisa ke dunia ini. Bu dokter menepuk-nepuk pantatnya  sebelum kemudian tangisannya terdengar nyaring mengharukan. Alhamdulillah. Aku bersujud syukur dan segera meng-qomat-kannya. Allah SWT berkenan memberi kami satu lagi amanah besar dan kami, aku dan istriku, bertekad tidak akan menyia-nyiakan amanah ini.

Selamat ulang tahun pertama anakku, permata hatiku. Semoga kelak engkau akan menerangi dunia dan menjadi sebaik-baiknya wanita, seperti arti namamu itu. Amiiiin…

 
5 Comments

Posted by on February 25, 2012 in Santai

 

5 responses to “Introducing: Kayla Khairunnisa

  1. Arman

    February 25, 2012 at 4:55 am

    happy birthday kayla!!🙂

    Kayla:
    Makaci ya Om Almaan…

     
  2. nh18

    February 25, 2012 at 10:28 am

    Wah …
    Kayla …
    Nanti kalau kayla sudah bisa baca …
    Kamu harus baca tulisan ayahmu yang satu ini ya Nak …

    Ibumu betul-betul menyabung nyawa untukmu
    Ayahmu merelakan semuanya, ikhlas untuk mu …
    demi untuk mu
    untuk Kayla …

    Jangan sekali-sekali engkau sakiti hati mereka

    Pak de Om NH tau benar … Orang Tuamu sangat mengasihi Kayla

    Selamat Ulang Tahun Keponakanku Sayang
    semoga sehat dan berbahagia selalu

    Kayla:
    Makaci Pak de…

     
  3. vizon

    February 26, 2012 at 3:23 pm

    Kehilangan kesempatan tes ke luar negeri itu masih bisa ditebus dengan tes-tes berikutnya, Son. Sementara kehilangan momen menyambut kelahiran sang buah hati, tidak pernah bisa ditebus dengan apapun. Aku sangat setuju dengan keputusanmu kala itu. Salut untuk itu, Son..

    Selamat ulangtahun, Kayla..
    Bersyukurlah memiliki Papa dan Mama yang luar biasa, dan kakak yang hebat juga tentunya..

    Salam hangat dari kami di Kweni🙂

    Kayla:
    Makaci Pak Uwo Vizon. Salam juga untuk keempat jagoan Pak Uwo di Kweni yah…

     
  4. DV

    February 27, 2012 at 11:07 am

    Selamat ultah untuk Kayla.. wah ultahnya kayak ultah Mamaku, 25 Februari😉

    Eh tapi aku kaget dengar jawaban dokter yang disuruh Googling. Hal itu sangat berkebalikan di sini… Dokter2 di sini melarang pasien untuk percaya pada hasil pencarian di internet karena terkadang pengetahuan dari sana lebih bersifat global padahal masalah kesehatan adalah spesifik dan unik untuk setiap orang..

    Anyway.. and once again, happy birthday, Kayla!

    Anderson:
    Makasih Bro… Bener, gue juga waktu itu kecewa sama dokter itu, kenapa malah disuruh googling? Apa ilmu kedokterannya selama ini juga didapat dari googling? Ah..aneh-aneh aja… Untung semuanya bisa berlalu dengan baik.
    Salam, Bro…

     
  5. LJ

    March 1, 2012 at 5:03 pm

    Kayla.. kenalkan iko Bundo Bukik.😀

    cepat besar jadi gadis sholihah, kebanggaan mama papa.
    amiin.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: