RSS

Pecking Order

03 Jun

Pecking Order pada awalnya adalah istilah untuk menunjukkan sistem hirarki sosial unggas dari yang paling dominan hingga yang ‘biasa-biasa’ saja. Pada perkembangannya istilah pecking order juga digunakan dalam manajemen keuangan untuk menunjukkan prioritas sumber pembiayaan perusahaan, mulai dari modal sendiri sampai pembiayaan dari pihak eksternal. Akhir-akhir ini istilah pecking order pun sering diucapkan para komentator sepakbola untuk menunjukkan urutan pemain yang paling prioritas sampai yang hanya digunakan saat kepepet dalam posisi tertentu. 

Demikianlah si Balqi, rentenir muda brilian anak buah Bang Beni baru aja dipromosikan jadi pengelola pengutang. Rentenir lain biasa menyebut posisi ini sebagai relationship manager. Posisi ini cukup strategis karena ia menjadi penghubung antara Bang Beni sebagai bos rentenir dan para toke yang minjem duit Bang Beni. Promosi ini mengundang bisik-bisik dari sejumlah rentenir senior anak buah Bang Beni. Bagaimana bisa anak muda yang baru menginjak kepala tiga itu melangkahi pecking order. “Lha wong aku udah kerja sama Bang Beni selama dua puluh tahun baru bisa jadi pengelola pengutang,” komen si Juki, salah seorang rentenir senior.

Si Balqi bukan tak mendengar suara-suara miring itu. Tapi ia yakin dengan kemampuannya bekerja dengan baik, mencari prospek pengutang, menganalisa prospek dan mengusulkan pemberian hutang oleh Bang Beni. Kalau harus ikut pecking order, berarti ia baru akan jadi pengelola pengutang setelah si Juki dipromosikan lagi jadi kepala pemasaran atau si Mamad dipindah kebagian analisa risiko rentenir. Itu kan masih enggak jelas kapan. Padahal, kemampuan teknis dan interpersonal skill si Mamad relatif lebih rendah dibanding si Balqi.

Untunglah Bang Beni cukup arif dan melihat tanda-tanda perubahan zaman. Rentenir-rentanir pesaing Bang Beni sudah lama berbenah soal sumber daya rentenir ini.  Promosi anggota rentenir bukan lagi dinilai dari senioritas di suatu pekerjaan, apalagi usia. Karena pekerjaan yang dilakukan saat ini adalah untuk masa depan, maka penempatan sumber daya rentenir harus berorientasi ke masa depan. Rentenir muda dengan bekal pengetahuan perenteniran yang memadai ditambah visi masa depan dan semangat bekerja yang masih meluap-luap adalah opsi yang bagus untuk melanggengkan usaha perenteniran Bang Beni.

Bang Beni mengambil langkah cepat. Rentenir-rentenir sangat senior yang mendekati usia pensiun dengan produktivitas yang menurun ditawari pensiun dini. Rentenir-rentenir muda dengan bekal ilmu perenteniran yang canggih segera direkrut. Rentenir muda dengan bekal pengalaman tertentu segera dipromosikan, melangkahi pecking order, biar nggak keburu pindah ke usaha rentenir pesaing. Bang Beni berharap banyak dengan peremajaan. Mudah-mudah si Balqi bisa membuktikan kalau usia muda mampu membawa usah rentenir Bang Beni kearah lebih baik.

 
7 Comments

Posted by on June 3, 2011 in Hikayat Rentenir

 

7 responses to “Pecking Order

  1. Wempi

    June 3, 2011 at 8:50 pm

    selamat promosi, hee…

     
    • soyjoy76

      June 4, 2011 at 7:31 am

      Hahaha….Wempi langsung ‘nuduh’. Enggak bos, itu cerita berulang yang sering terjadi disini…

       
  2. nh18

    June 3, 2011 at 9:29 pm

    Saya belum mengomentari tulisannya …
    Saya hanya ingin berkata …

    Welcome Back Pak Anderson …
    Apa Kabar
    Senang membaca tulisan Bapak Lagi

    salam saya

     
    • soyjoy76

      June 4, 2011 at 7:36 am

      Hehehe…makasih Om, kabar saya baik-baik aja. Sangat sulit menemukan ‘irama’ menulis seperti dulu. Mudah-mudahan semangat menulis om NH bisa tertular parah kepada saya..😀

       
  3. giewahyudi

    June 5, 2011 at 8:24 am

    baru kali ini mendengar istilah pecking order, Pak..

    eh btw, welcome back ya..🙂

     
  4. DV

    June 6, 2011 at 10:36 am

    Selamat datang kembali di belantara blog! Ayo, jangan malas lagi🙂

     
  5. Yari NK

    June 9, 2011 at 1:02 pm

    Iyalah…. walaupun senior kalo perkembangannya lambat plus udah merasa jago ga mau lagi belajar plus punya visi yg ga jelas atau udah ketinggalan zaman, ya lebih baik dipinggirkan saja. Tapi jangan sembarangan tentu saja. Yang tua-tua juga masih ada yang visinya cemerlang ditambah dengan pengalamannya. Yah, pendek kata semua pertimbangan obyektif harus dimasukkan, pertimbangan subyektif seperti senioritas, junioritas, ganteng-cantik, seksi dsb. harus disingkirkan. Heheheh…😀

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: