RSS

Alif dan Lampu Merah

10 Aug

Disuatu persimpangan jalan ketika mobil Papa Alif berhenti karena lampu lalu lintas sedang berwarna merah.

Alif (balita 2,5 tahun): “Kok belenti Pa?”

Papa Alif : “O..itu karena lampu merahnya sedang menyala”

Tak lama lampu hijau menyala menggantikan lampu merah. Alif kecil kembali bertanya.

Alif: “kalau lampu hijau boleh jalan ya, Pa?”

Papa Alif: “Iya. Kalau ketemu lampu merah semua mobil dan motor harus berhenti. Kalau ketemu lampu hijau, semua mobil dan motor harus jalan.”

Alif : *manggut-manggut sambil mengingat-ingat ‘aturan’ itu*

Tak lama Alif dan Papa Alif sampai di sebuah perempatan jalan hendak berbelok kekiri. Lampu merah sedang menyala tapi dibawahnya ada tanda: BELOK KIRI BOLEH TERUS. Mobil Papa Alif pun teus melaju dan berbelok ke kiri. Alif protes.

Alif: “Kok Papa nggak belenti? Kan lampunya melah!!”

Papa Alif: “Ooo..kalau itu karna tadi ada tulisan ‘belok kiri boleh jalan terus’. Jadi walopun lampunya merah, kita tetap boleh jalan. Mobil itu (sambil nunjuk Honda Jazz merah yang berhenti di lampu merah) mau lurus, jadi harus berhenti.”

Alif diam dan mulai melihat ketidak konsistenan ‘aturan’ yang baru saja dipelajarinya. Ketika mobil terus melaju, Alif dan Papa Alif sampai dipertigaan jalan raya dengan pilihan jalan lurus atau belok kanan. Pertigaan itu cukup ramai dan diatur dengan lampu lalu lintas. Kebetulan lampu lalu lintas sedang berwarna merah, kali ini dengan tanda :LURUS BOLEH TERUS. Papa Alif pun dengan tenang melaju melewati lampu lalu lintas tersebut dan harus dikagetkan oleh teriakan Alif.

Alif: “Kok nggak belenti sih Paaa??? Kan Lampu melah. Papa kan jalannya lulus”

Papa Alif: “Hmm…ooo..kan tadi ada tulisan dibawahnya, lurus boleh terus. Jadinya papa ya terus aja.”

Papa Alif nggak puas dengan  jawabannya sendiri. Rasanya jawaban terakhir itu kurang elekhan (elegan, kale..). Sama seperti Alif yang juga menunjukkan raut bingung atas ketidak konsistenan ‘aturan’ lampu lalu lintas yang baru dipelajarinya itu.Tapi begitulah Nak… Kelak jika kamu dewasa kamu akan melihat lebih banyak lagi ketidak konsistenan di dunia ini. Kamu mungkin akan marah. Kamu mungkin akan frustasi.Tapi pahamilah bahwa sikap tidak konsisten itulah yang saat ini menjadi raja dalam kehidupan yang semakin keras. Orang akan menjadi tidak konsisten dengan sikapnya kalau ada kepentingan lain yang ingin didahulukan. Orang akan masa bodo dengan konsistensi sikap kalau ada keuntungan yang bisa diraih. Begitulah Nak

Pekanbaru, 08-08-2010 18.35 WIB

 
16 Comments

Posted by on August 10, 2010 in Santai

 

16 responses to “Alif dan Lampu Merah

  1. ikkyu_san

    August 10, 2010 at 10:19 am

    yah memang begitu di dunia ini. Yang berkuasa, yang mayoritas seenaknya saja mengubah peraturan yang ada. Kita yang harus melatih agar anak-anak kita menjadi karet yang bisa meliuk-liuk tapi tak lupa pada bentuk aslinya.

    EM

     
  2. nakjaDimande

    August 10, 2010 at 10:32 am

    Alif tinggal sama Bundo ajah, disini gak ada lampu merah.
    (dasar aja si Bundo punya gangguan penglihatan)😛

    selamat menunaikan ibadah Ramadhan, uda
    salam untuk keluarga.

     
  3. Wempi

    August 10, 2010 at 2:07 pm

    kalo disini lampu merah bulat berarti kiri, kanan, lurus harus berhenti.
    sedangkan untuk lampu merah yang berbentuk panah, berhenti sesuai arah panah nya. begitujuga sebaliknya untuk warna hijau. gak pake tulisan-tulisan dibawah macam itu.😆

     
  4. DV

    August 10, 2010 at 3:47 pm

    Dalemmmm tulisannya🙂
    Apakabar Bro? Jangan suka ngilang dong, ayo nulis!🙂

     
  5. vizon

    August 10, 2010 at 10:21 pm

    Itu bukan bentuk inkonsistensi menurutku, Papa Alif. Tapi, itu adalah sebuah eksepsi atau dalam bahasa agama disebut “rukhshah”, yakni tidak diberlakukannya sebuah perintah atau larangan, lantaran adanya alasan. Contoh, kita boleh tidak puasa karena sakit, hamil atau usia lanjut. Begitu juga dengan kebolehan belok kiri atau luruh di tempat-tempat tertentu meski lampu lalulintas berwarna merah. Alasannya, barangkali karena jika tetap berjalan, tidak akan mengakibatkan kecelakaan, dan bahkan jika tetap berhenti, justru menyisakan kesia-siaan…🙂

    Selamat berpuasa buat Alif, Papa Alif dan Mama Alif tentunya, maaf lahir batin ya…

    Salam dari kami sekeluarga di Kweni

     
  6. arman

    August 11, 2010 at 1:08 am

    hahaha… tapi udah bener penjelasannya, kan emang ada penjelasan tertulis nya… nanti alif kalo udah bisa baca kan ngerti…😀

     
  7. nh18

    August 11, 2010 at 3:11 pm

    Saya setuju dengan Om Arman …
    Kan udah ada tulisan di bawahnya …
    sehingga siapapun yang mau belok kiri … (tidak peduli jabatannya apa) jika ada petunjuk ini boleh belok kiri …

    Yang tidak konsisten itu … adalah … Ada tanda semua kendaraan boleh belok kiri … tetapi ternyata yang boleh belok kiri itu kenyataannya hanya beberapa kelangan saja … itu tidak konsisten namanya …
    Sungguh tidak Eiylekhan …

    hahahah
    Salam saya Pak Anderson
    Mohon Maaf Lahir Bathin ya …

     
  8. nanaharmanto

    August 11, 2010 at 7:54 pm

    Aku pernah semobil dengan temanku yang bawa temen bule. Si bule ini juga heran, sama seperti Alif, kenapa lampu merah diterobos begitu saja?
    Akhirnya, kita jelasin deh. bahwa ada tulisan di bawah lampu merah itu, belok kiri langsung… belakangan ada tambahan tulisan juga dalam Bahasa Inggris, tapi bahasanya agak kacau tuh.. hihi…

    Selamat berpuasa ya Bang…

     
  9. soyjoy76

    August 12, 2010 at 4:42 am

    @EM
    Hahaha…betul mbak, fleksibel kayak karet..

    @nakjadimande
    Huaa…bundo, lampu merah di bukittinggi itu berlaku juga untuk bendi gak sih? Crowded, hehehe…Selamat berpuasa juga…mohon maaf lahir dan bathin

    @wempi
    Betul Wem, begitu terlihat lebih konsisten dengan penggunaan warna lampu sebagai tanda boleh jalan apa harus berhenti

    @DV
    Siap komandan… Bang BeNI lg gencar diserang ‘si pita kuning’, jadi perhatian agak lebih banyak tersita untuk bertahan sebelum menyerang balik, hehehe… Tapi gue beneran kangen tulis menulis di blog🙂

    @vizon
    Eksepsi dalam agama umumnya punya dasar logis dan tak terbantahkan. Eksepsi dalam hukum buatan manusia biasanya digunakan sebagai celah untuk berkelit oleh orang-orang pembuat hukum itu sendiri, atau oleh orang-orang yang sangat paham hukum. Gitu lho yang membuat gusar, Uda…
    Selamat berpuasa juga buat buat warga Kweni…

    @arman
    Hahaha…karna Alif belum bisa membaca gue khawatirnya dianggap ‘ngapusi’ biar nggak dibawelin😛

    @Om Nh
    Hehehe….pemilik jargon ‘eylekhan’ mampir dimari🙂 Selamat berpuasa Om, mohon maaf lahir dan bathin.

    @Nana
    Jangankan yang bahasa Inggris Na, terkadang yang bahasa Indonesia pun kalimatnya cenderung membingungkan

     
  10. Yari NK

    August 12, 2010 at 9:10 am

    Menurut saya cara penjelasannya udah benar. Hanya saja si anak masih bingung dengan konsep “pengecualian”. Padahal konsep “pengecualian” akan banyak dijumpai di dalam kehidupan kita sehari2, karena bagaimanapun juga permasalahan di dunia nyata tidaklah pernah seragam dan tidak akan pernah bisa semuanya ditangani secara seragam, tentu dengan adanya kondisi-kondisi tertentu. Tapi jangan khawatir, he will completely understand it someday! It’s only a matter of time.😀

     
  11. zee

    August 13, 2010 at 12:19 pm

    Tidak apa.
    Nanti saat Alif makin besar, dia akan mengerti kenapa peraturan dibuat seaneh itu🙂

     
  12. boyin

    August 14, 2010 at 9:36 am

    emang kalo ama anak2 njelasinnya gak bisa terlalu panjang, pendek2 aja. Di kampung saya banyak sekali segala hal dijelaskan dengan “emang udah dari sononya”, kadang hal yang terkesan seenaknya itu malah membuat suasana pemahaman lebih mengena.

     
  13. zulhaq

    August 16, 2010 at 8:12 am

    hidup ini terlalu banyak keanehan.
    tapi itulah yang membuat hidup jadi lebih berwarna. dan adanya pendapat yang meragam.

     
  14. soyjoy76

    August 17, 2010 at 10:40 am

    @Pak Yari,
    Ya…pengecualian memang bisa jadi solusi untuk mengatur berbagai hal yang sangat kompleks. He’ll undertand it, soon enough🙂

    @Zee,
    Iya..ntar juga ngerti sendiri..

    @ Boyin,
    Saya coba ngasih pemahaman dulu Bang Boy. Kalau terlihat terlalu kompleks, baru kelaur kalimat sakti: “Ya emang udah begitu dari sononya”

    @Zulhaq
    Sama kayak hidup juga banyak ke’sinting’an ya, Bro?🙂

     
  15. racheedus

    September 5, 2010 at 8:42 pm

    Setiap aturan memang sering ada pengecualiannya. Hidup memang tak selalu linier.

     
  16. Miranda Modjo

    October 7, 2010 at 1:41 pm

    Wahhh dah lama tidak mampir..
    Apa kabar??

    Btw bukannya hidup ini jd tidak konsisten?? karena bumi bergerak maka segala sesuatu akan menjadi dinamis dan perubahan demi perubahan akan terjadi sehingga menjadikan tidak konsisten..

    Alahhh serius bener yakkk!!!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: