RSS

Sulitnya Berubah

28 Jun

“What?? Bos rentenir dari desa antah berantah gitu mau jadi unsur pimpinan di kantor pusat?” Parno terloncat dari bangku yang didudukinya begitu mendengar kabar dari Parto, yang membawa gosip dari Paijo (baca: Hikayat Rentenir), yang dibisiki Surti, salah satu sekretaris Bang Beni di kantor pusat, yang mencuri dengar pembicaraan Bang Beni dengan salah satu bos rentenir kecil-kecilan di desa seberang.

“Apa Bang Beni udah nggak percaya sama anak-anak dan keluarganya sendiri sampai harus merekrut rentenir dari desa lain?” geram Parno sambil menyeruput kopinya yang udah dingin. Suasana warung Bude Pelia sore itu jadi tegang. Parno adalah rentenir sepuh keponakan langsung Bang Beni yang sangat disegani diantara rentenir junior Bang Beni. Kalau dia udah marah, bisa berabe.

Alkisah kinerja rentenir anggota Bang Beni untuk sektor usaha kelas menengah sedang turun drastis. Banyak utangan yang diberikan ke juragan-juragan Desa Sukademo yang macet, enggak bisa ditagih. Akibatnya Bang Beni pusing alang kepalang karena diomelin pagi-siang-malam ama Bu Pertiwi. Bisa-bisa usaha rentenirnya dilebur dengan usaha rentenir Bang Mandra, yang lagi bagus-bagusnya. Berbagai strategi udah dilakukan, bahkan komandan rentenir sektor usaha kelas menengah pun udah gonta-ganti digilir sama anak-anak kandung Bang Beni. Hasilnya? Utangan masih aja banyak yang tak tertagih.

Entah siapa yang membisiki, Bang Beni mengambil keputusan berani. Rentenir-rentenir dari desa lain coba diajak bergabung, sesuatu yang sangat jarang dilakukan Bang Beni. Awalnya itu terlihat sebagai evolusi, proses yang berlangsung dalam jangka panjang. Eh, taunya sekonyong-konyong sektor usaha kelas menengah udah dipenuhi rentenir-rentenir dari desa lain, bahkan terakhir komandan rentenirnya pun akan direkrut dari desa lain. Ini adalah Revolusi .

Terbakarlah ego para punggawa sepuh, anak-anak dan kerabat Bang Beni yang udah lama bahu-membahu memajukan usaha rentenir Bang Beni.  Kenapa bukan mereka yang diberi kesempatan untuk membenahi usaha rentenir Bang Beni biar kinclong lagi? Kenapa?

Bang Beni tau persis penolakan anak-anak dan kerabatnya terhadap keputusan ini. Tapi dasar pemikiran Bang Beni sebenarnya cukup logis dan bukan tanpa pertimbangan yang mendalam. Coba simak:

  1. Dulu usaha rentenir Bang Beni adalah yang nomer satu di Desa Sukademo, entah itu dari jumlah kekayaannya, utangan yang diberikannya sampai setoran yang dikasihin ke Ibu Pertiwi, sebagai pemilik modal.  Sekarang? Bang Beni kalah kaya dibandingin Bang Mandra, Bang BeRI dan Babah CAkwe, rentenir keturunan Hokian.
  2. Reformasi atau aneka macam strategi perubahan, dengan melibatkan anak dan kerabatnya udah berkali-kali dilakukan dan kondisinya masih saja terpuruk. Kata konsultan berambut pirang yang coba disewa oleh Bang Beni tempo hari, terlalu banyak agency problem didalam usaha rentenir Bang Beni. Terlalu banyak konflik kepentingan.
  3. Meminjam istilah konsultan manajemen terkemuka di Desa Sukademo, Hermawati Kertajayus, anak-anak dan kerabat Bang Beni yang udah sepuh dan malang melintang didunia perenteniran berada dalam Complacency Trap, perangkap kemapanan alias sindrom orang kaya lama. Mereka terlena dengan jargon, “kami adalah rentenir tertua dan pertama di Desa Sukademo” atau “Dulu kami adalah rentenir terkaya di Desa ini” dan aneka sindrom kemapanan lainnya sehingga enggak bisa terima kalau rentenir dari desa lain ilmunya pun udah mulai canggih.
  4. Terkadang butuh pandangan dan action dari pihak luar yang lebih obyektif, tentang kondisi kesehatan kita. Coba anda perhatikan, apakah seorang dokter ahli bedah kesohor sejagad yang bermasalah sama usus buntunya akan ngoperasi dan memotong sendiri tuh usus yang bermasalah? (contoh yang sangat ekstrim dan sedikit nggak nyambung–maaf)

Begitulah. Palu telah diketuk dan keputusan Bang Beni udah final. Para rentenir impor dari desa sebelah udah mulai menduduki posnya masing-masing, lengkap dengan program kerjanya. Parno, meskipun lantang berkoar diwarung kopi, enggak berani lagi menyuarakan langsung keberatannya. Masih takut dijewer sama Bang Beni rupanya.

Dan hikayat rentenir pun terus bergulir. Anak-anak Bang Beni tinggal berharap, mudah-mudahan intuisi Bang Beni kali ini enggak meleset sehingga usaha rentenir mereka bisa jaya lagi dan upah ekstra dari Bang Beni saban tahun pun bisa melonjak…

PS: Buat yang belum kenal dengan tokoh-tokoh dalam cerita ini silahkan baca yang ini atau yang ini🙂

 
14 Comments

Posted by on June 28, 2010 in Hikayat Rentenir

 

14 responses to “Sulitnya Berubah

  1. nh18

    June 28, 2010 at 9:42 am

    Ahhhaaa …
    saya kenal tokoh-tokoh itu …

    salam saya Pak Anderson

     
  2. vizon

    June 28, 2010 at 11:21 am

    Suka sekali saya dengan perumpamaan dokter bedah itu, Son… nyambung banget kok…

    Menyembuhkan diri sendiri itu tidaklah mudah, sehebat apapun diri kita, tetap dibutuhkan orang lain untuk itu. Semoga persoalan dalam keluarga Bang Beni segera terselesaikan.

     
  3. zee

    June 28, 2010 at 12:37 pm

    Bang Beni itu pintar membaca situasi. Memang kalau bisnis mau maju harus berani cari orang luar, biar kita tahu pandangan orang luar itu seperti apa. Biasanya sihhh kalo semuanya dirongrong keluarga, lama2 hancur tuh bisnis😀

     
  4. Ceritaeka

    June 28, 2010 at 2:44 pm

    Hemm kadangkala
    kalo usaha ama keluarga suka gak enakan😀
    bukan begutu uda?😛

     
  5. arman

    June 30, 2010 at 1:15 am

    waduh rentenir kok gak bisa nagih sih? debt collector nya kurang canggih berarti… hehe

     
  6. Miranda Modjo

    June 30, 2010 at 12:12 pm

    Kok Bang Beni ga cari gua??sapa tau gua bisa bantu

    *ditimpuk mas anderson*

     
  7. DV

    June 30, 2010 at 8:11 pm

    Ah, Bang Beni… slamat menyambut milad yang ke….. 64 ya kalo ngga salah… dulu waktu bokap masi tugas, hari2 gini slalu menyenangkan dipenuhi dgn berbagai lomba dan pungkasannnya ya pesta makan2..:)

     
  8. jual pulsa murah

    July 2, 2010 at 9:08 am

    Ide bisnis yang menarik…maksudnya persekutuan bisnis. info yang menarik…

     
  9. Ria

    July 2, 2010 at 10:26 pm

    mmmm…jadinya bang beni jadi kaya raya dan makmur sentosa deh😀

     
  10. Jabon

    July 14, 2010 at 9:05 am

    iya nich. aku lom nyambung dengan tokoh-tokoh yang diceritakan, coba baca tengok yang sebelah dulu ah…

     
  11. boyin

    July 14, 2010 at 9:38 am

    emang kalo kita yang ngliat dari luar mungkin biasa2 aja, tapi kalo kita karyawannya bisa ketir2 cicilan panci gak kebayar..heee..apa kabar bro..udah mulai muncul lagi nih…

     
  12. imoe

    July 14, 2010 at 4:17 pm

    ini beneran atau fiksi da son….

     
  13. Daenk Afdhal

    July 14, 2010 at 5:15 pm

    haii bang
    apa kabar hehehehe

     
  14. omiyan

    July 15, 2010 at 4:12 pm

    maju terus bang beni hahahaha

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: