RSS

Jon (2)

23 Jun

Masih ingat dengan Jon di postingan saya terdahulu? Hmm…well, inilah sekuel dari ceritanya, yang mungkin saja berlanjut dengan sekuel-sekuel berikutnya. Lho, bukankah saya janji mau bikin sekuelnya Kapok? Yah, mau gimana lagi…ide penulisan sekuel Kapok udah menguap sebelum sempat dijadikan draft.

Meskipun pekerjaan utama saya adalah ‘rentenir’, memiliki bisnis sendiri adalah cita-cita yang selalu menuntut untuk diimplementasikan. Kebetulan istri saya juga mencita-citakan hal yang sama. Jadilah kami selalu membicarakan peluang dan kemungkinan menjalankan aneka bisnis di setiap kota yang kami tinggali.

Setiap kali muncul ide bisnis, terkadang kami memperdebatkan konsepnya akan seperti apa. Satu hal yang tak pernah kami perdebatkan, Jon akan kami libatkan dalam rencana bisnis ini. Ya, sekedar mengingatkan, kami pernah berjanji untuk mempekerjakan Jon, penjual koran dengan kruk (semacam alat penyangga badan yang dipakai ketika kaki cedera/ tidak berfungsi), dalam bisnis pakaian yang kami rencanakan. Rencana itu gagal terwujud dan Jon tetap berjualan koran seperti biasanya.

Sampai kemudian akhir tahun lalu istri saya membuka usaha katering rantangan untuk makan siang dengan target pasar perkantoran dan pertokoan di Pekanbaru. Tanpa diduga jumlah pelanggan meningkat pesat dan kami mulai keteteran dalam masalah deliverynya. Sepeda motor telah ada, tapi siapa yang akan mengantarkan rantangan itu? Apakah Jon bisa jadi solusi, mengingat kaki kanannya yang diamputasi sampai selutut (di tulisan terdahulu saya tulis kaki kirinya buntung sampai paha *maaf, salah info*).

Tak urung Jon kami ajak ‘meeting’ lagi di sebuah kedai kopi, persis seperti kejadian 2 tahun yang lalu. Ternyata:

  1. Jon masih tetap antusias dengan kesempatan yang kami tawarkan
  2. Jon nggak bermasalah dalam mengendarai sepeda motor meskipun kaki kanannya sekarang menggunakan kaki palsu. Dia bahkan beberapa kali bolak balik Pekanbaru – Padang mengendarai sepeda motor, which is, 8 jam perjalanan naek mobil (kalo naek motor saya nggak tau berapa lama)
  3. Jon memiliki sepeda motor Suzuki Satria, jenis motor bebek yang sering di permak buat balapan oleh anak muda Pekanbaru.

Sampai disitu bayangan saya tentang Jon yang tertatih-tatih dengan kruknya menghampiri setiap kendaraan yang berhenti di lampu merah sambil menjajakan koran langsung sirna. Jon terlihat tak berbeda dengan anak-anak muda di Pekanbaru yang melaju gagah diatas motor bebek balapnya. Tapi itu tak merubah niat kami untuk mempekerjakan Jon, dan dia pun setuju untung jadi pengantar katering.

Jon bekerja 2 shift sehari, untuk mengantar katering siang dan sore. Jam kerja kami buat menyesuaikan dengan ‘jam dinas’nya berjualan koran. Jadi, selain bekerja dengan kami, Jon tetap menjalankan profesinya sebagai penjual koran. Setiap hari Jon berjualan koran pagi jam 7 sampai jam 9, lalu jam 10 dia udah sampai dirumah kami dan bersiap mengantarkan rantang yang biasanya selesai jam 12 siang. Setelah itu dia akan pulang ke kosannya. Jam 5 sore Jon kembali mengantar rantang untuk makan malam beberapa customer dan setelahnya segera berjualan koran sampai jam 10 malam.

Begitulah, Jon telah kami anggap sebagai keluarga yang membantu bisnis katering kami. Dengan intensitas pertemuan yang lebih banyak, saya pun memiliki cukup waktu berbincang-bincang dengan Jon. Dari ceritanya saya pun jadi tahu, bagaimana anak ini ternyata cukup gaul dan sering nongkrong sampai dinihari dengan teman-temannya. Ngapain? Mulai dari ngobrol ngalor ngidul sampai nonton balapan motor liar, yang disertai taruhan kecil-kecilan. Terus terang saya nggak suka dengan gaya hidup seperti itu. Sebagai orang yang mengaku kakaknya, kamipun memberi nasihat tanpa menggurui mengenai pergaulan, mengenai bagaimana mengelola keuangannya untuk hal yang lebih bermanfaat, dan berbagai nasihat kecil lainnya.

Waktu berjalan dan Jon mulai ‘bertingkah’. Terkadang ia nggak datang untuk mengantar katering tanpa pemberitahuan, sehingga kami dimarahi customer karena delivery yang telat. Ketika ditegur, alasannya karena kecapean begadang abis nonton balapan liar. Mark-up kecil-kecilan biaya bensin sepeda motor pun mulai kami rasakan. Oalah…

Sampai akhirnya anak itu datang kepada kami akhir bulan yang lalu, mengajukan permohonan resign. Alasannya ia ingin konsentrasi jual koran untuk membantu biaya pernikahan adiknya. Kening saya berkerut, apakah kompensasi yang kami kasih nggak memadai? Kami memberikan upah per jam yang lebih tinggi dari UMR setempat. Diapun tak kehilangan kesempatan berjualan koran, sehingga menurut perkiraan saya seharusnya dia merasa terbantu punya double income.

Begitulah. Meskipun udah kami ajak berpikir rasional, bahwa kalau kecapean nyari nafkah selagi masih muda itu hal biasa, Jon tetap pada pendiriannya. Kalau kecapean karena harus berjualan koran, nganterin katering dan begadang nonton balapan liar, siapa yang salah? Toh kegiatan yang terakhir itu bisa distop biar nyari uangnya bisa pol.

Entahlah. Kami nggak bisa memaksa. Kami, seperti juga 2 tahun yang lalu, ingin meringankan bebannya dengan menawarkan pekerjaan yang bisa menambah penghasilannya. Lha kalau orang yang mau dibantu udah nggak mau, mau apalagi.

We just hope the best for your life, brother….

 
13 Comments

Posted by on June 23, 2010 in Santai

 

13 responses to “Jon (2)

  1. ikkyu_san

    June 23, 2010 at 6:11 pm

    hmmm memang kadang kala apa yang kita pikir bagus, tidak dirasakan bagus oleh ybs. Dan terus terang saja, cukup banyak orang yang akhirnya malah menjadi malas, dengan mengatakan, “Kalau saya sudah dianggap sbg sodara, seharusnya saya tidak disuruh-suruh kerja lagi….which is…mau terima duit gratis”…(semoga tidak banyak kejadian spt ini, karena pernah kejadian dgn saudaraku yang oleh mama diminta membantu di kebun dan mengatakan bhw dirinya dijadikan “tukang kebun”. Padahal mama ikut berkebun bersamanya….)

    EM

     
  2. camera

    June 23, 2010 at 6:43 pm

    mudah”an semua kepengennya terkabul…

     
  3. vizon

    June 23, 2010 at 10:00 pm

    Ada banyak orang seperti Jon; tidak bersyukur dengan yang didapatnya, mudah lupa daratan… Semoga suatu saat kelak Jon menyadari kesalahannya…

     
  4. nh18

    June 24, 2010 at 11:27 am

    Lha kalau orang yang mau dibantu udah nggak mau, mau apalagi.

    hhmmm …
    Saya lama merenungi kalimant ini Pak Anderson …
    dan terus terang saya … someway-somehow … beberapa kali menemui hal serupa … (tidak semuanya ) …
    ada orang yang mau membantu … tetapi yang dibantu sendiri tidak punya motivasi untuk maju …
    pinginnya pintas … nongkrong-nongkrong … rileks … nggak cape tapi dapet duit …

    salam saya Pak Anderson
    Semoga semua berjalan kearah yang lebih baik …

     
  5. macangadungan

    June 24, 2010 at 6:14 pm

    kadang emang gitu kok oom, ditawarin bantuan tapi orang yang dibantu nggak mau… namanya jg anak muda *eh, masih muda nggak sih?* pikirannya maunya main2 dulu. nanti kalo udah agak dewasa abru mulai ngerti pentingnya mengorbankan kesenangan.

     
  6. ADAL

    June 25, 2010 at 5:57 pm

    haiii banggg
    apa kabarrr🙂

     
  7. NoRLaNd

    June 25, 2010 at 6:25 pm

    Teringat kejadian saat saya ditawari semacam program seperti MLM. Namun background nya adalah di Foodcourt sebuah plaza kota medan..

    btw, salam kenal y =)

     
  8. Yari N K

    June 26, 2010 at 4:33 am

    Hmmm… manusia itu makhluk yang sangat kompleks. Banyak hal yang memepengaruhi keputusannya. Kompensasi yang baik belum tentu merupakan satu2nya pertimbangan bagi seseorang. Kesenangan (enjoyment), ambisi dan cita-cita jangka panjang bagi beberapa orang juga mempengaruhi keputusannya. Masing-masing punya jalan sendiri untuk ditempuh. Di jalan itulah kita akan belajar dari pengalaman apakah keputusan kita tersebut benar atau salah. Dan kalau ternyata salah jalan, kita juga harus belajar untuk tetap bisa bertahan karena terkadang tidak ada jalan balik menuju jalan awal atau tidak ada lagi kesempatan kedua… Namun terkadang pelajaran itu sendiri yang bisa jadi sangat berharga…

     
  9. nanaharmanto

    June 26, 2010 at 6:03 pm

    Ibaratnya kita sudah mengulurkan tali pada seseorang yang terperosok lubang yang sangat dalam. Tapi kalau orang yang terperosok nggak mau menerima uluran tali itu ya mau gimana lagi?

    Semoga usaha kateringnya lancar dan menemukan pengganti Jon yang lebih baik ya..

     
  10. Wempi

    June 26, 2010 at 9:16 pm

    apo perlu ambo tatar beliau?😆

     
  11. Rindu

    June 27, 2010 at 6:46 am

    agak bingung, nanti balik lagi deh baca baca …

     
  12. Ria

    July 2, 2010 at 10:16 pm

    well…kalau memang yg ditawarkan gak mau masak kita mau maksa mas😀
    ohya…katering di perkantoran PKU? jadi pengen icip2 nih masakannya…besok aku ke PKU ya mas…hohohohoho😛

     
  13. boyin

    July 14, 2010 at 9:42 am

    yah itu yang namanya manusia calon yang mendiami piramida terbawah…gak papa bro..emang nasibnya dia

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: