RSS

Kamu Adalah Marketer

21 Dec

Seorang teman lama saya berkunjung kekantor minggu lalu. Lantaran udah lama nggak ketemu, pembicaraan pun mengalir ngalor ngidul layaknya reuni kecil-kecilan. Setelah seperempat jam berlalu, teman ini kemudian mengutarakan tujuan utamanya mau ketemu saya. Ia ingin membeli rumah di Pekanbaru dengan cara Overkredit dari teman kantornya. Karena dia tahu saya kerja di bank, dia ingin minta pendapat saya soal KPR dan kemungkinan untuk ngambil KPR di bank tempat saya bekerja.

Oalah…unit tempat saya bekerja sebenarnya khusus untuk memproses kredit komersil alias kredit untuk modal kerja/ investasi perusahaan skala menengah-besar. Kredit untuk industri rumah tangga, KPR, kredit pemilikan mobil, kredit tanpa agunan semuanya dipusatkan di unit tersendiri yang lokasi gedungnya berbeda. Jadi, karena tak berkecimpung langsung menangani nasabah segmen ini, teknis detil pemberian KPR ini tak sepenuhnya saya kuasai. Tak urung saya jelaskan juga semampunya sambil ngasih tahu kalau permohonan KPR diprosesnya di unit lain.

Begitulah. Saya nggak mau langsung bilang, “Oh…itu bukan bagian unit saya. Kamu langsung aja ke cabang di jalan anu yang ngurus KPR.” Saya nggak mau ada kesan, kok kerja di bank yang sama, tapi nggak ngerti produk banknya sendiri. Dalam pikiran saya, teman ini, seperti juga kebanyakan nasabah yang lain, mungkin nggak tahu dengan segmentasi nasabah seperti itu. Pokoknya kalau mau informasi apapun mengenai produk Bank A, mereka akan mendatangi salah satu cabangnya dan bertanya pada staf yang ada. Jangan pernah bilang nggak tahu atau langsung ngoper sana sini nasabah/pelanggan seperti ini kalau nggak mau merusak image institusimu.

Bukan mau sok ngajari. Tapi saya pernah membaca buku marketing yang bilang kalau semua karyawan pada prinsipnya adalah marketer bagi perusahaan/ tempatnya bekerja. Ketika pihak lain berhubungan denganmu dalam kapasitas sebagai karyawan PT A, setiap sikap dan perkataanmu biasanya akan dianggap merepresentasikan PT A.

Kalau kamu merespon pelanggan/ calon pelanggan dengan cara yang simpatik dan memenuhi keingintahuan dan kebutuhan mereka, berarti kamu sudah memberikan citra yang positif buat tempatmu bekerja. Kamu adalah marketer yang baik meskipun ‘jabatan’ mu mungkin bukanlah Marketing Officer, Public Relation atau humas.

Tak heran pula apabila seseorang berbuat negatif terkait dengan tempatnya bekerja, katakanlah korupsi, berbuat semena-mena, mengabaikan hak-hak konsumen atau perbuatan tidak simpatik lainnya, ia akan buru-buru dianggap sebagai oknum alias anomali dari institusinya.

Bagaimana dengan sodara-sodara sekalian? Sudahkah kamu menjadi marketer yang baik untuk institusimu?

 
20 Comments

Posted by on December 21, 2009 in Serius Tapi Santai

 

Tags: , , ,

20 responses to “Kamu Adalah Marketer

  1. DV

    December 21, 2009 at 1:07 pm

    Bwahahahahah enaknya di sini, Bro.. kita tidak harus jadi marketer untuk institusi kalau kita bukan orang yang formally duduk di marketer.

    Saya ndak pernah mereferensikan perusahaan tempat saya bekerja karena “They dont pay me for that matter, so why i should fooking care about that?”

    Hehehehe…

     
    • soyjoy76

      December 21, 2009 at 2:31 pm

      Maksudku disini bukan formally Bro… It goes naturally…ketika kita berhadapan dengan orang yang sedang ada urusan dengan kantor kita, maka ucapan dan sikap kita dalam menanggapi mereka seolah-olah merepresentasikan institusi kita.

      Telpon di unitku kadang masuk dari nasabah yang ingin menanyakan suku bunga deposito (which is not within our job description and I don’t have any😛 ). Kalau kami menjawabnya dengan: “Oh…bukan di bagian ini, Pak” atau jawaban lain dengan gestur -anda salah nanya, Pak- pasti si nasabah akan menganggap bahwa urusan di Bank anu nggak ramah, pegawainya nggak helpfull.. Bad marketer, aren’t we?

       
      • zee

        December 22, 2009 at 10:15 am

        Kalau saya melihatnya, dalam case dimana kita adalah pegawai sebuah perush, maka memang benar, kita adalah gambaran dari institusi kita. Kita dibayar perusahaan utk kerja di situ, artinya kitalah bagian dari perusahaan itu. Perusahaan hancur, berarti kita yg buat hancur. Perusahaan sukses, itu karena kita juga.
        Yookk! Junjung integritas pada perusahaan🙂.

         
  2. Riris E

    December 21, 2009 at 3:38 pm

    Jawaban yang bijak sangat diperlukan untuk memuaskan nasabah, dan tentunya menaikkan citra tempat dimana kita bekerja.

    Nice Sharing!

    Anderson:
    Iya… toh nggak terlalu sulit kan untuk menjawab secara simpatik🙂

     
  3. Wempi

    December 21, 2009 at 3:50 pm

    tergantung… kalo yang datang wartawan ato tukang pajak, tentu wempi jawab “wah anda salah orang…” hanya saja tinggal etika kita saja lagi, mau ngasih tau orang yang berkompeten tuk itu, ato diantar ke ruang orangnya, ato didiemkan saja, ato suruh OB/Security tuk ngantar ke ruang PR/HUMAS. atau suruh buat janji dulu, ato langsung usir saja sambil bilang “emangnya gw digaji buat ngelayanin elu pade, gw lagi banyak kerjaan nih?”😆

    Anderson:
    wakaka…diusir… kejam amat, Wem😀

     
  4. nakjaDimande

    December 21, 2009 at 5:17 pm

    wkwkk bundo kena banget tuh! klo ada yang nanya tentang program puskesmas selain yang bundo pegang, biasanya langsung bilang: duh, maaf ndak tau!

    Anderson:
    doooh…Bundo ini…

     
  5. aurora

    December 21, 2009 at 8:28 pm

    saya belum punya institusi bang.. tapi kalau jadi marketer, akan diusahakan untuk jadi yang terbaik….

    Anderson:
    Ah…saya yakin Arief bisa jadi marketer yang baik🙂

     
  6. vizon

    December 21, 2009 at 9:41 pm

    Kalau aku tidak sekedar marketer Son, malah jadi publisher. Soalnya aku menangani urusan penerbitan di kampusku, hehehe…😀

    Aku setuju dengan prinsip bahwa setiap kita harus mampu memberi penjelasan tentang institusi kita. Setidaknya, mampu menunjukkan ke mana seseorang harus menuju bila ada urusan ke institusi kita, bukan hanya diam dan menjawab dengan kalimat pendek “bukan bagian saya”🙂

    Anderson:
    Ya, itu yang paling penting Da.. Kalau kita tak mampu menjelaskan, arahkanlah orang itu ke pihak yang bisa menjelaskan dengan lebih baik. Itupun kita sudah bertindak sebagai layaknya marketer yang baik untuk institusi kita..

     
  7. nh18

    December 21, 2009 at 10:21 pm

    Mungkin ini yang disebut bahasa sononya sebagai …
    Employer Branding …
    (eh itu bukan ya …)

    But yes Indeed …
    Tanpa kita sadari semua tindak tanduk kita …
    akan sedikit banyak mereffer kepada dimana kita bekerja …

    Jangan sampai ada statement …
    “Karyawan PT anu kok begitu sih kelakuannya …??”
    dsb

    Salam saya

    Anderson:
    Iya Om, kebutuhan untuk memperkuat employer branding ini paling terasa terutama di perusahaan Jasa, yang memberikan pelayanan publik.. Semua karyawan, disemua lini, harus menjaga sikapnya ditengah-tengah masyarakat kalo nggak mau memberikan citra jelek bagi perusahaannya

     
  8. nh18

    December 21, 2009 at 10:24 pm

    Menjawab Pertanyaan Pak Anderson …
    Apakah saya sudah menjadi marketer yang baik untuk institusi saya ???

    Di alam maya ?? Tidak … Saya bukan seorang marketer yang baik…
    Karena saya anonimus … or tepatnya A-company-mus alias tidak menyebut saya kerja dimana …

    So … baik buruk di alam maya … tanggung jawab pribadi saya …
    (dan ini ada SOP nya …)(hahahhaha)

    Kalau di Alam Nyata ??? …
    I hope so …
    Hawong Trainer jeh … (hihihihihihi)

    Salam saya Pak

    Anderson:
    Ya Om.. nggak masalah dengan a-company-mus🙂 Toh, perusahaan tempat Om Nh bekerja dah punya website sendiri, yang jadi official marketer-nya.
    Btw, so far saya masih a-company-us juga kan? Well, mungkin ada kisi-kisi, tapi saya ndak pernah ngaku kan, Om…🙂

     
  9. Reva Liany Pane

    December 22, 2009 at 9:07 am

    Walah, banyak pendapat bisa muncul ttg yg satu ini, Bang😉

    Menurutku sih the easiest way is to act based on your task and job description only, or in other way, based on what you’re paid for. Itu cara tergampangnya, lho😉
    Tapi itu juga tergantung perusahaan t4 masing2 bekerja. Sebagai contoh, seorang teman yg bekerja di bagian Legal sebuah perusahaan jasa di Jakarta, cuma mengangkat bahu waktu saya bertanya ttg kebijakan perusahaannya scr hukum bilamana terjadi beberapa kasus. Satu2nya solusi yg dia kasih adalah : “Loe contact Siska aja,” – without giving me any clue siapa itu Siska dan apa jabatannya. Di sini saya berpikir bahwa mungkin saja si teman ini tidak pernah terbersit utk menjalankan peranan non formal-nya sbg marketer bagi perusahaannya.

    Tapi, seorang teman lain yg bekerja sbg Brand Development di satu perusahaan kosmetik, lgsg jumpalitan nyari informasi buat saya utk produk yg di luar tanggung jawab dia. Ia malah memberikan saya contact lansung Marketing Manager dari product tersebut, setelah berkonsultasi pada yg bersangkutan. Kabar yg saya dengar, perusahaan tempatnya bekerja memang sedang merubah working culture mereka untuk mengejar target perusahaan kosmetika terbesar di Indonesia.

    In the end, saya pikir semua tergantung perusahaan dan si pekerjanya itu sendiri. As for your question about whether I’m a good marketer for my company, well, I’m trying to do my best😉

    Anderson:
    Yup…selagi jabatan formal kita bukan marketer, ya memang nggak ada kewajiban untuk merepresentasikan perusahaan kita. Tapi, sepanjang yang sering saya alami, begitu lawan bicara kita tau kalau kita adalah karyawan PT A, mereka akan bertanya hal-hal dimana seolah-olah kita mengerti semua hal tentang PT A. Disitulah kita secara alamiah diposisikan sebagai informal marketer. Contoh yang kamu ceritain menarik, Mba… that’s what I mean..

     
  10. Yari NK

    December 22, 2009 at 10:40 am

    “Everybody sells!”. Semua orang menjual. Itulah filosofi modern para profesional, apapun profesinya, jikalau ia bekerja pada sebuah institusi. Walaupun ia secara resminya bukan seorang marketer namun segala perkataannya, tingkah lakunya, apalagi jikalau menyangkut institusinya selalu cenderung akan diasosiasikan dengan tempatnya bekerja.

    Namun begitu, memang kita tidak selamanya bisa menjadi marketer yang baik. Jangankan yang bukan marketer, lha wong yang marketer sendiri aja terkadang malah bikin bingung konsumennya! (eits… jangan dibaik… bukan berarti setiap marketer itu bikin bingung konsumennya!) Yang jelas adalah, jika ada sesuatu yang bobrok pada institusi kita, sudah bukan zamannya lagi ditutup2i dengan kata2 manis tapi bodong dari seorang marketer tetapi sesuatu yang bobrok itu harus ditindaklanjuti secara serius agar meminimalisasi kerugian yang ditimbulkan bagi semua fihak! Dengan begitu insya Allah, marketing dan operasional dapat memberikan informasi dan pelayanan sesuai yang diinginkan semua fihak….

    Weekz… komennya kurang berhubungan dengan topik yaaa??😛

    Anderson:
    Berhubungan kok Pak… Fenomena marketer yang bikin bingung konsumen itu emang bener. Saya suka kesal kalau didatangi sales/marketer produk tertentu yang ketika saya tanya lebih detil (padahal nggak kritis-kritis amat) terus gelagapan menjawab. Padahal, he/she is formally a marketer!!

     
  11. Yari NK

    December 22, 2009 at 10:41 am

    Waaaakz…. pasti deh komenku tertelan Akismet siwalan itu lagi….😦

    Anderson:
    Sabar Pak… dah ta’ selamatkan dari Akismet…🙂

     
  12. boyin

    December 22, 2009 at 11:35 am

    setuju bro..emang kudu gitu terutama untuk industri yang bergerak di bidang jasa…yah minimalnya tau garis besarnya lah

    Anderson:
    Tul kan? Umumnya orang dari industri jasa kayak Bang Boy pasti setuju sama ‘everybody’s marketer of their company..’
    Toss dulu, Bang…

     
  13. Eka Situmorang-Sir

    December 22, 2009 at 7:21 pm

    Postingan ini menarik sekali. entahlah.. mulai dari dulu saya ini hobynya promosi😛 tanpa diminta! hahaha
    Tapi saya setuju, jika setiap karyawaan adl aset perusahaan yang menjadi duta dimana saja mereka berada🙂

    Anderson:
    Ya..ya… saya tau hobimu itu, Mbak… It’s reflected on some of your posts yah?🙂

     
  14. Miranda Modjo

    December 23, 2009 at 6:23 pm

    Mas Anderson…yang koment panjang2….gua ga akan nambah2 page mas dengan komen yg panjang…ntar ga muat lagi.

    sekilas pengalaman gua…dulu gua kerja di otomotif bagian HRD tp krn mobil ini br di Indonesia semua karyawan hrs bisa memperkenalkan mobil tersebut.
    Jadi ga harus Marketing…toh semua karyawan sudah seharusnya mengetahui produk yg dijual…

    Sepakat lah ama mas…ooohhhhh ternyata bagian credit corporasi toh??jalan2 donc survey nasabah yg ngacuin kredit!!! heheheheh

    Anderson:
    Hahaha… udah pernah jadi informal marketer donk?😀
    Iya mbak, saya memang tukang kredit, tapi jalan-jalannya cuma dibagian tengah pulau Sumatera aja..

     
  15. udaRudi

    December 26, 2009 at 2:34 pm

    Setuju bro, kita harus menunjukkan jiwa marketing dan helpfull, asal jgn sampai salah kasih informasi krn kita mungkin kurang menguasai bidang yang ditanyakan. Tambahkan disclaimer berikut kpd calon pelanggan perusahaan tsb “Setau saya begini … untuk lebih rinci silakan hubungi bagian ini … ‘.

    Anderson:
    Wah..dikunjungi Big Brother nih😛
    Iya, Bro… makanya reaksi kita dalam menanggapi customerlah yang menentukan apakah kita adalh good or bad informal marketer🙂

    Apa kabar Mongolia, Da?

     
  16. racheedus

    December 26, 2009 at 4:30 pm

    Seorang marketer harus pede ya, Uda? Meski sebenarnya nggak mengerti betul produk yang ditawarkan. Ya, memang begitu, tampaknya.

    Anderson:
    Iya Pak…harus pede. Kalalu pas nggak ngerti, arahkanlah si pelanggan ke pihak yang lebih berkompeten dengan cara yang simpatik. Itu menurut saya loooh…

     
  17. AFDHAL

    January 8, 2010 at 4:01 pm

    everybody’s marketer of their company..
    saya selalu berusaha menjadi marketer yang baik
    baik itu kepada consumer maupun costumer
    lha jelas, krn saya dibidang MARKETER jhe
    :p

     
  18. nanaharmanto

    January 29, 2010 at 9:44 pm

    Seorang marketer tuh, menurutku, harus simpatik, pede, dan benar-benar menguasai bidangnya, jadi profesional gitu…
    Kepada pemakai jasa atau pelanggan yang masih baru, kayaknya si marketer perlu membuat si pelanggan nyaman dan merasa aman dengan produk jasa yang akan/sedang dipakainya. coba kalau si pelanggan merasa nggak yakin/nggak safe…bisa kabur dong…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: