RSS

Sebuah Catatan Tentang Kematian

07 Nov

Gue tiba-tiba ingin menulis soal kematian. Ya, sesuatu yang mungkin saja sebenarnya sudah sangat dekat dengan kita, tapi sering terlupakan. Lho, memangnya kalau ingat sama kematian, terus bisa menghindarinya gituh? Yo ndak, tho… Terus, kenapa gue tiba-tiba ingat soal kematian? Begini ceritanya…

Dalam jangka waktu satu bulan terakhir ini, gue udah dua kali berada dalam situasi dimana gue merasa bisa jadi itulah akhir perjalanan hidup gue. Pertama, ketika gue dalam perjalanan dari Pekanbaru menuju Padang, yang merupakan kunjungan kedua kalinya ke kota itu pasca musibah gempa bumi. Ikut dalam mobil yang gue supiri sendiri itu isteri tercinta, Alif buah hati gue dan asisten rumah tangga. Ketika melewati tanjakan Silaiang, selepas keluar dari kota Padang Panjang, hujan turun dengan sangat lebat. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, saat dimana daerah Silaiang itu sedang dingin-dinginnya dan sedikit berkabut. Hati gue mulai risau. Tanjakan Silaiang ini cukup curam dan berbelok-belok, dimana sisi sebelah kiri jalan (dari arah Pekanbaru) adalah jurang yang membatasi sungai dengan arus yang kala hujan akan menjadi deras sekali. Adapun sisi sebelah kanan adalah bukit terjal dengan batu-batu besar bergelantungan disepanjang sisi bukit itu. Bukit-bukit inilah yang kesohor dengan aktivitasnya melongsorkan diri kebadan jalan, yang kalau anda lagi sial kebetulan berada dilintasannya, wassalam…

Hujan turun dengan lebatnya, membuat jarak pandang tak lebih dari 5 meter. Suara halilintar menggelegar jadi musik latar adegan thriller ini. Hati gue makin risau. Jalanan menjadi kuning ditutupi air hujan yang mengalir membawa butiran tanah kuning dari badan bukit. Beberapa mobil yang didepan gue berjalan sangat pelan sekali. Mobil-mobil dari arah berlawanan malah sudah terhenti akibat macet. Ternyata mereka menghindari batu-batuan sebesar kepala orang dewasa yang jatuh dari bukit dan bergeletakan dijalan (batunya…bukan kepala orang dewasanya !). Teng…kaki gue langsung gemetar. Batu-batuan itu baru aja menggelinding dari bukit, dan bukan nggak mungkin setelah itu batuan yang jatuh adalah sebesar kepala harimau dewasa…trus sebesar kepala gajah dewasa… trus sebesar gajah dewasanya sekalian.

Tak sengaja gue berpaling kearah bukit dan melihat tanah, yang awalnya gue kira aliran air dari atas bukit, udah mulai bergerak kebawah. Tanah yang terbawa air itu pelan-pelan meluncur dan merambat ke badan jalan. Ini longsor, gue yakin!! Spontan gue memencet klakson dan (sedikit) memaki mobil didepan yang gue nilai jalannya lemot sekali. Setelah itu gue mulai beristighfar, memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa. Kaki kanan gue mendadak kram sehingga sulit menginjak gas. Melihat gelagat gue ini, isteri yang tadinya nggak melihat situasi genting yang gue lihat akhirnya jadi ikut tegang. Syukur Alhamdulillah, setelah berjalan 5 menitan akhirnya gue melewati daerah rawan longsor tersebut tanpa tahu ada kejadian apa setelahnya. Gue berhenti di pom bensin pertama yang ditemui untuk melemaskan kaki gue seraya mengucap syukur telah terlepas dari ancaman maut (sebenarnya bukan terlepas dari ancaman maut, tapi memang ternyata bukan disitu ajal gue dan keluarga).

Kejadian kedua, ketika gue tiba-tiba sangat ingin sholat maghrib berjamaah (kira-kira jam 6 sore) di mesjid depan kompleks rumah gue, yang hanya berjarak 30 meter dari rumah. Ketika berangkat cuaca udah menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan, sehingga gue membawa sebuah payung yang lumayan besar. Ketika sedang sholat, hujan turun dengan derasnya. Lagi-lagi suara halilintar bersahut-sahutan seakan menjadi simfoni adegan thriller yang akan segera ditayangkan. Selesai sholat, entah kenapa gue tergerak untuk memberi tumpangan payung seorang bapak yang kedinginan diteras mesjid dan nggak bisa pulang karena nggak bawa payung. Bapak itu penjaga warung yang terletak sekitar 20 meter dari mesjid, tapi dengan arah berlawanan dari rumah gue.

Dalam perjalanan pulang, hujan semakin deras dan halilintar sambarmenyambar menghasilkan efek menakjubkan sekaligus mengerikan. Ya,mengerikan karena petir yang turun dari langit itu begitu rendah kebumi sehingga cahaya putihnya benar-benar terlihat oleh mata gue. Begitu rendah dan begitu dekat. Langkah gue makin cepat dan gemetaran. Perjalanan sejauh 50 meter itu terasa begitu lama. Dalam posisi gue berjalan sambil memegang payung berujungkan logam, gue adalah sasaran tembak yang empuk bagi halilintar itu. Jedheerrr…..sebuah petir berkelebat didepan gue, dijarak kurang lebih 10 meter. Begitu rendah dan begitu dekat dengan suara yang menggelegar. Payung ditangan gue hampir lepas…atau tepatnya hampir gue lepaskan karena takut petir berikutnya akan lebih jitu membidik gue. Kaki gue semakin gemetar, dan lagi-lagi…keluarlah ucapan istighfar dari mulut gue, memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa. Berkali-kali gue ucapkan istighfar dengan mulut yang bergetar karena gue merasa…mungkin itulah akhir perjalanan hidup gue. Begitulah, akhirnya gue sampai di rumah dengan selamat. Gue peluk dan cium isteri dan anak gue, yang cuma terheran-heran, kenapa gue terlihat ketakutan sekali.

Begitulah. Gue memandang dua kejadian itu bukan sebagai lolosnya gue dari maut. Itu semata hanya karena memang belum ajal gue. Karena tak seorangpun bisa menghindar dari maut apabila telah tiba saatnya. Gue malu dengan perasaan takut yang timbul dalam diri pada kedua kejadian itu. Kenapa takut? Ya, itu hanya cerminan dari kesadaran gue bahwa sebenarnya gue belum siap untuk meninggalkan dunia ini. Bagaimana kalau ternyata gue Game Over dalam keadaan ibadah gue masih banyak yang bolong-bolongnya. Bagaiman kalau ternyata kebajikan yang gue perbuat didunia ini masih kalah jauh dengan akumulasi dosa-dosa gue. Bagaimana? Sedangkan sesuai ajaran agama gue, gue tahu persis ketika seseorang sudah Game Over, tak ada yang bisa me-restart kembali “permainan”-nya. Tak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan raganya ke dunia dan memperbaiki kekhilafannya itu. Mengapa tak segera dibenahi kehidupanmu disaat masih diberi kesempatan hidup didunia ini? Mengapa? Sebelum semuanya terlambat

Begitulah. Apa yang gue alami ini juga mengingatkan gue akan kisah Firaun yang memohon ampun kepada Sang Khalik disaat nyawa sudah sampai di tenggorokan dan siap meninggalkan raganya. Semua sudah terlambat baginya. Mengapa ketika hidup dan berkuasa tak diturutinya kata hati yang membisikkan, bahwa sebenarnya ajaran Nabi Musa itu adalah yang benar, dan ia bukanlah seorang Tuhan. Mengapa disaat sehat dan memiliki waktu luang, berat sekali rasanya meluangkan waktu ber-istighfar, memohon ampun kepada Yang Maha Pengampun? Mengapa disaat sehat dan memiliki waktu luang tak gue sempatkan memikirkan mati. Padahal gue sendiri tahu gue belum siap menghadapinya. Kalau tak pernah memikirkannya dan mempersiapkan seluruh “bekal” yang dibutuhkan, bagaimana gue siap menghadapinya?

Ps: Sesampainya di Padang, besoknya gue baca dikoran bahwa telah terjadi longsor di daerah Silaiang pada kemarin sore, yang menimpa dua buah kendaraan yang sedang melintas.

 
21 Comments

Posted by on November 7, 2009 in Santai

 

Tags: , , ,

21 responses to “Sebuah Catatan Tentang Kematian

  1. ikkyu_san

    November 8, 2009 at 2:02 am

    “Karena tak seorangpun bisa menghindar dari maut apabila telah tiba saatnya. ”

    Benar sekali…. dan selalu ada di dalam benakku juga, apakah aku sudah siap? BELUM! Tapi? Kapan siapnya? NEVER!
    Tidak pernah kita siap, dan bilang padaNya,
    “Ambil nyawaku sekarang….!”

    Aku cuma bisa berusaha, berbuat…berbuat… berbuat yang sekiranya berkenan pada Tuhan.Sambil berdoa tentunya

    EM

    Anderson:
    Stuju Mba…kita ngga akan pernah bisa bilang bahwa kita udah siap. Yang penting, terus aja mempersiapkan diri. Makasih, Mba..

     
  2. DV

    November 8, 2009 at 5:28 am

    Hehehe tulisan ini menarik.
    Gw jadi malu sama diri sendiri soalnya gw juga pengen nulis soal kematian tapi mendadak takut sendiri…

    Thanks, Bro!

    Anderson:
    Sama-sama, Bro..

     
  3. arman

    November 8, 2009 at 5:33 am

    wah yang cerita pertama itu serem banget ya jalanannya…. apa harus sering2 lewat rute itu?

    Anderson:
    Kalau mau ke Padang dari Pekanbaru, alternatifnya memang nggak banyak dan rata-rata medannya ya seperti itu..

     
  4. Wempi

    November 9, 2009 at 2:31 am

    jalan panorama indaruang kasolok mirip jalan silaiang mode itu loh.

    kalau di silaiang kanai longsor, di panorama koh kendaraan sering terjun bebas ke dalam jurang.

    Anderson:
    Batua Wem…samo-samo sangar medannyo..🙂

     
  5. imoe

    November 9, 2009 at 11:52 am

    rumahnya dimana da son ?

    Anderson:
    Di Banda Buek, Moe…
    Tapi maaf, ambo indak manarimo parsel doh…hehehehe😀

     
  6. AFDHAL

    November 10, 2009 at 2:28 am

    sippp
    mantapzz bro..
    kita juga jangan terlalu PD, krn “bekal” kita belum tentu cukup

    Anderson:
    Wah…Afdhal ini simpatisan parpol tertentu ya? Ada apa dengan PD, Dhal? hehehe….🙂

     
  7. Riris E

    November 10, 2009 at 4:04 am

    Takut itu manusiawi, Bro! Asal jangan dikuasai ketakutan😀. Ketakutan yang menyadarkan kita untuk senantiasa memiliki persiapan yg baik dalam menuju alam kekekalan.

    Perenungan yang Mantabs!

    Anderson:
    Ya, jangan hanya takut tapi nggak ngambil tindakan apa-apa, tul gak?Makasih ya, Mba…

     
  8. Ria

    November 10, 2009 at 7:16 am

    maut adalah mutlak…jadi mempersiapkan diri ya mas…

    really nice…jadi bercermin apakah ibadahku cukup untuk dibawa ketika mau menjemput😦

    Anderson:
    ya…layaknya orang mematut diri di depan cermin, untuk meyakinkan apakah penampilannya udah oke atau minimal, memadai..🙂

     
  9. Reva Liany Pane

    November 10, 2009 at 7:33 am

    Pertama saya mengalami hal yang serupa dengan Abang adalah 3 tahun lalu, waktu gempa Jogja. Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. 3 tahun setelahnya, waktu gempa menghantam Tasikmalaya dan Jakarta beberapa bulan lalu, saya masih mengucapkan doa yang sama untuk diberi kesempatan memperbaiki diri dan beribadah lebih banyak lagi…

    Selalu ada hikmah di balik kejadian. Bersyukurlah kita yg masih diberi waktu untuk menarik hikmah dari setiap kejadian.
    🙂

    Anderson:
    Betul Mba…kadang kita butuh kejadian tertentu untuk mengingatkan kembali udah sampai dimana ‘persiapan’ kita jika telah sampai waktunya..

     
  10. aurora

    November 10, 2009 at 12:39 pm

    hmm.. tak ada yang bisa menebak kematian, menunda, atau mempercepatnya, sedekat apapun waktunya. jujur, aku belum siap untuk mati bang, shalat masih banyak, begitu banyak bolong… amal juga belum banyak.. mungkin bisa dipastikan masuk neraka deh, kalau mati sekarang… namun ya, aku harus mempersiapkan segalanya, karena cepat atau lambat kematian pasti akan menyapa, segera bersiap. menyiapkan surat wasiat untuk mewariskan http://www.langittimur.com adalah langkah awal untuk persiapan…. hihihi

    Anderson:
    *bersiap-siap menerima warisan dari Arif*

     
  11. boyin

    November 11, 2009 at 3:36 am

    saya jarang berpikir soal mati bro, paling2 kalo saya ngalamin kejadian itu yang ada di benak saya adalah wah kalo itu batu nimpa kap ato bagian mobil, biaya tambahin lagi donk…tapi saya jadi mikir tentang cerita tadi. thanks for the article.

    Anderson:
    Hehehe…emang reaksi orang dalam menghadapi suatu kejadian bisa bermacam-macam, Bro… Kebetulan waktu itu saya malah kepikiran soal maut aja

     
  12. bukan facebook

    November 11, 2009 at 5:58 am

    serem abies…tapi yah kalo emang udah waktunya, siap gak siap harus dicabut juga…

    Anderson:
    yup..siap ngga siap ya harus berangkat…😦

     
  13. zee

    November 11, 2009 at 7:01 am

    Waduh seremnya baca batu-batu berjatuhan.
    Saat melihat kejadiaan dimana kita tidak bisa mengontrol segalanya, kita baru tahu bhw manusia itu begitu kecil di mata Tuhan.

    Anderson:
    Iya Mba…sereeem…🙂

     
  14. nakjaDimande

    November 12, 2009 at 4:38 am

    iyo uda, memang silaiang rawan longsor apalagi hujan terus, kemarin pasa lereng yang kena longsor memakan korban juga..

    ajal, kita tak pernah tahu.. hanya sekejap, tiba-tiba muncul dihadapan mata. bundo klo lagi di motor sering tersadarkan ttg ajal. mendadak ditabrak jatuh ke jalan saja kita ngga nyangka kok.. begitu juga ajal, tak pernah ada tanda-tandanya.

    setiap langkah kita hanyalah untuk menjemput..

    Anderson:
    Waduh…bawa motornya hati-hati donk, bundo, jangan sambil mikirin yang macam-macam🙂

     
  15. Yari NK

    November 13, 2009 at 3:07 am

    Jadi ingat…. banyak saudara2 kita yang tekena bencana alam yang tidak sempat berbuat apa2 tiba2 musibah tersebut datang begitu saja. Yah, mudah2an kita selalu menjadi orang yang selalu ingat kepadaNya, setiap detik, di kala senang maupun susah agar bekal kita cukup di hari kemudian…

    Anderson:
    Itulah yang saya takutkan, Pak Yari..

     
  16. vizon

    November 17, 2009 at 7:38 am

    kematian itu memang tidak perlu ditakutkan, tapi perlu dipersiapkan, karena datangnya tak pernah terduga, bisa kapan saja dan di mana saja.

    masih ingat kan dengan tulisanku soal kematian?😀
    http://hardivizon.com/2009/08/07/kematian/

    Anderson:
    Pasti Uda… aku masih ingat sama tulisan yang itu. One of your inspiring posts yang masih kuingat sampai sekarang

     
  17. racheedus

    November 18, 2009 at 6:15 am

    Dalam situasi genting saat nyawa sudah di ujung tanduk, kita pun jadi semakin sadar, betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan-Nya. Semoga dua kejadian itu semakin membuat saya juga ingat pada-Nya. Ufs! Saya juga belum shalat. Udah dulu, ah.

    Anderson:
    Itulah yang saya takutkan Pak… kalau nyawa udah diujung tanduk baru kita bertobat, apalah bedanya kita dengan Fir’aun Laknatullah…

     
  18. nyanya

    November 18, 2009 at 2:11 pm

    Bang, setelah ngebaca tulisannya gw jd merinding.. Sereem.. Kita sebagai manusia hanya bisa pasrah, org temen gw aja lagi di salon bisa game over karna gempa kok.. Mudah2an kita jadi lebih ingat kepada Nya.. Allah yang memiliki kita semua, jadi Dia bisa berkehendak apa saja terhadap umatNya.. Yang penting kita selalu minta kepada Allah umur yang panjang, supaya lebih bisa banyak beribadah. Allah Maha Mendengar kok.. Jangan ngomongin kematian melulu donk, kasian keluarganya nanti kepikiran.. Berdoalah di panjangkan umurnya, Amiiin…

    Anderson:
    Iya sayang…aku akan selalu berdoa dipanjangkan umurnya😀 *pssst…ini bojoku loh…*

     
  19. Eka Situmorang-Sir

    November 23, 2009 at 6:09 pm

    Beruntungnya kamu mas🙂 diberi peringatan seperti ini.
    Anw… kenapa akhir2 ini saya juga kepikiran akan sudahkah kita memberikan yang terbaik dalam hidup ini…
    ah nice posting!

     
  20. Badruz

    November 26, 2009 at 7:59 am

    Memang rahasia Allah SWT tak ada yang tahu mas, kalau memang belum ajalnya ya apapun mesti ada jalnnya untuk selamat, dan siapapun tak bisa menghindari maut menjemput yang bernafas.

    Kisah yang menarik mas, mengingatkan untuk kita semua agarf selalu ingat pada mati. karena ingat mati juga sebagai kontrol pada diri kita agar tidak selalu memberati urusan dunia melulu.

    salam.

     
  21. nanaharmanto

    December 14, 2009 at 9:50 pm

    wah..ini toh…pengalaman dag dig dug melintas di jalan berbukit di saat hujan deres dan gentar menyadari resiko longsor sewaktu-waktu…deskripsi kita hampir sama ya? postinganmu sih lebih duluan…nah loh…jangan2 gue bisa “ngintip” tulisan orang lain sebelum membacanya hihi…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: