RSS

Hikayat Rentenir

02 Nov

Alkisah di Desa Sukademo, negeri antah berantah, seorang rentenir bernama Paijo sedang gundah. Ia baru saja di-non aktifkan dari jabatannya sebagai wakil ketua rentenir sektor Pasar Baru dan dengan demikian berstatus Rentenir Menunggu Penempatan alias non-job. Keputusan ini diambil oleh Bang Beni, sang Koordinator Rentenir di kantor pusat karena Paijo dinilai telah lalai dalam proses pemberian hutang kepada Ahong, pengrajin sendal kulit di Desa Sukademo. Hutang yang diberikan belakangan menjadi macet karena konfik rumahtangga si Ahong yang merembet ke bisnisnya. Paijo dianggap merugikan Bu Pertiwi, pemodal yang selama ini mendanai bisnis rentenir Bang Beni. Bu Pertiwi adalah Kepala Desa Sukademo, yang dengan demikian memiliki kekuasaan yang legitimate di desa itu. Konon kabarnya, kalau Paijo kemudian dianggap mendapat keuntungan pribadi dari proses pemberian hutang kepada si Ahong, maka masalahnya akan bergeser dari masalah administratif ke ranah hukum pidana mengacu pada UU Anti Korupsi. Ciloko.

Bang Beni sebenarnya adalah anak kandung Bu Pertiwi. Ia, bersama Bang Beri, Bang Beten dan Bang Mandra dimodali oleh Bu Pertiwi dengan menggunakan uang kas Desa Sukademo untuk berbisnis sebagai rentenir (halah…KKN donk?). Tujuannya mulia, sebagai agent of development, untuk mendukung proses pembangunan Desa Sukademo. Sudah banyak pembangunan di Desa Sukademo yang dibiayai oleh empat bersaudara ini. Sudah banyak pula juragan-juragan kaya di desa ini yang dulunya mendapat hutangan dari mereka. Namun status mereka sebagai anak kandung kepala desa tidak lantas membuat semuanya menjadi mudah. Tanyakanlah pada Bang Beni, yang merupakan rentenir tertua dari empat bersaudara itu. “Beuuh….mau bergerak saja susah,” kata Bang Beni ketika ditanya bagaimana rasanya berbisnis rentenir dibekingi kepala desa. Lho, kok bisa? “Lha iyalah…gue selalu diawasi setiap kali ngasih hutang. Istilah kerennya diaudit gitu loh..” lanjutnya berapi-api. Kan semua bisnis normalnya memang harus diaudit, Bang, supaya transparan gitu loh? “Ente ngga ngerti sih… yang ngaudit gue itu bisa 5 instansi yang berbeda!! Emak gue membentuk instansi RENTENIR SUKADEMO, sebagai rentenir sentral yang kerjanya membuat peraturan bisnis rentenir. Tiap tahun gue selalu diaudit buat mastiin praktek perenteniran gue udah sesuai pakem apa belum” lanjut Bang Beni. “Udah gitu, ada lagi salah satu tetua Desa Sukademo, namanya BAPAK PEMERIKSA KEUANGAN. Nih orang kerjaannya kurang lebih sama aja, memeriksa keuangan seluruh anak yang bisnisnya dibiayai menggunakan dana kas Desa Sukademo. Keuangan aparat desa pun termasuk yang diperiksanya” terangnya. Benar juga yah… “Kalau ditambah dengan auditor independen, auditor internal dan Branch Quality Assurance sesuai UU Desa Sukademo, berarti minimal ada 4 kali pemeriksaan yang harus gue ladenin dalam satu tahun operasi. Kapan gue mau kerjanya coba..??” Bang Beni menutup wawancaranya dengan pertanyaan retorik.

Sekarang bandingkan dengan rentenir lain, yang enggak pake modal Bu Pertiwi. Baba Cakwe misalnya. Ia berbisnis rentenir menggunakan uangnya sendiri, yang ditabung dari keuntungan berjualan tepung di Desa Sukademo. Makanya ia hanya tunduk pada peraturan yang dibuat rentenir sentral. Setiap tahun bisnis rentenirnya juga diaudit oleh auditor independen. Dengan jumlah pemeriksaan yang lebih sedikit, Baba Cakwe memiliki kesempatan untuk bekerja optimal. Dan yang lebih penting lagi, UU Antikorupsi nggak bisa serta merta dialamatkan kepada Baba Cakwe dan anak buahnya. Kalau ada hutang yang diberikan oleh anak buah Baba Cakwe macet, mereka hanya dikenakan sanksi administratif. Bu Pertiwi sebagai kepala desa tidak akan menyangkut-nyangkutkan masalahnya ke UU Antikorupsi karena kerugian itu akan ditanggung sendiri oleh Baba Cakwe. “Bukan urusan gue,” kata Bu Pertiwi.

Lain halnya kalau anak buah Bang Beni, Bang Beri, Bang Beten dan Bang Mandra yang melakukan kesalahan serupa. Bu Pertiwi akan memerintahkan untuk mengusut secara mendalam, apa penyebab macetnya kredit itu. Kalau macetnya hutang itu mengakibatkan kerugian Desa Sukademo, maka ia akan dijerat UU Antikorupsi dengan ancaman pidana. Oalaah…. namanya bisnis ya pasti ada risiko rugi toh Bu… Kalau dikit-dikit dijerat pasal korupsi, ntar anak buahnya Bang Beni, Bang Beri, Bang Beten dan Bang Mandra jadi sangat hati-hati sekali (alias takut) donk ngasih hutang. Salah salah ntar masuk bui lagi.

Begitulah. Kembali ke cerita Paijo diatas. Sekarang ia mengisi hari-harinya di kantor pusat rentenir Bang Beni sambil menunggu hasil pemeriksaan auditor internal. Ia tak habis pikir, bagaimana selama ini ia adalah salah seorang rentenir yang loyal kepada Bang Beni, namun tetap aja harus tersangkut masalah seperti ini. Padahal waktu ia memberikan hutang kepada si Ahong, semuanya sudah sesuai prosedur dan analisa yang memadai. “Mudah-mudahan ini bukan akhir karir perenteniran saya” ucap Paijo ketika berpamitan dengan anak-anak buahnya di Sektor Pasar Baru. “Ya…kami mendoakan semoga masalah ini cepat selesai dan karir Pak Paijo yang cemerlang selama ini bisa berlanjut kembali dengan kesuksesan. Ibarat bola karet, anggap saja kali ini Bapak sedang membentur lantai, mengumpulkan energi untuk kembali memantul keatas lebih kencang lagi,” begitu pesan anak-anak buah Paijo yang bersimpati pada masalah yang menimpanya.

 
18 Comments

Posted by on November 2, 2009 in Serius Tapi Santai

 

Tags: , , , , , ,

18 responses to “Hikayat Rentenir

  1. Wempi

    November 2, 2009 at 2:11 am

    Semua ada risiko. setelah semua selesai bang paijo mengundurkan diri saja, minta dipensiunkan dini atau minta dipecat saja biar dapat pesangon lebih gede.

    selanjutnya bikin bpr (bang perkumpulan rentenir), jadi hanya di audit oleh bi (bang induk) gak banyak lagi yang audit, kalopun macet ditangung bersama.

    Anderson:
    Hahaha…ide bagus, Wem… ide bagus…

     
  2. nakjaDimande

    November 2, 2009 at 3:04 am

    duh, banyak bener abang-abang di sini yaa.. gimana kalo abang anderson mulai bertindak saja, semua sebenarnya hanya menunggu keputusan dari abang anderson yang bijak😀

    Anderson:
    Hehehe…bijak kalau dalam bahasa minang artinya ‘bawel’ bukan?😦

     
  3. Afdhal

    November 2, 2009 at 9:37 am

    wah “sindirannya” mantapzz bang..

    Anderson:
    kekekeke…ada yang tersindir toh?

     
  4. DV

    November 2, 2009 at 10:32 pm

    Cerita ini cerminan dari keadaan sebenarnya di sebuah negara yang bernama…. :))

    Inget rentenir aku inget tentang nenekku. Dulu, ketika susah, beliau pernah terjerat padanya..

    Skali tempo cerita soal penjelasan rentenir, Bro!
    Kutunggu!

    Anderson:
    Kira-kira judulnya apa ya, Bro? RENTENIR: UNDISCLOSED STORY
    Hehehe… someday, Bro…lagi nyari kira2 apa yang pas untuk diceritain soal rentenir😀

     
  5. Reva Liany Pane

    November 3, 2009 at 7:46 am

    Hahaha…, good story! Bacanya jadi ketawa sendiri😀

    ‘Macroeconomics for dummies‘ — Abang memang piawai membawakan topik ini. Salam kenal🙂

    Anderson:
    Makasih dan salam kenal juga, Mba..
    Macroeconomics for Dummies? Hmm…sebenarnya blog ini udah ‘memperluas’ cakupannya menjadi all topics, ngga cuma masalah makroekonomi.. Supaya ngga kehabisan ide😀

     
  6. nh18

    November 3, 2009 at 9:48 am

    Bang Beri, Bang Beni, Bang Beten dan Bang Mandra …

    Ahaaa … I love the personification …

    Salam saya

    Anderson:
    Ahaaa… glad that you love it, Om Trainer 😀

     
  7. racheedus

    November 3, 2009 at 12:54 pm

    Lagi nyindir kasus Bank Century, ya? Salam aja deh buat Paijo. Pensiun aja lah dari rentenir.

    Anderson:
    Hmm..itu sih terserah interpretasi masing-masing Pak🙂

     
  8. Yari NK

    November 4, 2009 at 3:17 am

    Huahaha…. maju kena mundur kena ya?? Kalau nggak ngasih kucuran kredit kena UU pasal anu, kalau terlalu murah hati mengucurkan kredit apalagi dengan sistem yang acakadut ditambah sistem KKN yang kurang profesional, akhirnya macet juga. Walaupun diaudit ratusan kali kalau yang mengaudit juga KKN apalagi kurang profesional dan kurang kredibel, ya udah deh…. jadinya benang kusut kayak gitu… huehuehue…

    Anderson:
    Jadi inget film Dono, Kasino, Indro, Pak…Maju Kena Mundur Kena😀
    Yah…kalau benangnya dah jadi kusut gitu, mengurainya musti sabar, Pak… susah, tapi bukan nggak mungkin..

     
  9. Rockha

    November 5, 2009 at 1:49 am

    Keren bang!
    Salam knal deh..
    Gw lg pgen nyoba bwt blog nih, penasaran. ntar boleh tak bang tulisanny ni gw pasang dblog gw. (Of course nyntumin sumber..)
    thks

    Anderson:
    Boleh, Bro (apa sis?)… my pleasure… Selamat nge-blog deh, semoga semangat menulisnya tetap bertahan…
    Oiya…salam kenal juga..

     
  10. pakde

    November 5, 2009 at 11:45 am

    Satu sisi demi kebutuhan dan menjaga nama baik moral dikorbankan meskipun hati kecil sebetulnya menolak, tapi kalau menolak kenapa masih betah jadi tangan kanannya beni? Malang benar paijo ya….

    Paijo ikut dites psikologi nggak waktu bergabung sama beni? kalau ikut pasti nilainya jeblok ya… makanya ikut kehilangan harga diri.,

    Anderson:
    Sebelum kasus itu, Paijo termasuk ‘the rising star’ loh, Pak… bank technically…

     
  11. vizon

    November 6, 2009 at 4:10 am

    kasian betul nasib paijo…
    memang begitulah, aturan Tuhan saja bisa diotak-atik manusia, apalagi aturan yang dibikin manusia, sangat interpretable…

    oya, saya kemarin sempat sebel sama kantor. soalnya mulai bulan kemarin, gaji saya yang sebelumnya ditangani bang beni, tiba-tiba dipindah ke bang beri. alasannya, itu adalah petuah dari pak men, bawahannya bu pertiwi… huh! antar anak bu pertiwi saja sudah saling sikut. gawat…😀

    Anderson:
    hmm…begitulah Da, kalo urusan fulus, kekerabatan pun kadang di tabrak. Semuanya berebut ingin menjadi yang paling banyak setorannya bagi Ibu Pertiwi😀

     
  12. Eka Situmorang-Sir

    November 6, 2009 at 5:01 am

    Cerdik!🙂
    nice bro!!!
    kapan ya aku bisa bikin yg begini hehehe

    Anderson:
    Makasih, Sis.. your posts in your blog are marvelous as well, hehehe

     
  13. Cara Membuat Website

    November 6, 2009 at 7:34 am

    pertama kali baca .. gak ngeh ..
    sampe 2 kali baca lho .. baru ngerti .. (telmi ya .. heheh)
    mantap bro .. sindiran haluuss ..

    Cara Membuat Web

    Anderson:
    Yang penting akhirnya ngerti toh…😀

     
  14. Ria

    November 6, 2009 at 9:46 am

    wetsssssss keren mas!!!
    makanya kalau jadi renternir juga kudu cerdik ya? hehehehe…

    Anderson:
    Bener mba, jadi rentenir kudu cerdik kalo ngga mau dikadalin😀

     
  15. boyin

    November 11, 2009 at 3:43 am

    enaknya jadi baba cakwe kalo gitu, tapi fenomena sekarang ini juga gitu, orang gak peduli lagi udah berapa lama anda bekerja, kalo harus ditendang ya ditendang…heee

    Anderson:
    Ini nggak lagi curcol kan, Bro..?😀

     
  16. Miranda Modjo

    November 30, 2009 at 7:29 pm

    Keren bos….emang rada ribet yah jadi anak buah Bang Beni punya hubungan langsung ama ibu kandungnya Ibu Pertiwi.

    Klo karir Paijo mandek di bang Beni…masih ada rentenir asing yang akan menampung.

    Ngomong2 tentang audit rentenir dari asing juga banyak diperiksa-periksa, audit independen, emak dari negara asal dan sudah tentu Rentenir Sukademo…
    hehehehe🙂

    Anderson:
    Aha… ada rentenir asing yang mampir dimari…😀
    Iya juga sih… malah katanya kalo emak dari rentenir asing lagi ngaudit, ampe laci meja kerja anakbuahnya juga diperiksa ya, Mba? Kalo gitu masih untung saya yang laci kerjanya aman walopun penuh dengan aneka kopi sachet dan kwitansi tagihan listrik PLN😛

     
  17. Qben

    August 12, 2010 at 8:26 am

    Seharusnya dari dulu mas Parno berguru kedesa lain atau kota terlebih dulu,supaya ga kuper

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: