RSS

Substance Over Form

28 Oct

Buat sodara-sodara yang pernah belajar akuntansi, mungkin istilah diatas udah mahfum. Ya…istilah itu merupakan salah satu Prinsip Akuntansi, yang menjadi ideologi seorang akuntan melakukan tugasnya (emang tugas akuntan apaan?😀 ) Intinya prinsip itu, yang merupakan salah satu dari beberapa Prinsip Akuntansi lainnya, mengharuskan seorang akuntan untuk lebih mementingkan substansi dari laporan keuangan yang dibuatnya dibandingkan bentuk laporan itu sendiri. Makanya ngga heran laporan keuangan dimana-mana bentuknya selalu standar, kaku dan minim improvisasi. Eits…tunggu dulu, sebelum sodara-sodara yang nggak punya latar belakang akuntansi buru-buru meng-close posting ini, perlu gue jelaskan kalau gue sama sekali enggak berniat nulis soal akuntasi disini. Bukan juga gue mau ngajarin gimana caranya nyusun laporan keuangan…🙂

Itu mah cuma prolog😀 Gue cuma (lagi-lagi) mengangkat wacana yang sering jadi fenomena dalam kehidupan kita sehari-hari. Gue sering merhatiin (dan juga ngalamin) bahwa terkadang penampilan bisa menutupi apa yang terjadi sebenarnya. Wajar, karena orang biasanya sering kagum dengan apa yang terlihat, tanpa peduli bahwa dibalik yang terlihat itu mungkin tersembunyi suatu keburukan. Istilah kerennya, People Judge a Book by Its Cover… Lha iya, kadang kalo mau beli buku di Grame*** gue juga begitu kok. Kalau sampulnya keren, eye-catching dan pake kertas glossy…langsung mengira buku itu bagus dan lantas membelinya. Padahal kalau mau meluangkan sedikit waktu untuk melihat substansinya, ngebaca singkat isinya, maka kemungkinan sodara-sodara manyun karena membeli buku yang hanya bagus sampulnya doang bisa dihindari.

Cilokonya, dalam dunia akademis tak jarang yang terjadi justru kebalikannya, Form Over Substance. Sewaktu kuliah gue pernah ngalamin beberapa kali menyusun makalah dengan bobot pembahasan yang kurang lebih sama dengan seorang rekan, tapi nilainya lebih baik daripada gue. Usut punya usut, selidik punya selidik, ternyata si dosen ini terkenal suka dengan keindahan. Sang rekan yang kebetulan punya citarasa seni tinggi menghiasi makalahnya dengan tabel dan grafik warna-warni. Covernya mantap punya. Colorful. Bandingkan dengan makalah gue, plain, tabel dan grafiknya banyak tapi tanpa warna, ngebosenin. Begitulah… Ada yang bilang, itu takdir gender. Laki-laki memang biasanya plain, maunya tudepoin dan kurang merhatiin estetika. Kebetulan pula sang dosen dan rekan tadi adalah wanita, yang umumnya menyanjung keindahan. Woow… what happen to the Substance, then..?

Dalam dunia kerja pun, kecenderungan orang untuk melihat Form Over Substance dijadikan celah buat meloloskan proposal proyek/ produk yang secara substansi mungkin ‘nggak bunyi’.  Para konsultan (maapkeun saya ya…kawan-kawan konsultan) yang mengajukan proposal proyek tertentu biasanya mengajukan proposal yang sophisticated, menarik, rancak, penuh tabel dan grafik warna-warni untuk menutupi substansi proposalnya yang sebenarnya biasa-biasa aja. Buat gue, kalau substansi proposalnya memang tepat sasaran, informatif dan ‘bunyi’, maka tampilan yang keren akan menjadi bonus. Tapi kalau suatu proposal dipilih lebih karena tampilannya yang lebih kinclong dan ‘terlihat’ berbobot…  Woow… what happen to the Substance, then..?

Hehehe…begitulah. Bagaimana dengan sodara, apakah lebih mementingkan substansi daripada tampilan? Atau lebih suka yang seimbang?

PS:

1. Tulisan ini terinspirasi dari memori gue akan pekerjaan gue dimasa lampau .

2.Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menyerang profesi atau gender tertentu. No offense.. Peace… Damai…🙂

 
16 Comments

Posted by on October 28, 2009 in Santai

 

Tags: ,

16 responses to “Substance Over Form

  1. Eka Situmorang-Sir

    October 28, 2009 at 10:04 am

    Jelas pilih yang seimbang dunk uda😉
    (SKSD bilang uda😛 hihihi)

    substansinya keren tapi gak enak dibaca, ya jadi males toh..
    tapi kalo cuma tampilan yg keren tapi isinya memble itu mah tong kosong nyaring bunyinya.

    Tadi kirain mau bahas soal penampilan org2 yg kadang melebihi pendapatan😛 heheehe kecele oh kecele :p

    Anderson:
    Hehehe…kecele ya..😀 Tapi kamu benar, Ka.. orang yang tampilannya melebihi pendapatan itu bisa juga masuk dalam pembahasan ini, karena merupakan kebalikan dari Substance Over Form.. Thanks, Ka.. Kamu berhak dapat PERTAMAX😀

    salam, EKA

     
  2. nakjaDimande

    October 28, 2009 at 1:10 pm

    duh, untung anderson bukan sedang ngomongin bundo, karena bundo itu udahlah sampulnya buruk isinya kacau pula.. **belajar sama anderson untuk mempercantik isi🙂

    Anderson:
    ah…Bundo bisa aja… saya kan juga masih belajar *tersipu-sipu*

     
  3. racheedus

    October 28, 2009 at 3:03 pm

    Ibarat komputer, kalau casing aja bagus, tapi dalemnya Pentium I, tetep aja lelet, Uda. Casing emang penting, tapi jauh lebih penting substansi di dalamnya. Ya, idealnya, hidup memang harus seimbang. Kalaupun tidak bisa seimbang, substansi yang lebih diprioritaskan.

    Anderson:
    Ya..keseimbangan memang selalu lebih baik, Pak..

     
  4. arman

    October 28, 2009 at 5:17 pm

    yah harus seimbang dong…😀
    kalo substansinya gak ada, cuma keren di tampilan, ini sama aja ama bom waktu. nantinya bakal jadi masalah…
    kalo substansinya bagus, tapi tampilan gak ok, orang udah males duluan di depan… bisa2 malah gak jalan projectnya… hehe

    Anderson:
    tul Bro..paling cocok sih substansi yang bernas dibalut cover yang memikat..

     
  5. DV

    October 28, 2009 at 11:33 pm

    Sepakat dengan Eka, saya pilih yang seimbang.
    Bagaimanapun juga substansi yang bagus tak kan bisa dilirik kalau kemasannya tidak menunjang.

    Saya memang konvensional, tapi apa mau dikata saya sangat percaya “Cinta pada pandangan pertama”.

    Ada pandangan, ada impresi yang harus ditonjolkan, Bro!

    Tulisan yang menarik karena membuat otak saya berpikir juga🙂

    Anderson:
    You’ve got the point, Bro: Impresi…!! Impresi yang baik bisa jadi pijakan awal buat nunjukin substansi yang (seharusnya juga) baik.

     
  6. Pakde

    October 29, 2009 at 2:49 am

    Aku cenderung beli isi, bukan beli cover. lebih mementingkan substansi dooonk. Syukur2 kalau tampilannya aku yang buat. hihihi… pasti pas! Ngimbang hasilnya. (barangkali)

    Anderson:
    Mungkin tergantung konteks ya, Pakde? Kadang kita cuma butuh substansi yang baik aja, cover jelek ngga masalah. Di lain hal, mungkin substansi yang baik memerlukan cover yang juga baik supaya penerimaannya di masyarakat jadi lebih luas. Yang parah kalau cover baik untuk menyembunyikan substansi yang jelek. Atau.. udahlah substansinya jelek, covernya jelek pula…😦

     
  7. penerjemah

    October 29, 2009 at 10:56 am

    yaa…. bener juga tuh… yang diperlukan isinya bukan tampilan..

    Anderson:
    Sama donk kayak Pakde?😀

     
  8. masnur

    October 29, 2009 at 11:26 am

    Yang jelas meskipun isinya perfect tapi kalau kemasannya amburadul jelas saya nggak selera. Jadi menurut saya ada standart penilaian pribadi untuk masalah estetika dan masalah kualitas. Apapun itu dan itu sah.

    Tapi kalo cuma modal tampang doang ya emoh lahhh….

    Anderson:
    Setuju Mas…semua tergantung standar penilaian pribadi…🙂

     
  9. Yari NK

    October 29, 2009 at 12:35 pm

    Biasanya kalau perempuan memang lebih menghargai estetika dibandingkan laki2. Laki2 biasanya lebih analitis dan praktis. Laki2 yang lebih menghargai estetika biasanya nafsu seksnya berfikirnya juga seperti perempuan, begitu juga sebaliknya. Ini biasanya lho, nggak semuanya.

    Tetapi terlepas dari itu semua, si dosen memang tidak layak untuk menilai pekerjaan si mahasiswa jikalau ia hanya terpancing dengan segi estetika papernya. Kalau esensinya sama sekali tidak dilihat maka kualifikasi dosen tersebut nol.

    Tetapi mahasiswa juga banyak loh yang cuma bagus luarnya aja tapi dalemnya nol. Lihat aja berapa banyak yang cuma bergaya pakai Blackberry dan juga notebook yang hanya buat Facebookan. Tapi lihat saja kemampuan riilnya sungguh menyedihkan. Ya udah deh, mulai sekarang mari kita baguskan isinya jangan hanya membaguskan cover-nya saja. Cepat atau lambat pasti ketahuan bobroknya…😀

    Anderson:
    Jadi….memang ada kaitannya dengan gender ya, Pak?🙂

     
  10. vizon

    October 30, 2009 at 12:38 am

    Melihat dari sampul luar, itu adalah fitrah manusia Son. Ada teori yang mengatakan begini: “Manusia menilai dari apa yang tampak, Tuhan menilai dari apa yang ada di balik yang tampak”.

    Bila manusia menilai dari yang tampak, itu manusiawi, tapi bila ia mampu menilai lebih dari sekedar yang tampak, artinya ia telah melampaui kadar rata-rata manusia. Dan itu artinya, ia adalah manusia yang istimewa. Nah, dosen itu tadi, berarti masih dalam tataran manusia yang biasa-biasa saja…😀

    Namun, ada teori pembandingnya, yaitu: “Teknik lebih penting dari materi”. Dalam dunia ajar-mengajar, sebuah materi pembelajaran bila disampaikan dengan teknik yang biasa-biasa saja (termasuk tampilan sebuah presentasi), tidak akan memberi impresi apa-apa. Maka, bila ingin sebuah gagasan tersampaikan dengan baik, tampilan juga kudu diperhatikan secara lebih baik. Lihat saja dosen yang mengajar secara datar, tentulah akan membosankan. Namun, bila ada dosen yang mengajar secara atraktif, materi yang biasa-biasa saja, akan terasa luar biasa…

    Lho… komenku kok rada panjang ya? Duh, mau didelete kok eman… ya sudah, begitu saja, hehehe…😀

    Anderson:
    Luar biasa Uda..komen bijaksana dari guru kebijaksanaanku. Mudah-mudahan kita bisa jadi manusia yang istimewa itu ya, Da. Orang yang nggak buru-buru menilai sesuatu dari tampak luarnya aja.. *untung Uda ngga jadi men-delete komennya*

     
  11. Wempi

    October 30, 2009 at 3:05 am

    Kalo wempi menilai sesuatu itu dari bau nya bukan kulit/tampilan apalagi substansi.

    seperti menilai wanita, kalau bb nya minta ampun wempi mana nahan😆

    begitu juga menilai mangga termasuk durian. substansi soal belakangan.😆

    People Judge Several Things by Its Smell

    Anderson:
    Hehehe… istilah baru ya, Wem?

     
  12. boyin

    October 30, 2009 at 3:14 am

    biasain mencover yang baik. walaupun esensinya tidak begitu berkualitas..cover itu bisa menolong. demikian juga dalam mencari pekerjaan dan jabatan, percaya deh itu akan menolong banyak.

    Anderson:
    Kayak kata DV, membuat cover yang baik itu perlu dan banyak menolong untuk memberikan impresi awal. Tapi kalo nggak didukung sama substansi yang baik juga, nantinya bakal keliatan juga..trus jadi nggak enak hati sendiri toh?

     
  13. zee

    October 30, 2009 at 8:43 am

    Kalo saya mas, jelas awalnya pasti lihat cover. Intinya, sesuatu yg sudah dikemas dengan baik, berarti ada usaha lebih utk membuat orang lain merasa dihargai dgn kita memberikan tampilan yg baik. Mana ada orang mo beli buku yg covernya ancur? Begitulah kira-2. Saya sih percaya cover yang bagus umumnya cukup seimbang jg dgn isinya..

    Anderson:
    Mudah2an memang begitu adanya, Mba Zee..

     
  14. Catra

    November 1, 2009 at 3:02 pm

    Ternyata mas Soyjoy sarjana Ekonomi nih. biasalah mas, Pria emang gak suka banyak gaya. simple n ringan. No offense buat wanita:mrgreen:

    Anderson:
    Iya..No offense for ladies, yaa..

     
  15. Afdhal

    November 3, 2009 at 1:25 am

    biar lebih afdhOl harus combine dua-duanya bro

    Anderson:
    Afdhol pake “O” ya, bukan “A”🙂

     
  16. Jemy Arifin

    August 16, 2013 at 5:08 pm

    Prioritas substansi !!!!
    Karena point utamanya ada disitu, kalo sempet kasih bonus form.. monggo
    Yg susah kan substansinya, form tanya kanan kiri ajah gimana bagusnya..
    Form bagus buat iklan, tp iklan yg ngeboom sudah pasti isinya hebat.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: