RSS

Windfall Profit

13 Oct

Dalam ilmu ekonomi dikenal istilah windfall profit atau bahasa awamnya, rejeki nomplok alias ketiban duren dari langit. Istilah ini biasa digunakan untuk menunjukkan keuntungan yang diperoleh suatu negara atau perusahaan dari kejadian yang tidak di duga sebelumnya. Waktu harga minyak bumi naik tinggi akibat perang di Irak, negara-negara penghasil minyak diam-diam tersenyum riang karena dollar mengalir deras ke rekening bank mereka. Itu windfall profit. Pun ketika nilai tukar dollar naik gila-gilaan terhadap rupiah waktu krisis moneter tahun 1998, para eksportir yang penghasilannya dalam dollar bersiul-siul kegirangan. Itu juga windfall profit. Layaknya hukum kekekalan energi (jieeh…suit…suit… padahal pas SMA dulu nilai IPA gue pas-pasan kok🙂, diantara yang profit selalu ada yang loss. Ketika negara-negara penghasil minyak bumi tersenyum riang, negeri pengimpor minyak pada manyun, tekor, nombok dan harus ngeluarin uang ekstra untuk beli minyak. Ketika eksportir Indonesia beriul-siul kegirangan, importir yang kudu merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan dollar buat membayar pembeliannya pada terjengkang, mumet dan stress berat. 

Begitulah. Katanya yang demikian itu termasuk hukum alam juga. Ada yang menang, ada yang kalah. Ada yang masuk ada yang keluar. Ada yang untung ada yang rugi. Ada yang sedih ada yang gembira.

Fenomena windfall profit inipun, walaupun tidak dalam konteks finansial, sepertinya dialami oleh kota tempat tinggal gue sekarang. Udah beberapa tahun terakhir kota Pekanbaru dan sekitarnya mengalami krisis listrik yang parah…hampir sakaratul maut. Dalam satu hari minimal 3-6 jam pemadaman listrik dilakukan. Malah beberapa minggu sebelum memasuki bulan puasa kemarin lebih parah lagi, 6-9 jam pemadaman dalam satu hari. Omongan pedas masyarakat di media massa mengkritik ketidak mampuan PLN untuk menyediakan sumberdaya listrik ini tidak menghasilkan perubahan apa-apa. Entah apa masalahnya, PLN terkesan tidak sanggup mengatasi persoalan listrik di Provinsi yang katanya salah satu yang terkaya di Indonesia.

Nah, windfall profit yang gue maksud ini terasa pasca gempa bumi yang melanda Padang dan Pariaman minggu lalu. Pasca gempa kota Padang gelap gulita. Banyak gardu listrik yang luluh lantak dan tiang listrik bertumbangan. Akibatnya supply energi untuk daerah Sumbar, terutama Padang dan Pariaman terputus. Pekanbaru, dan wilayah Riau sekitarnya pun ketiban windfall profit dari pemutusan itu. Lha selama ini sebagian besar daerah Sumbar mendapat pasokan energi dari PLTA Singkarak (terletak di wilayah Prov. Sumbar) dan PLTA Koto Panjang (terletak di perbatasan Sumbar-Riau). Konon kabarnya, walaupun sebagian besar sumber air PLTA Koto Panjang terletak di wilayah Riau, namun arus listriknya lebih banyak disalurkan ke daerah Sumbar. Entah benar entah nggak dan entah kenapa, yang jelas sejak terjadinya gempa sampai 2-3 hari yang lalu listrik di Pekanbaru plong, bebas pemadaman. Logikanya sih, produksi energi dari PLTA yang ada terus berjalan, sedangkan wilayah penerima energinya berkurang signifikan. Alhasil, Pekanbaru pun bebas defisit energi dan listrikpun menyala sepanjang hari. Itu menurut teori gue lho… ngga ada konfirmasi resmi dari PLN. Alhamdulillaah, windfall profit… Eh..lho, kok bersyukur? Padahal kan sebenarnya itu jatahnya saudara-saudara kita yang di Sumbar, yang udahlah babak belur dihajar gempa, hujan deras, eh…mati lampu pula. Kalau benar teori gue diatas, berarti beberapa hari ini gue ibaratnya bersenang-senang diatas penderitaan saudara-saudara kita di Padang dan Pariaman donk? Amit…amit… bukan begitu lho maksudnya sodara-sodara… Tau gitu, kalo emang benar begitu teorinya, mungkin lebih baik listriknya tetap byar-pet deh di Pekanbaru. Lagian… PLN malu-maluin amat sih, kenapa musti nunggu bencana baru bisa ngasih listrik yang full cover, ngga pake mati… Alahmaaak

Ya, begitulah. Sekarang kabarnya listrik di Padang dan Pariaman udah mulai pulih kembali. Pekanbaru pun mulai kena pemadaman listrik bergiliran seperti yang udah-udah. Duuhh… mau sampai kapan sih kayak gini..                   Ya, begitulah…

Note: psst… ada teori lain yang menjelaskan kenapa listrik PLN nggak mati selama beberapa hari terakhir di Pekanbaru. Konon itu karena Partai Golkar lagi menyelenggarakan munas, pemilihan ketua baru  di Pekanbaru, jadi pemerintah yang kebetulan berasal dari partai beringin ini berkepentingan untuk memberi citra baik terhadap kota ini. Entahlah…

 
14 Comments

Posted by on October 13, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

14 responses to “Windfall Profit

  1. Eka Situmorang-Sir

    October 13, 2009 at 9:13 am

    Hmm windfall profit yang seperti buah simalakama.
    Dinikmati, gak tega sama yang terkena musibah,
    gak dinikmati… eeeeh udh gak dpt rejeki nomplok lagi🙂 lhaa udh mulai byra pet lg

    tapi koq ya saya lbh setuju catatan kaki yang ditulis miring itu yah😉

    salam, EKA

     
  2. marshmallow

    October 14, 2009 at 3:30 am

    duh, kenapa harus menunggu momen-momen khusus untuk negeri ini bebas dari pemadaman listrik bergilir, ya? mengenaskan. apalagi mengingat wialayah riau yang banyak tambang minyaknya.

    tapi fenomena ini agaknya sudah kolektif di negara ini, tak hanya di pekan baru.

    saya setuju soal hukum kekekalan energi. bila ada yang menerima sesuatu, maka ada yang harus memberi sesuatu.

     
  3. DV

    October 14, 2009 at 4:10 am

    Itu yang mbikin saya heran dari dulu hingga sekarang, kenapa PLN selalu tak bisa mencukupi listrik penduduk yang senantiasa membayar pajak listrik.
    Alasannya kekurangan energi, lha energi kan bisa diadakan dengan pembangunan fasilitas?

    Tulisan ini menarik karena bernada sindiran, semoga pejabat PLN membacanya, Bro :))

    Semoga di Pakanbaru ada windfall profit yang lain yang bukan karena bencana di tempat lain ya hehehe

     
  4. boyin

    October 14, 2009 at 4:40 am

    saya gak mau ikutan njelekin PLN ah..soalnya udah 3 tahun gak pernah bayar pajak nih…heee..tapi kalo mengenai pemadaman listrik waktu golkar, khan perhelatannya di hotel berarti kalopun listrik mati tentunya pake genset dunk bro…hiii

     
  5. soyjoy76

    October 14, 2009 at 10:10 am

    @Eka
    Hehehe…catatan kaki itu kan hanya mengangkat rumor di kedai kopi aja, Mba..

    @marshmallow
    Iya..ya..katanya di Medan juga sering kena pemadaman listrik bergilir ya, Un? *sigh*

    @DV
    Kira-kira windfall profit lainnya apa ya, Bro? Eh, denger-denger properti di Pekanbaru makin prospektif karna banyak orang-orang dari Padang yang mencari tempat tinggal lebih aman di Pekanbaru, sejak gempa bumi makin galak aja.. windfall profit juga, toh?

    @Boyin
    Ya..desas desusnya gitu, Bro… Logikanya emang gak ketemu sih… toh kalau listriknya padam Hotel masih punya genset sebagai gantinya. Tapi perhelatan partai beringin itu kan cukup lama Bro, 4 hari, apa mungkin pihak hotel memilih untuk ‘mengamankan’ pasokan listrik dari PLN daripada harus menanggung biaya bahan bakar yang mungkin aja lebih besar?

     
  6. Yari NK

    October 15, 2009 at 5:44 am

    Memang terkadang “rejeki nomplok” atau “ketiban duren” itu banyak yang at the expense of others atau atas penderitaan orang lain. Namun secara etikanya, kalau kita bisa mengendalikan faktor2 yang menyebabkan penderitaan orang lain tersebut ya sepatutnya kita hentikan apalagi kalau berlebihan. Namun kalau kita tidak bisa mengendalikannya, ya itulah yang namanya benar2 “ketiban durian”…😀

     
    • soyjoy76

      October 15, 2009 at 8:23 am

      Setuju Pak… ibarat disuguhi duren gratis, bukan hasil ngerampok, ya ngga pak?😀

       
  7. vizon

    October 15, 2009 at 11:39 am

    sebetulnya, pekanbaru itu bukan tidak cukup pasokan listriknya, tapi pemerintah kotanya aja yang terlalu berfoya-foya dengan listrik. lihat saja gemerlapnya kota itu di pekanbaru. banyak lampu kota yang mubazir dan bahkan cendrung boros…

    teori ini memang membuat kita serba salah, diterima salah gak diambil juga berabe… trus gimana dong? ya, nikmati saja, hahaha…😀

     
    • soyjoy76

      October 16, 2009 at 2:35 am

      Hmmm…kayaknya yg gemerlap dan foya-foya listriknya itu yang di Ring 1, Da… daerah rumah pak gubernur dan sekitarnya. Lainnya… lebih mirip suasana pedesaan sebelum ada Listrik Masuk Desa…😀

       
  8. nh18

    October 15, 2009 at 2:52 pm

    Hahahah …
    Saya tersenyum membaca paragraf terakhir …

    Dan statement saya adalah …
    “… bisa diatur …”

    hehehe

    Salam saya Pak

     
    • soyjoy76

      October 16, 2009 at 2:36 am

      Iya Om…seperti biasa… Bisa Diatur…

       
  9. Ade

    October 23, 2009 at 5:30 pm

    hhmm mungkin teori di paragraf terakhir yang benernya uda hehehe..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: