RSS

Wimbledon Effect

14 Aug

wimbledon 2

Dari serangkaian turnamen tenis grand slam yang diadakan setiap tahunnya, Australia Open, French Open, Wimbledon dan US Open, Wimbledon memiliki catatan unik dibanding ketiga turnamen prestisius itu. Bukan karena turnamen di negeri David Beckham ini menggunakan lapangan rumput (please, jangan membayangkan rumput gajah dihalaman rumah saodara-sodara๐Ÿ˜€ ). Bukan pula karena hadiah uang buat kampiunnya merupakan jumlah tertinggi dibanding yang lainnya. Fakta sejarah mencatat bahwa di turnamen Wimbledon yang sudah dimulai sejak tahun 1877 ini sudah lama sekali dikuasai oleh petenis-petenis asing. Terakhir kali petenis tunggal putra asal Inggris menjadi juara Wimbledon adalah tahun 1936! Masuk babak final pun dilakoni terakhir kali pada tahun 1938. Prestasi tunggal putri masih sedikit mendingan. Petenis putri asal Inggris yang terakhir kali jadi juara wimbledon adalah tahun 1977.

Begitulah, fenomena penguasaan turnamen oleh pemain asing ini kemudian diadopsi oleh ekonomis menjadi istilah Wimbledon Effect. Istilah ini digunakan untuk menganalisa fenomena perusahaan dan bidang usaha disuatu negara yang kepemilikannya dikuasai oleh asing. Istilahnya, ngga jadi tuan rumah di negara sendiri. Kebetulan juga, studi wimbledon effect ini dilakukan pertama kalinya di negeri the three lion. Ketika Margareth Thatcher jadi PM Inggris di tahun 80-an, ia melakukan kebijakan deregulasi pasar keuangan (pelonggaran berbagai ketentuan-ketentuan oleh pemerintah untuk menggerakkan perekonomian).

Kebijakan itu terbukti mampu melambungkan perekonomian Inggris, namun dengan catatan sebagian besar digerakkan oleh pengusaha-pengusaha dari AS, Timur Tengah dan Jepang. Sejak kebijakan deregulasi dicanangkan, banyak perusahaan yang tadinya milik englishmen asli dibeli sama raja minyak dari Timur Tengah, banyak perusahaan Amerika membuka cabang dan sukses menguasai pasar Inggris. Bahkan contoh gamblang yang sangat nyata disaat ini adalah akuisisi klub-klub sepakbola asal Inggris oleh milyarder Rusia, Amerika dan Timur Tengah. Secara tradisional klub sepakbola seperti Liverpool, Manchester United, Chelsea dan Manchester City adalah klub asal Inggris. Namun substansinya, kalau diliat dari sisi pemilik, adalah klub sepakbola milik Amerika, Rusia dan Uni Emirat Arab. Belum lagi kalau menengok jeroan masing-masing klub. Sodara-sodara yang penggemar sepakbola silahkan hitung sendiri ada berapa pemain berpaspor Inggris yang jadi bintang dimasing-masing klub. Seluruh jari di tangan kanan sodara masih bisa menghitungnya. Konon, masyarakat Inggris sendiri jengah dengan fenomena ini.

Itu di Inggris. Bagaimana di Indonesia? Okeh, sodara boleh mengadopsi istilah Thomas Cup Effect dengan analogi yang sama dengan Wimbledon Effect. Sudah lama sekali negeri ini merindukan untuk menjuarai Thomas Cup (dan Uber Cup). Selama ini, walaupun di inisiasi dan dibesarkan di Indonesia, Thomas Cup dan Uber Cup selalu didominasi oleh pebulutangkis non-Indonesia. Demikian pula dibidang perekonomian. Sejak reformasi tahun 1998, IMF dengan gagahnya mendikte Indonesia untuk meliberalisasi perekonomiannya. Akibatnya, perusahaan-perusahaan besar milik anak bangsa satu per satu jatuh ke tangan asing. Malah, saking liberal nya, aset strategis kayak Indosat dan Telkom pun dilego ke pihak asing. Dibidang perbankan sama saja. Sulit bagi gue untuk menyebut satu nama bank, selain bank BUMN tentunya, yang ngga dikuasai asing. Bank-bank milik jiran serumpun merajalela.

Okeh, semua perusahaan itu tetap beroperasi di Indonesia dan tetap bayar pajak untuk Ibu Pertiwi. Tapi ngga sedikit jumlahnya dollar yang mengalir ke negeri sang pemilik. Sementara kita hanya mengais-ngais remah yang tidak dikemasi mereka. Ibaratnya kita punya tanah luas yang diatasnya dibangun sebuah warung. Warung disewa sama tetangga sebelah. Penghasilan warung itu ya dibawa pulang kerumah tetangga, setelah bayar sewa secukupnya. Tak jarang sampah-sampah berserakan sisa aktivitas warung terpaksa dibereskan oleh pemilik tanah. Apa ngga sebaiknya sipemilik tanah sendiri yang mengusahakan warung itu? Apa merasa ngga bisa mengelola warung? Apakah sodara ngga jengah juga sama fenomena ini?

Foto Diambil di sini

 
16 Comments

Posted by on August 14, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

16 responses to “Wimbledon Effect

  1. DV

    August 14, 2009 at 7:12 am

    Ah, ada dua kesan yang kudapat setelah mbaca tulisan ini, Bro!

    Kesan pertamaku, entah kenapa aku tiba2 ingat bank tempat papaku dulu kerja dan sekarang tempatmu kerja..๐Ÿ™‚ Ada beberapa anak buah papaku dulu yang dulu diterima kerja karena prestasi main tenisnya, edan kan?๐Ÿ™‚

    Yang kedua, soal liberalisasi, aku tak paham sangat tapi yang pasti adalah, kita telah salah langkah!
    Harusnya kita dulu tak terlalu terbuka ya…

     
  2. imoe

    August 14, 2009 at 9:41 am

    Tenang aja, piala thomas yang akan datang akan kembali ke pangkuan ibu pertiwi…

     
  3. soyjoy76

    August 14, 2009 at 9:55 am

    @DV
    Ampun Om…saya masuknya pake test kumplit Om,… ngga pake beking, ngga juga karna suka maen tenis, Om… beneran deh…๐Ÿ˜€

    @Imoe
    Bener nih? Lagi prihatin nih sama perbulutangkisan nasional..๐Ÿ˜ฆ

     
  4. Yari NK

    August 15, 2009 at 4:44 am

    Sekarang French Open namanya sudah ganti resmi jadi Roland Garros (nama lapangannya). Wimbledon mungkin paling disegani karena merupakan turnamen tenis yang paling tua yang sekarang masih bertahan. Selain itu Wimbledon juga terkenal sangat menjaga tradisi. Di bulutangkis, sepertinya All England deh, turnamen terbuka tertua yang sekarang masih survive…

     
    • soyjoy76

      August 16, 2009 at 12:20 am

      Oh, French Open dah ganti nama toh? Kok mereka ndak bilang ke saya ya?:-D *sok penting*

       
  5. arman

    August 16, 2009 at 4:56 pm

    yah mungkin karena emang pemilik rumah gak punya kemampuan/keahlian untuk mengelola warung. jadi kalo warungnya dikelola sendiri ama pemilik rumah mungkin malah gak ada yang dateng…๐Ÿ˜›

    mungkin lho…

    mungkin juga yang punya rumah males, mendingan ongkang2 kaki dapet uang sewa daripada kerja… hehehe

     
  6. boyin

    August 18, 2009 at 1:56 am

    biasanya prestasi olahraga suatu negara tergantung dari kondisi intern negara tersebut.

     
  7. vizon

    August 18, 2009 at 2:43 am

    saya baru saja berencana menyewakan lahan saya kepada orang lain… kalau gitu, gak jadi deh, ntar repot lagi membersihkan sampah-sampahnya… hehe…๐Ÿ˜€

    bagaimana kalau kita putar haluan menjadi ‘DANGDUT EFFECT’? musik yang berasal dari india, kemudian dipakai oleh indonesia dengan ciri khas indonesia dan akhirnya berjaya…๐Ÿ˜€

    ok mang…? tarik mang…

     
  8. nh18

    August 18, 2009 at 2:56 am

    Winbledon effect …??
    hhmmm … bisa menjadi tuan rumah yang baik …
    tetapi tidak bisa menjadi juaranya …

    Ini pengetahuan baru bagi saya Pak

    Salam saya

     
  9. ichanx

    August 18, 2009 at 12:52 pm

    lah… Thomas Cup kan bukan punya Indonesia… namanya diambil dari Sir George Alan Thomas (Inggris). Trus, Uber Cup juga diambil dari nama Betty Uber (Inggris juga)… jadi pengambilan contoh Thomas/Uber di Indonesia gak tepat๐Ÿ˜€

     
  10. marshmallow

    August 18, 2009 at 2:25 pm

    *menikmati tulisan dan komentar-komentarnya*
    baru tau saya mengenai jargon ini. dan memang miris memikirkan adanya wimbledon effect di negeri kita. sebut saja berbagai kekayaan negeri yang dikelola asing, menyisakan remah-remah buat bangsa sendiri. contoh sederhana penambangan emas dan minyak. hm… ada benarnya kalau kita balik, seperti kata uda vizon, menjadi dangdut effect.

     
  11. soyjoy76

    August 19, 2009 at 3:02 am

    @arman
    iya…kalau mikir kepentingan jangka pendek ya enakan ongkang2 kaki, nerima sewa, ngga keluar keringat. Tapi ya menjalankan negara kan ndak bisa mikir kepentingan 2-3 tahun kedepan saja…

    @boyin
    setuju bro, kalau para pemimpin negeri sibuk dengan kepentingan diri dan kelompoknya, mana sempat mikirin prestasi olahraga…

    @vizon
    tarik..mang… *joged-joged pantat*

    @nh18
    senang berbagi pengetahuan dengan Om Trainer..๐Ÿ˜€

    @ichanx
    Hmmm… sayangnya di mata dunia bulutangkis ngga sengetop tenis. Jadi walopun fenomenanya cocok juga untuk analogi kasus yang sama, ahli ekonomi yang mbuat studi itu merasa kurang greget menamakannya dengan Thomas cup Effect. Ini menurut gue loooh…

    @marshmallow
    oke deh…dangdut effect๐Ÿ™‚

     
  12. ceznez

    August 19, 2009 at 10:37 am

    baca tulisan ini bikin inget hoby tenis saya yang udah 4 bulan lebih gak dilakoni…
    secara sedari mungil megang raket tenis.. bikin kesemsem maen tenis.. tapi mendadak males pas full ama kerjaan kantor ^_^

     
  13. frozzy

    August 20, 2009 at 1:46 pm

    ah, pemilik warung kan hanya mau terima hasil, nda mo pusing, mas….hehehehe

     
  14. Ade

    August 22, 2009 at 9:54 pm

    uda, komen OOT nih..

    met puasa dan mohon maaf lahir batin ya

     
  15. vizon

    September 27, 2009 at 12:22 am

    Son… apa kabar? dah lama nih gak “ketemu”, sehatkan?
    Met idul fitri ya, mohon maaf lahir dan batin…๐Ÿ˜€

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: