RSS

Kalo Negara Gue Miskin, Emang Kenapa?

15 Jun

Dalam suatu kesempatan mengikuti konferensi global AIESEC di Basel, Swiss waktu masih mahasiswa dulu, gue bersusah payah mencari sponsor yang bersedia mendanai keberangkatan itu. Maklum, kota Padang hanyalah sebuah kota yang ngga terlalu besar dengan dunia bisnis yang ngga terlalu berkembang. Perusahaan yang bisa didatangi dan diajak bekerjasama mendanai aneka kegiatan mahasiswa pun itu-itu aja. Bisa dibayangkan gimana kerasnya perjuangan mendapatkan sponsor di kota itu. Meski urusan sponsor belum menunjukkan titik terang, gue nekat ngurus visa dan lain-lain make celengan sendiri. Untunglah sampai 3 minggu menjelang keberangkatan gue, pihak kampus Universitas Andalas tercinta🙂, Dinas Pariwisata dan sebuah pabrik semen satu-satunya di Sumatera Barat berkenan menjadi sponsor. Yah lumayanlah, buat bekal di negeri orang. Soalnya tiket PP udah ditanggung sama panitia.

Nah, waktu registrasi ulang peserta konferensi, gue dihadapkan pada suatu pilihan, antara harga diri dan kebutuhan. Di form isian asal negara, terdapat pilihan untuk di contreng:

Developed Country

Konsekuensinya adalah, kalau anda berasal dari Developed Country, anda tidak akan mendapat subsidi dari panitia.  Kalau anda berasal dari Under Developed Country, maka anda akan mendapat subsidi sekitar USD 1.500!!! (kelihatannya panitia seksi pendanaannya gape nyari sponsor nih…). Gue coba baca, apa ada list yang menunjukkan negara gue masuk kategori apa. Eh, buseet…ternyata negaraku Indonesia tercinta masuk kategori Under Developed Country atawa negara terbelakang alias negara miskin !!! Oalah…malunya gue. Eh..eh…tapi setelah dipikir-pikir, lumayan juga dapet subsidi USD 1.500. Kan uang sakunya jadi nambah..hehehe.  Cuma kurs rupiah terhadap USD waktu itu emang masih Rp 2.500 per USD. Jadilah gue menyambangi beberapa negara tetangganya Swiss dengan uang subsidi panitia…berasa orang kaya sedang pelesir, kekeke… Biarin dah dibilang peserta dari negara miskin🙂

Lain gue, lain lagi Sri Mulyani. Ibu menteri keuangan republik ini ngga rela Indonesia masuk kategori negara miskin. Apa pasal? Ya, itu adalah konsekuensi kalau Indonesia minta moratorium atau pengampunan pembayaran utang kepada kreditur. Menurut Ibu Menteri, moratorium biasa diberikan kepada negara miskin dengan utang besar. Sedangkan Indonesia bukanlah negara miskin dan utang Indonesia hanya 32% dari GDP nya. Jadi, Ibu menteri bersikeras tetap akan membayar utang negara yang segera akan jatuh tempo karena moratorium hanya akan membuat rating Indonesia turun menjadi selected default. Kalo rating Indonesia turun, surat utang negara (SUN) dan instrumen keuangan lain yang dikeluarkan pemerintah harus memberikan yield (imbal hasil) yang lebih tinggi buat pemegangnya. Nah lho…kan ujung-ujungnya biaya lagi buat pemerintah. Begitulah kira-kira jalan pemikiran Ibu Menteri. Hmm….benar juga sih. Yang pasti, gue yakin si Ibu (eh…anak buahnya lah…) pasti udah ngitung benefit yang bisa diambil, biaya yang mungkin timbul dan risiko yang harus diantisipasi. Yang pasti juga, jangan sampai karna ngga mau dibilang negara miskin, pembayaran utang ini jadi terkesan maksa. Siapa tau dana untuk pelunasan ini bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat (halah…kok mengatas namakan rakyat, kayak Mega-Pro aja…). Toh, dengan nrimo dikatain dari negara miskin gue bisa naik ke puncak Eiffel…🙂

 
27 Comments

Posted by on June 15, 2009 in Macroeconomics for Dummies

 

27 responses to “Kalo Negara Gue Miskin, Emang Kenapa?

  1. arman

    June 15, 2009 at 3:37 pm

    huahahaha… harusnya subsidi 1500 itu dibawa pulang disetor ke kas negara tuh…😛

     
  2. mascayo

    June 15, 2009 at 10:16 pm

    miskin ngga miskin yang penting ngumpul🙂
    anyway, kalau sekarang gimana yaa?
    mestinya dah ngga under lagi, ya nggak?

     
  3. soewoengkosong

    June 16, 2009 at 12:31 am

    wakakaka karena miskin mengemis terus buat plesiran… hebad bener mentalnya

     
  4. soyjoy76

    June 16, 2009 at 2:28 am

    @arman
    hehehe…waktu itu indonesia masih ‘kaya’ Bro… $1.500 mah keciiil.. lagian itu kan subsidi buat peserta konprensi nya, yang notabene hanya mahasiswa cupu yang musti susah payah ngumpulin uang buat datang ke sono.

    @mascayo
    mungkin udah ngga under lagi mas… karna krisis global bikin banyak negara mengalami kemunduran, jadi negara kita (yg katanya masih mengalami pertumbuhan ekonomi) seolah-olah mengalami kemajuan..

    @soewoeng
    maksud koe opo mas? aku ndak mengemis… aku nyari sponsor, ada kontraprestasi dalam berbagai paket buat yang mendanai keberangkatan. Kalo subsidi dari panitia yang disono, itu kan dikasih buat peserta yang mungkin untuk datang ke acara itu udah ngeluarin biaya macam-macam…

     
  5. DV

    June 16, 2009 at 6:21 am

    Hohohohoh, gw suka tulisan ini!
    Kamu membandingkan suatu keadaan di masa lalu yang sifatnya personal dengan sekarang yang nasional.

    Saya ndak selalu marah dibilang miskin, biasanya malah diperhatikan🙂

     
  6. vizon

    June 16, 2009 at 8:12 am

    menjadi miskin itu enak lho…
    selalu jadi sasaran “sedekah”
    kalau orang kaya, malah selalu jadi sasaran “dimintai”, hehe…

    aku iri nih… dirimu sudah melanglang buana ke negeri orang, meski berupa “sedekah”. sedangkan diriku? masih seputar sumatera-jawa… oh nasib orang miskin…😦

     
  7. soyjoy76

    June 16, 2009 at 10:35 am

    @DV
    Tengkyu Bro… saya juga ndak marah kalau dibilang miskin asal jadinya lebih diperhatiin karna “kemiskinan” itu🙂

    @Uda Vizon
    Maap da, bukan bermaksud memanas-manasi.. Cerita diatas sebenarnya mau aku jadiin prolog untuk inti cerita sebenarnya yang diparagraf terakhir. Eh…malah prolog nya kepanjangan, hehehe….🙂

     
  8. Ade

    June 16, 2009 at 4:06 pm

    tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah..

    jadi mending jadi orang kaya aja kali yaa:mrgreen:

     
    • soyjoy76

      June 17, 2009 at 2:34 am

      Yup… I wish we were from a rich country:-) Apakah negara kita kaya? Entahlah… kata Koes Plus sih iya, lha wong Tongkat Kayu dan Batu aja bisa jadi tanaman…hehehe

       
  9. Yari NK

    June 17, 2009 at 2:40 am

    Kalau menurut saya, nggak jadi soal Indonesia itu negara ‘developped’ ataupun ‘underdevelopped’. Yang penting bagi saya, Indonesia masih jauh lebih punya denyut kemajuan dibandingkan negara tetangga kita Malaysia yang lebih makmur. Masalah ‘developped’ ataupun ‘underdevelopped’ hanya merupakan salah satu faset saja bagi pengukuran prestasi suatu bangsa. Ukuran masalah maju nggaknya suatu negara di sini hanya diukur dari PDB dibagi jumlah penduduk saja. Sebuah indikator yang tidak sepenuhnya merepresentasikan suatu bangsa. Contohnya adalah: China. China secara GDP per capita jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia atau Brunei, tetapi apakah kita berani mengatakan bahwa China tidak lebih maju dari Malaysia apalagi Brunei????? Sungguh naif jika seseorang mengatakan ‘iya’.🙂

     
    • soyjoy76

      June 17, 2009 at 2:52 am

      Setuju pak…pengkotak-kotakan menjadi developed/ under developed itu kan bisa-bisanya pihak Barat aja untuk menunjukkan hegemoninya didunia ini. Masih banyak indikator lain untuk melihat maju atau nggaknya suat negara…

       
  10. Indah Sitepu

    June 17, 2009 at 4:43 am

    Miskin- miskin tapi masih bangga jadi orang Indonesia😛

     
    • soyjoy76

      June 17, 2009 at 4:52 am

      Hidup Indonesia..!!!

       
  11. frozzy

    June 17, 2009 at 5:06 am

    emang masih negara miskin gitu ? hmh….jadi bingung sama mal2 segede kampung yang terus menjamur di jakarta? katanya negara miskin, tapi kok masih ada aja yang beli tas Hermes ? ko Harvey Nichols masih rame aja yah ? *binun sendiri*

     
  12. marshmallow

    June 17, 2009 at 11:27 am

    da soyjoy, ada orang miskin yang gengsi dikatakan miskin. tapi ada juga orang kaya yang rela disebut miskin asalkan dapat uang. contohnya adalah saat pembagian BLT atau semacamnya.

    tapi bagi pandangan orang awam di sini, dengan uda soyjoy jalan-jalan ke LN berarti orang kaya, dong? hihi… biar miskin asal keren!

     
  13. soyjoy76

    June 18, 2009 at 1:58 am

    @Frozzy
    Itu namanya paradoks…hehehe. Biar Tekor Asal Kesohor…hehehe

    @marshmallow
    Urusan BLT itu mungkin kasusnya sama dengan mahasiswa yang sebenarnya cukup berada tapi ngotot ngurus surat keterangan miskin dari kelurahan demi mendapat beasiswa, yang mungkin sebenarnya ada mahasiswa lain yang lebih membutuhkannya *geleng-geleng kepala*

    Soyjoy kaya? wakakaka….amieeen..:-)

     
  14. edda

    June 18, 2009 at 11:37 pm

    widihh kalo US 1.500 diuangkan d jaman sekarang, dpt brapa tuh?
    wow, jd pgn deh, ehehehe😛

     
  15. Cara Buat Web

    June 19, 2009 at 3:47 am

    Indonesia itu negara kaya, kaya sumber daya, budaya, alam, masih banyak dech, tapi ilmunya mungkin masih miskin untuk membuat kekayaannya itu agar lebih maju! seoga nanti mampu dech! biar gk dibilang negara miskin!

     
  16. boyin

    June 22, 2009 at 1:56 am

    untung aku hidup di negara yang lebiih miskin mas..jadi gak ada yang bilang begitu…puff…

     
    • soyjoy76

      June 29, 2009 at 1:51 am

      wah…kalo di negara yg lebih miskin, jangan-jangan Bang Boy yang diminta mensubsidi mereka..hehe

       
  17. ichanx

    June 23, 2009 at 11:23 pm

    biar miskin yang penting sombong… hidup indonesia!!! hihihi

     
    • soyjoy76

      June 29, 2009 at 2:04 am

      hidup sombong…eh..hidup Indonesia!!!

       
  18. juliach

    June 26, 2009 at 2:53 pm

    Lah aku aja yang ditinggal pergi sama suami … maka aku harus kerja keras utk menghidupi anak (WNA) yg serba mahal (jika hidup di indonesia, sekolah mahal & main hantam aja, sedang hidup di Prancis pun begitu) selanjutnya juga budaya yang aku anut selama ini “jangan menyerah” & “jaga gengsi” maklum aku khan pendatang dr negara ke-3: jadi harus unjuk gigi dong. Setiap bulan pindah negara, & anak kesepian.

    Tapi sejak diultimatum sama dinas sosial akibat menelantarkan anak dan saran dari asisten sosial supaya mengurus anak dulu, hingga anaknya stabil.

    Sepertinya ngak jelek juga idenya. Mana ada seh nganggur ngurus anak dibayar lagi dan utang-utangku dihapus plus urusan cerai dibayar negara.

    Tak ada ruginya kalo kita bisa merendah dikit koq… yg penting aku masih hidup di negara Eiffel…

     
  19. soyjoy76

    June 29, 2009 at 2:07 am

    Dinas Sosial-nya pemerintah Perancis ya? Hmm…asik juga tuh…

     
  20. oblonkerenz

    June 29, 2009 at 9:04 am

    iah, negara kita emang terkotak-kotak..

     
  21. kristo

    August 8, 2009 at 2:39 am

    hahaha….biar miskin tapi alamnya kaya lho..
    tinggal gimana kita memanfaatkan kekayaan kita…

     
  22. Mr.Nunusaku

    November 12, 2010 at 5:27 pm

    Biapun disebut negara kita miskin, tapi masih enak bisa kawin kontrak, siri ya itu keuntungan bagi negara islam miskin. Biar miskin kurang makan tapi masih bisa kawin cerei atas nama agama islam.

    Nah anda bayangkan bangsa Indonesia yang miskin naik haji ke Mekkah, sedangkan bangsa Arab naik haji kepuncak, karena bisa kawin kontrak dengan muslima dengan harga murahan. Setelah selesai kawin kontrak dicereikan, dan Arabnya pulang kampung cari duit dan kembali kepuncak kawin kontrak baru dengan muslimah . Karena dalam islam pelacuran itu tetap berjalan atas nama islam. Inilah agama yang sangat muliah yang diciptakan oleh nabi mereka Muhammad untuk kenikmatan berahi seksuel Muhammad dan pengikutnya.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: