RSS

TVRI Riwayatmu Kini…

11 Jun

images2

images

Selama dalam pengasingan seperti yang gue ceritakan disini, laptop dan televisi selalu menemani hari-hari gue. Sayangnya gue nggak punya akses internet dirumah, jadi nggak bisa blogwalking atau mengupdate blog Soyjoy ini. Alhasil, laptop hanya dipake untuk penggunaan yang minimum sekali, maen game! Membuat draft tulisan untuk blog Soyjoy aja sering mentok di paragraf pertama, nggak tuntas. Lha, ngga bosan maen game terus? Kalo terus-terusan maen, ya iyalah, masa ya iya donk?? *garing* Makanya ketika laptop udah ngga bisa membunuh sepi, gue raih remote control dan mulai nyetel televisi. Hah, hare gene nonton televisi? Seingat gue udah banyak tulisan para bloggers yang komplen sama acara televisi lokal yang nggak mutu. I couldn’t argue on that simple judgement because it is absolutely right by my opinion. Tapi gue disini mau sharing pendapat gue tentang acara televisi (selain televisi berlangganan atau cable TV loh…) yang mungkin jarang kita perhatikan.
Benang merah dari seluruh siaran televisi terestrial di Indonesia adalah format acara yang latah (katanya sih demi mengejar rating): live music yang digelar ditempat terbuka dengan penonton yang udah diatur gayanya oleh produser, sinetron yang over dramatis, kuis-kuis ala perayaan 17 Agustusan, ajang pencarian bakat dengan juri para wadam dan reality show yang udah nggak real lagi karena kentara sekali pesertanya cuma berakting. Jam tayang pun rata-rata sama. Katanya acara yang sejenis tersebut sengaja bertarung head-to-head di jam yang sama buat beradu rating, berebut kue iklan. Phew….

Biasanya ketika remote control terus bergerilya mencari channel yang berkenan dihati dan kebetulan logo yang nongol disudut kanan atas layar televisi adalah TVRI, tanpa melihat acara apa yang lagi tayang, jempol gue otomatis bergerak memencet tombol NEXT di remote. Tapi dalam kondisi terisolasi dan waktu yang cukup banyak untuk menonton apapun, gue singgah ditiap channel beberapa saat. Begitulah, TVRI pun tak luput dari pemantauan gue. Ternyata oh ternyata, dibalik penampilannya yang old fashion dengan format acara nggak jauh beda dengan 15 – 20 tahun yang lalu, gue justru menilai stasiun ini yang paling mendidik. Yang pasti, di TVRI nggak ada sinetron dengan special effect norak, yang ujug-ujug jagoannya bisa berubah jadi siluman naga, ular, kalajengking dan aneka makhluk aneh lainnya. Untuk yang jarang nonton televisi gue informasikan, sinetron norak yang dimaksud bisa anda temukan di INDOSIAR dan TPI.

Trus, dipagi hari TVRI banyak memiliki program-program pendidikan, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan fisika dengan segmen pemirsa gue perkirakan adalah anak SD tingkat akhir dan SMP. Gue nggak hafal nama-nama acaranya, tapi yang jelas menurut gue acaranya sangat mendidik. Dulu banget, waktu masih SD dan SMP, gue selalu menonton acara seperti ini, di stasiun yang sama. Tentunya penyajiannya udah jauh berbeda. Kalo dulu, materi acaranya disampaikan dengan cara yang sangat kaku dan relatif kurang menarik, saat ini acaranya udah cukup informatif dengan melibatkan efek visual yang membantu pemahaman penonton. Gue jadi ingat, dulunya TPI itu kan singkatan dari Televisi Pendidikan Indonesia? Dulu juga setiap pagi TPI menyiarkan acara-acara pendidikan kayak yang tayang di TVRI itu, malah dengan format yang lebih menarik. Sekarang lihatlah, TPI menjadi antitesis, berlawanan sekali dengan visinya diawal kemunculannya. Eh, kok malah ngedumel gini… let’s get back to TVRI.

Harus diakui, dimasa lalu (dan mungkinkah dimasa ini juga masih iya?) TVRI dijadikan alat propaganda bagi pemerintah. Di stasiun inilah Pak Harto mengekspos keberpihakannya pada petani melalui Klompen Capir-nya yang kesohor. Acara-acara musiknya pun masih kental nuansa Aneka Ria Safari yang ngetop abis ditahun 80an. Belum lagi acara talkshow-nya yang cukup banyak, namun rata-rata terlalu formil dan kurang menarik. Begitulah, gue rasa posisi TVRI di mata sebagian besar pemirsa televisi Indonesia masih menjadi alternatif terakhir diantara televisi swasta lainnya. Pemirsa televisi Indonesia lebih senang dengan acara menghibur, happy ending dan menjual mimpi. Tapi disisi lain, TVRI tetap gue acungi jempol untuk konsistensinya menyiarkan program-program pendidikan yang bisa dijadikan alternatif pembelajaran bagi pelajar Indonesia. Kalau sodara-sodara ngga setuju, tinggal gerakkan jempol ditombol NEXT pada remote televisinya dan silahkan kembali termehek mehek (ini nama salah satu reality show loh…)

 
10 Comments

Posted by on June 11, 2009 in Uncategorized

 

10 responses to “TVRI Riwayatmu Kini…

  1. Ade

    June 11, 2009 at 5:42 pm

    Kangen ya ama siaran TVRI yang dulu..
    Mulai dari Unyil, Ria Jenaka, Album Minggu sampe Gita Remaja..

     
  2. DV

    June 12, 2009 at 12:12 am

    Sepakat bulat dengan keprihatinan siaran televisi kita!
    Kalau ndak sinetron ya reality show yang tampak seperti real padahal nggak..:)

    TVRI menurutku justru seharusnya bisa memanfaatkan peluang saat ini dimana TV swasta tampak kehausan mengejar paket uang untuk menghidupi perusahaannya sehingga membuat acara-acara yang busuk itu🙂

    Tapi sekalinya TVRI ngga gerak cepat, ia bakalan tetap kalah dari cable TV yang mulai masuk ke Indonesia dan disukai oleh anak-anak kecil, calon penerus generasi yang ada.

    Ah yang terakhir soal TPI, menurut saya itu keprihatinan yang paling memprihatinkan mengingat dulu waktu saya SMP pernah rela membolos demi ‘belajar di rumah’ dengan cara menonton TPI.

    Merdeka!

     
  3. boyin

    June 15, 2009 at 2:18 am

    saya seneng nonton TVRInya inggris alias BBC. Kita jadi tau kalo di luar INdonesia banyak yang lebih parah sedangkan disini kita menghujat negara ini terus.

     
  4. soyjoy76

    June 15, 2009 at 3:43 am

    @Ade,
    hehehe…. Ria Jenaka, trademarknya TVRI banget tuh..

    @DV
    Begitulah, TPI udah ngga ada unsur mendidiknya sama sekali. Wha, kamu membolosnya baik yah, nonton acara pendidikan di TPI🙂

    @Boyin
    Kalo di Vietnam acara TVRInya gimana Bro?

     
  5. Riris Ernaeni

    June 16, 2009 at 7:55 am

    di tempat tinggalku TVRI tidak terlalu bagus gambarnya (mungkin perlu antena khusus)
    sebenarnya dengan sedikit pulasan, maka hal-hal yang bermutu di TVRI akan jauh lebih menarik daripada “termehek-mehek lho” aku ingat banget, dulu ikut2an belajar bahasa inggris di TVRI..hostnya ANTON HILMAN.

    Salam kenal
    Riris

     
  6. soyjoy76

    June 16, 2009 at 10:25 am

    @Riris
    benar…kalau aja acara2 pendidikan di TVRI itu dikemas dengan cara lebih menarik, pasti banyak yang nonton.

    Dulu saya juga sering nonton acaranya Pak Anton Hilman itu, bahkan bisa dibilang acara itulah yang jadi awal ketertarikan saya memperdalam bahasa inggris..

    Salam kenal juga ya…

     
  7. Ryan NK

    June 23, 2009 at 9:19 am

    kecewa banget seeh tpi knp ngelepas pendidikannya (banting setir jd siaran hiburan tanpa acara pendidikan sama sekali) sehingga tpi dah gk ada kepanjangannya lg, sdh bukan singkatan televisi pendidikan indonesia lg… coba aj kalo tpi msh bertahan sm citra baiknya, itu bagus seh. tapi kalo dy ngepertahanin citra baiknya, dy mw banjir iklan dr mana?? masalahny mkn k masa depan, persaingan antar stasiun tv d indonesia mkn ketat

     
  8. sofyan adi

    March 13, 2010 at 6:12 pm

    siaran TVRI yang pendidikan itu program apa…..

    tolong ksh tau dong….. trims

     
    • soyjoy76

      March 15, 2010 at 8:29 am

      Wah, maap mas… saya lupa nama acaranya apa. Coba aja setel TVRI di pagi hari… pasti nemu kok. Waktu itu kebetulan yang saya tonton tentang pelajaran Fisika.

      Thanks audah mampir ya, mas…

       
  9. tani

    December 30, 2010 at 4:23 pm

    Hidup TVRI!
    sayang sekarang sudah tidak ada Anton Hilman (Alm) dan nisrina nur ubay dengan program bahasa inggris mereka yang bagus! gw inget banget biar masih Balita dulu gw suka nonton acara itu tiap menjelang Isya (WITA).

    Sekarang pun, acara2 diskusi malam seperti CEMPLON (?) dan satu lagi yang hostnya adiknya eros djarot dan arswendo ituh…(lupa.com) bagus lho.
    dan gw gak perlu filter2 kalau anak gw mau nonton karena semua caranya sudah lulus sensor🙂 begitu juga TVRI daerah..lumayan lah sekarang…. tinggal dibuat bersaing! supaya bisa relay lintas daerah… jadi orang maluku bisa nonton juga TVRI siaran Padang misalnya. jadi deh bineka tunggal Ika dan makin erat persaudaraan dan persatuan..biar nggak penuh syak wasangka terhadap atas dasar SARA.
    TVRI menjalin persatuan dan kesaaatuuuaaannnn

    🙂
    jempol buat soyjoy

    mudah2an kamera yg mereka gunakan bisa lebih bagus yah supaya kualitas gamabr

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: