RSS

Jon

11 May

Jon. Begitu dia memperkenalkan namanya ke gue. Pastinya yang gue maksud ini bukan Jon Bon Jovi, vokalis grup rock kesohor jaman gue masih ABG. Pastinya juga ini bukan Chris Jon, jawara tinju kebanggaan Indonesia itu. Jon yang akan gue ceritain ini adalah loper koran yang biasa mangkal di salah satu pertigaan kota Pekanbaru. Dia hanya menjual koran MX, edisi esok hari yang udah mulai dijual malam sebelumnya. Jadi, Jon mulai berjualan koran setelah maghrib, alias malam. Koran MX yang beredar di Pekanbaru ini selalu menyajikan berita pembunuhan dan kriminal dengan cara heboh, sensasional, vulgar dan narasi yang cenderung kelebihan bumbu penyedap. Kurang lebih mirip sama Koran Lampu Merah yang beredar di Jakarta lah. Gue mengenal Jon karena setiap kali berhenti di lampu merah tempat dia biasa berjualan, gue selalu beli korannya. Eits..bukan karna gue penyuka berita-berita ekstrim seperti itu, karna begitu dibeli koran itu langsung gue serahkan ke pembokat buat dimanfaatkan sebaik-baiknya dirumah. Tapi isteri gue (..dan gue juga) selalu merasa kasihan sama anak ini. Usianya gue perkirakan baru menjelang 20 tahun dengan perawakan kurus. Tapi yang membuat kami merasa iba adalah Jon berjualan sambil memakai kruk. Ya, kaki kirinya buntung sampai paha. Ia menyimpan koran dagangannya didalam tas yang digantungkan dileher karena tangannya harus memegang kedua kruk dengan kuat. Ketika malam masih muda (halah…kok istilah orang dugem kalo diterjemahkan jadi aneh ya? The Night is Still Young) koran-koran itu terlihat sangat memberatkannya. Ia menghampiri setiap kendaraan yang berhenti dilampu merah itu dengan tertatih-tatih. Banyak yang tergerak hatinya untuk membeli, namun tak jarang juga yang ngga peduli. Yang jelas Jon selalu terlihat bersemangat. Kadang gue lewat pertigaan itu selepas maghrib, kadang ketika malam udah menunjukkan pukul 10. Tapi semangat yang sama tetap gue lihat pada anak itu. Life is hard out there.

“Mungkin kita bisa bantu dia keluar dari kehidupan yang keras itu” isteri gue ngasih usul. “Kita kan punya rencana nyewa konter di salah satu mal buat jualan pakaian. Suruh aja si Jon yang jagain. Barangkali dia mau” kata isteri gue dengan bersemangat. Singkat cerita, proses rekrutmen pun kami lakukan dengan diawali wawancara calon tenaga kerja. Jon kami bajak dari pertigaan tempatnya beroperasi. Awalnya dia ragu waktu gue ajak ngobrol-ngobrol di kedai kopi. Selain waktu itu adalah jam kerjanya, mungkin gue dan isteri dikira penculik anak yang akan menjualnya ke Singapura atau Malaysia:-) Apalagi didalam mobil dia melihat ada bayi kecil guanteng (alif, anak gue:-)) lagi nangis..wah, jangan-jangan ini memang komplotan penculik anak. Hehehe…

Alkisah, Jon ini ternyata udah malang melintang di dunia perdagangan. Sesuailah dengan asal-usulnya dari Padang Pariaman, dimana para perantaunya banyak yang jadi pedagang pakaian atau penjual sate:-) (peace…jangan marah buat pembaca yang dari daerah yang sama). Dia ikut pamannya berjualan di Pasar Tanah Abang, tempat ngumpulnya urang awak di Jakarta. Jon menjadi korban tabrak lari di suatu hari yang nahas, yang membuatnya harus kembali ke kampung halaman dengan kehilangan salah satu kakinya. Namun, anak ulet (bukan anak ulat, sodara-sodara) ini ngga mau berlama-lama meratapi keadaannya dan segera memutuskan untuk mengadu nasib ke Pekanbaru, yang relatif lebih dekat ke kampungnya. Dikota inilah Jon memulai karirnya sebagai loper koran. Saat itu koran MX dijual dengan Rp 1.000 (one thousand only, mister..). Kalo ngga salah dari penjualan 1 eksemplar koran, dia dapat 300 perak. Dalam satu hari (kalo cuaca cerah bersahabat alias nggak hujan) dia bisa menjual koran sampai 50 eksemplar. Silahkan dikira-kira berapa yang bisa diperolehnya dalam sebulan. Makanya waktu gue nanya apa dia mau nungguin konter, seandainya gue jadi buka disalah satu mal, dalam pertemuan dikedai kopi malam itu dia antusias sekali. Mungkin buat Jon ini adalah the light at the end of the tunnel. Kami senang melihat Jon senang. Selesai pertemuan di kedai kopi itu, dan setelah ngasih tau nomer telpon kami yang bisa dihubungi, Jon kami antar balik ke tempat dimana kami culik. Tak lupa gue kasih sedikit sangu sebagai kompensasi hilangnya waktu dia berjualan karena acara minum kopi dengan kenalan barunya ini. Kami tinggalkan Jon dengan raut muka gembira yang tak dapat disembunyikan dari wajahnya.

Itu cerita setahun yang lalu. Waktu itu gue benar-benar udah selangkah lagi untuk coba-coba buka konter pakaian di salah satu mal di Pekanbaru sebagai bisnis sampingan. Tapi apa daya, suatu kejadian telah memaksa gue merevisi, atau tepatnya menunda sampai jangka waktu yang tidak ditentukan, rencana bisnis itu. Gue kecewa karna niat kami merintis wirausaha belum kesampaian. Lau bagaimana dengan Jon? Ya, bagaimana dengan Jon? Hmm…tak banyak yang bisa gue sampaikan ke Jon selain permohonan maaf bahwa rencana bisnis yang udah gue presentasikan ke Jon di kedai kopi waktu itu batal dan berjanji akan segera menghubungi dia apabila rencana itu jadi dilanjutkan. Jon ya masih tetap Jon yang gue kenal, dengan senyum tabah dan tetap bersemangat bilang: “Ambo yang penting lai ado niek abang mambantu lah basukur Alhambulillah. Sia tau tabukak rasaki abang dek niek elok ko. Ambo anggap se iko rasaki ambo yang tatundo (terjemahannya: Buat saya yang penting udah ada niat Abang  untuk membantu, syukur Alhamdulillah. Siapa tahu diberikan rezeki buat Abang karena niat baik ini. Saya anggap aja ini rezeki saya yang masih tertunda).”

 
13 Comments

Posted by on May 11, 2009 in Santai

 

13 responses to “Jon

  1. Billy Koesoemadinata

    May 11, 2009 at 7:59 am

    wah.. niat mungkin kuat, meski kenyataan kurang kuat, tapi yang penting kita harus usaha terus buat ngejadiin itu semua jadi nyata –> saya juga jadi pengen buat jadi pengusaha nih..

     
    • soyjoy76

      May 13, 2009 at 1:37 am

      Ayo…rame-rame berwirausaha😉

       
  2. vizon

    May 12, 2009 at 12:34 pm

    aih son… indah kali, saya terharu membacanya…
    meski itu baru sebatas niat, tapi itu sudah merupakan satu langkah maju. seperti sabda Nabi: “seseorang itu dinilai dari niatnya”. saya yakin suatu saat niatmu akan terwujud, karena ianya mengandung sebuah kebaikan, untuk orang lain…

    kalau ketemu dg jon, sampaikan salam saya… salut dg ketabahannya…

     
    • soyjoy76

      May 13, 2009 at 1:43 am

      Amieen.. Baik Uda, nanti aku sampaikan

       
  3. suwung

    May 13, 2009 at 6:57 am

    lebih baik niat daripada ngak sama sekali

     
  4. prihandoko

    May 13, 2009 at 10:52 am

    dapat lagi tempat belajar neh…kali ini belajar jadi pengusaha…niatan yang belum juga dapat kurealisasikan…belajar ah

     
  5. DV

    May 13, 2009 at 11:40 pm

    Tulisannya menyentuh….
    Betul kata si Jon, yang penting niatnya dan toh kejadian yang membatalkanmu menyelenggarakan bisnis bersamanya itu bukan sesuatu yang kamu sengaja.

    Tetap setia berbuat kebaikan, dan mulailah semuanya dari niat.

     
  6. Ade

    May 14, 2009 at 10:14 pm

    Perlu dititu semangat dan ketulusannya bang soyjoy

     
  7. diajeng

    May 15, 2009 at 12:24 am

    Tetapkan niat…mantapkan langkah…fokuskan usaha dan iringi doa..insya Alloh keberhasilan menjadi milik kita🙂

     
  8. racheedus

    May 15, 2009 at 2:53 am

    Niat baik merupakan langkah awal untuk perbuatan baik. Sudah merupakan deposito pahala. Salut untuk Uda.

     
    • soyjoy76

      May 15, 2009 at 3:19 am

      Jadi malu Pak, baru niat aja dah mentok. Mudah2an lain waktu bisa tetap memulai wirausaha, biar bisa sekalian membuka lapangan kerja buat orang lain..

       
  9. iklan baris gratis

    May 23, 2009 at 4:42 am

    Niat yang baik itu sudah mendapat pahala, tapi bukan berarti asal niat baik aja, tapi niat baik dalam hati yang akan sungguh-sungguh dilaksanakan, tapi kalo Allah belum mengijinkan apa boleh buat! tapi udah dapat pahala kok!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: