RSS

KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme?)

22 Apr

Pagi ini setelah ngabsen gue ngopi dulu di warung sebelah kantor bareng dua sohib. Ini rutinitas biasa sebelum mulai bekerja dan gue rasa akan tetap begitu sampai salah satu dari kami di mutasi ke daerah lain. Nikmat benar, ngobrol ngalor ngidul, mulai dari hal serius kayak politik dan kondisi terkini perbankan Indonesia sampe hal sepele kayak Liverpool yang nyaris kalah lawan Arsenal tadi malam (grrhh….)

Pagi ini, entah siapa yang memulai, kami membahas masalah KKN yang pada waktu kampanye Pemilu kemaren bahkan nggak disinggung-singgung oleh parpol manapun (Terlalu…kata Rhoma Irama).  Kata tetangga gue yang aktivis mahasiswa, sekarang KKN udah ngga ada di Indonesia.What??? Untunglah dimasa lalu, diakhir masa Orde Baru, gue masih sempet ngerasain KKN. Bahkan dua sohib gue ini udah lebih dulu menikmati KKN ketika Soeharto masih jaya. Ya, kami bertiga mulai mengenang  masa-masa ketika KKN merajalela dinegeri ini, sampai merambah kampus tempat kami kuliah.

Eits tunggu dulu…yang gue maksud KKN ini Kuliah Kerja Nyata, bukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Ya…kami bertiga pernah diterjunkan ke desa-desa terpencil di Sumbar untuk KKN. Meskipun ada rentang waktu yang membedakan periode KKN gue dan dua sohib gue ini, Herman dan Fadil (bukan nama sebenarnya..:-p), namun esensinya tetap sama, orang kota (at least kuliahnya dikota) menyambangi desa untuk melakukan ‘pengabdian’ selama + 2 bulan. Namanya tinggal di desa, ya ada aja kejadian-kejadian yang bisa dijadiin cerita, mau cerita lucu, konyol atau cerita sedih.

Cerita I: Makan Sisa Ayam

Pelaku: Herman

Ketika itu rombongan mahasiswa KKN + dosen pembimbing di desa X (tak terlihat di peta) akan melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Herman, yang pada waktu itu belum berkumis dan rambutnya masih lebat, kebagian tugas memasak dan menyiapkan makanan sebelum mereka berangkat. Nasi dan sayur udah dijatah pada piring-piring yang ditata diatas tikar, masih tanpa lauk. Waktu Herman dan seorang teman sedang sibuk mengaduk teri goreng dan kacang tanah goreng dan sambal goreng, masuklah seekor anak ayam (piyik?) yang sedang kelaparan. Tak ayal si ayam mengira nasi yang terhidang itu sengaja disiapkan untuk beliau. Mulailah ayam kecil yang lucu dan menggemaskan itu mengacak-acak beberapa piring nasi sambil makan sepuas-puasnya. What a life, pikirnya. Herman dan temannya panik namun tak kekurangan akal. Mumpung ngga ada yang tau, mereka berdua bergerak cepat menata ulang piring-piring yang berantakan, mengembalikan nasi yang berserakan di tikar pada tempatnya. Tentunya setelah mereka memisahkan dua piring yang tak tersentuh oleh si Piyik, untuk mereka. Segera teri dan kacang tanah tadi dijatah kemasing-masing piring dan ditata rapih diatas piring-piring yang sempat mengalami kekacauan tadi. Beres. Everybody is happy, karna ngga ada yang tau. Meski demikian, Herman tetap menceritakan kejadian sesungguhnya sesampai mereka di Padang yang berakibat beberapa temannya hilang napsu makan beberapa hari setelahnya.

Cerita II: Si Pencari Belut

Pelaku: Gue

Disatu desa Y di pelosok Sumbar (lagi-lagi ngag terdeteksi di peta) yang merupakan implementasi nyata dari lagu Ninja Hattori: “…mendaki gunung, turuni lembah…”, gue menghabiskan hari-hari bertransformasi jadi orang desa. Stok Indomie beberapa kardus jadi bekal yang kami bawa dari kota kecamatan terdekat. Mengingat jarak tempuh yang cukup jauh dan sulit menuju kota kecamatan yang lebih maju, kami hanya berbelanja kebutuhan makanan pokok seminggu sekali. Suatu ketika, sehabis sholat Jumat, para lelaki anggota tim KKN di Desa Y buru-buru pulang ke rumah Pak Kepala Desa yang jadi basecamp kami, berharap para wanita anggota tim KKN udah memasak sesuatu untuk dimakan siang itu. Ternyata mereka bilang cuma masak nasi karna ngga ada lauk. Stok Indomie juga dah habis. Oow… padahal dah lapar banget. Tiba-tiba anak Pak Kades yang masih kelas tiga SD ngasih solusi jitu. “Kita nyari belut dulu aja Bang…” katanya. Maka dibawah teriknya matahari mulailah kami menyusuri pematang sawah yang airnya udah mulai kering itu. Dengan umpan cacing yang ditusuk pada sumbu ilalang, kami menyambangi lubang persembunyian belut sambil mengeluarkan suara khas..krrkkkrkk..krkkrkrk…. Lelah. Dua jam berlalu, hanya 20 ekor belut gemuk yang berhasil kami tangkap. Tapi ya udahlah, itu yang terbaik yang bisa didapat anak-anak kota yang hampir tak pernah bersentuhan dengan lumpur. Yang penting, siang itu (sebenarnya dah menjelang sore:-( ) kami makan belut goreng hasil jerih payah sendiri yang dimasak dengan sambel terbuat dari cabe rawit dari kebun belakang rumah Pak Kades. Nikmat sekali.

Cerita III: Robohnya Kakus Kami

Pelaku: Gue

Desa Y yang jadi lokasi KKN gue benar-benar tertinggal dalam arti sebenarnya. Sebuah ironi ditengah gembar-gembor pembangunan yang disuarakan antek-antek Orde Baru diakhir masa kejayaannya, desa ini belum tersentuh listrik, jalanan masih berupa tanah kuning yang kalau kering aja licin, apalagi habis kena hujan. Hanya mobil 4 wheeled drive yang bisa mencapai pusat desa, itupun seminggu sekali, tiap hari Rabu, untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari petani di desa tersebut.

Basecamp kami adalah rumah Pak Kades, yang merupakan rumah terbagus di desa itu. Tunggu dulu. Jangan bayangkan rumah berparabola dengan cat warna pink yang selalu jadi simbol rumah orang kaya Desa. Rumah ini berdinding terbuat dari batako besar tanpa plester. Lantainya sebagian masih tanah, sebagian lagi udah disemen. Bagian segitiga antara atap seng dan dinding samping rumah (sori, gue ngga tau namanya…) bolong. Alhasil, kalau angin lembah bertiup dini hari menghasilkan sensasi dingin luar biasa, bikin mules karna masuk angin.

Syahdan (oalah…bahasa apa ini??), angin lembah inilah yang bikin petaka kecil buat gue. Kakus (or Toilet) terletak diluar rumah, bagian belakang, disebelah sawah milik Pak Kades. Posisi kakus ini lebih rendah dari sawah, dengan sumber air yang sama dengan pengairan untuk sawah itu, air pegunungan. Waktu pertama kali sampai di rumah Pak Kades, kakus ini yang pertama kali kami benahi dengan membentangkan terpal plastik yang lebih besar disekelilingnya, tapi tanpa atap. Kelihatan kokoh yang terlindungi pada awalnya. Sampai suatu ketika, angin malam bikin perut gue mules tak terkira dan harus segera melapor kebelakang. Tak seorangpun teman gue yang bersedia menunggui gue selagi pup (ya iyalaah…jam 2 pagi gituh). Dengan berbekal senter kecil gratis untuk setiap pembelian 2 buah batere Alkaline merk ABC, gue pup ditengah deru angin lembah dan suara gemericik air dari pancuran. Lagi asyik-asyiknya pup, tiba-tiba terpal plastik berwarna biru itu tumbang tertiup angin. Terpaksa gue pup dengan berjongkok sambil kedua tangan gue membentang kedepan menahan terpal plastik. Urusan gue bersih-bersih setelah pup ngga usah gue ceritain disini karna terlalu ribet dan memerlukan tekhnik tinggi. Weleh…pengen segera balik ke Padang dan tidur di kasur kapuk gue yang meskipun dah tipis dan bau apek, tapi masih hangat:-)

Begitulah KKN. Anda mungkin punya pengalaman unik dengan setting lokasi KKN lainnya? Let’s share…

 
9 Comments

Posted by on April 22, 2009 in Santai

 

9 responses to “KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme?)

  1. vizon

    April 23, 2009 at 2:45 am

    saya ber-KKN di desa yang sekarang kena galodo; pasia laweh, sungai tarab…

    daerahnya sama seperti lagu ninja hatori itu juga… mendaki gunung, turuni lembah… nama desanya tanjuang lado ateh bukik. dari namanya sudah kebayangkan bagaimana situasinya? ya… setiap hari kami harus mendai gunung dan menuruni lembah. mandi di lembah, kemudian naik lagi ke posko kami sudah mandi keringat…

    yg lebih parah adalah posko kami tidak punya wc, sebagaimana juga halnya dg rumah2 penduduk lainnya. sehingga, bila ada yg terpaksa buang hajat tengah malam, daripada turun ke lembah yang gelap gulita, kami memilih menjadikan plastik kresek sebagai “penampung” sementara…

    dan, lucu sekali setiap pagi kami pada jinjing kantong asoy yg berisi “barang berharga” turun lembah, untuk kemudian membuangnya ke kolam atau ke sungai… huahahaha….😀

    asyik memang mengingat cerita KKN itu.

     
  2. Rafki RS

    April 23, 2009 at 5:19 am

    Hmmm… korupsi istilah dan singkatan pun terjadi. KKN yang lebih dulu hadir merupakan singkatan Kuliah Kerja Nyata, akhirnya dikorupsi.

    Arti KKN sekarang lebih populer dengan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Sungguh telah terjadi pengkorupsian istilah singkatan.😀

     
  3. soyjoy76

    April 23, 2009 at 5:39 am

    wakakaka…kantong kresek🙂 Kalo susah nyari kresek, dibungkus daun pisang aja, biar dikira ‘lapek bugih’…

    Dulu rasanya menderita banget, tapi kalau diingat2 sekarang jadi cerita lucu ya, Da…

     
  4. DV

    April 23, 2009 at 6:03 am

    Saya dulu ndak pake KKN karena saya memilih untuk membuat seminar saja (waktu itu ada dua pilihan KKN atau seminar).

    Alasan saya kenapa ngga ikut KKN adalah karena ketika kuliah dulu saya sudah bekerja, so kalau harus ditinggal 2 – 3 bulan untuk KKN sepertinya sayang kerjaan.

    Tulisan yang baik🙂

     
  5. mrpall

    April 24, 2009 at 11:42 am

    emang klo dipikir lagi KKN tuh bikin semua tatanan jadi rusak

     
    • soyjoy76

      May 1, 2009 at 12:45 pm

      KKN yang mana nih mister?🙂

       
  6. Ade

    May 1, 2009 at 12:30 pm

    Untungnya dulu belum ada flu burung yak:mrgreen:

    BTW, cerita yang paling sering terdengar waktu KKN adalah cilok alias cinta lokasi😆

     
    • soyjoy76

      May 1, 2009 at 12:47 pm

      hehe…yg cewe biasanya pada takut ditaksir pemuda desa setempat, trus pura2 make cincin tunangan…

       
  7. zachriaugustmarl

    March 30, 2010 at 11:30 am

    ^_^……kwikkwikkwikwikwikwik…..ahahahahahahah…kkn,,..???baru tw gw singkatan sebenarnya dari “KKN” itu adlah “KULIAH KERJA NYATA”kuno bgt ych gw…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: