RSS

Lo Sekolah Buat Apa?

12 Mar

Hmmm…rasanya udah lama sekali sejak gue terakhir kali nulis di blog Soyjoy ini. Apa boleh buat, pekerjaan asli gue yang menumpuk belakangan ini mulai mengganggu aktivitas blogging… (halah, mudah-mudahan bos gue ga blogwalking kemari:))

Meski begitu, dari kunjungan kerja gue ke calon debitur beberapa waktu yang lalu, gue kepikiran sesuatu untuk di share disini. Ya, gue jadi mempertanyakan, gue sekolah buat apa? Lo sekolah buat apa? Begini ceritanya…

Beberapa hari yang lalu gue meluncur ke kebun kelapa sawit seorang toke, sebut saja A Chan, yang mau mengajukan kredit untuk pembiayaan kebun barunya. Toke ini pemain lama di bidang perkebunan karna sejak tahun 70-an dia dah jadi kontraktor pembangunan kebun milik PTPN di Riau dan Sumut. Saat ini luas kebunnya sudah mencapai 2.000 Ha (kira-kira 4.000 x lapangan sepakbola). Tapi gue ngga lagi pengen membahas masalah kerusakan hutan oleh pekebun kelapa sawit atau kontribusi gue dalam pengrusakan tersebut kayak di postingan gue terdahulu. Dengan luas kebun segitu, dimana 60% nya adalah pohon sawit berusia 10 tahun, coba bayangkan berapa banyak uang mengalir ke pundi-pundi Toke kita ini. Dah kebayang belum?? Oke… sini gue bayangin..Secara teknis, pohon sawit usia 10 tahun sedang berada di puncak produksinya dengan hasil +/- 20 ton buah sawit per hektar lahan setiap tahunnya. Dengan asumsi harga buah sawit per kg sekarang rata-rata Rp 1.000 per kg, maka nilai penjualan buah sawit milik A Chan dalam 1 tahun adalah Rp 24 miliar ( 60% x 2.000 Ha x 20.000kg x Rp 1.000). Dipotong biaya panen, transportasi yang biasanya mencapai 40% dari nilai penjualan, maka kas bersih yang masuk ke kantong A Chan kurang lebih Rp 14,4 miliar per tahun!!!

Tapi sabar dulu sosodara… jangan buru-buru nuduh gue ngerecokin rejeki orang. Itu hasil usaha si A Chan dan dia berhak atas hasil kerja kerasnya ituh. Malah ke masyarakat desa sekitar kebunnya A Chan sangat pemurah. Tiap 3 bulan dia  bagi-bagi sembako. Pas bulan puasa bagi-bagi THR. Ia juga bikin klinik keliling pake mobil L300 yang dimodifikasi jadi ambulance. Lalu apa hubungannya ama sekolah? Okeh… gue lanjut ceritanya….

A Chan punya tiga orang anak laki-laki, yang paling tua usia 22 tahun dan paling muda usia 16 tahun. Anak ke empatnya perempuan, masih usia 6 tahun. Sejak usia 15 tahun si sulung udah diserahi tanggungjawab mengurus kebun seluas beberapa ratus hektar, mulai dari jual beli bibit dan pupuk sampai panen dan menjual hasilnya. Sekolahnya gimana? Ya cuma sampai SMP doank. Malukah dia? For sure not.. Pemikiran A Chan sederhana aja, dan kebetulan si anak juga oke-oke aja, lo sekolah setinggi-tingginya, ujung-ujungnya buat nyari duit juga kan? Sekarang dengan kondisi sarana nyari duitnya dah ada, which is kebun yang terhampar luas, kenapa harus buang-buang waktu berlama-lama dibangku sekolah? Langsung terjun ngurus kebun akan memberikan si anak real life experiences which no other schools or universities ever provided. Gue cuma bisa manggut-manggut mendengar penuturan A Chan. I could not argue on that simple fact. Tapi apa SMP aja dah cukup? Bahkan anak lelaki yang nomer 3 cuma menamatkan sekolahnya sampai SD, trus langsung bergabung dengan 2 kakaknya yang udah lebih dulu nyemplung di kebun… (eh, nyemplung harusnya dikolam yah??). Kayaknya sih cukup. Yang paling penting kan ilmu dasarnya aja.  Seorang anak tamatan SD kan dah bisa tulis baca dan berhitung. Malah kalau sampai SMP pasti dah ngerti dasar-dasar biologi dan fisika. Ilmu-ilmu lainnya? Ah… kan bisa belajar sambil bekerja. Bahasa Inggris mereka juga pada lancar banget karna A Chan mampu membayar guru privat bahasa Inggris untuk ketiga anaknya itu. Alhasil, dengan sedikit koneksi internet, terbuka lebarlah dunia buat mereka, meskipun berada di tengah kebun nun jauh di pelosok Riau sana.

Gue sempat akan mempertanyakan kehidupan sosial mereka, tapi urung karna ga mau A Chan jadi ngerasa gue nuduh anak-anaknya anti sosial. Seenggaknya A Chan dah mempersiapkan infrastruktur yang mendukung keputusannya ngga menyekolahkan anak-anaknya itu. Sebuah rumah berkategori bagus berdiri gagah ditengah kebun dengan kolam ikan seluas 10 x 30 m dihalaman depannya. Di rumah itu ada ruangan khusus untuk Home Theatre dengan sound system kelas wahid. Ada lagi ruangan lain yang dibuat khusus mendukung hobi ketiga anaknya, studio band dengan perlengkapan band yang komplit. Oiya, sekedar informasi, A Chan tetap tinggal di Pekanbaru, dan bukan di kebun bersama anak-anaknya. Mau apa lagi? Sosialisasi dengan masyarakat? Disekeliling rumah kebun A Chan dibuat barak-barak karyawan dan sekilas hubungan antar personal mereka terlihat harmonis. Barangkali soal kebutuhan alamiah layaknya ABG dan remaja seusia mereka, nyari pacar, yang mungkin belum ada jalan keluarnya saat ini. Tapi itupun  menurut gue persoalan gampang, tinggal dijodohin aja sama anak-anak rekanan bisnis A Chan. Pasti banyak yang mau…

Kalo udah begini, judul postingan ini memang layak ditanyain ke tiga orang anak A Chan. Lha kalo ditanyain ke gue, njawabnya apa yah? Kenapa gue musti ngabisin 19 tahun hidup gue berguru dari satu tingkatan ke tingkatan sekolah berikutnya? Nyari ilmu? Klise. Biar gampang dapet kerja n bisa ngasilin uang banyak? Ah…emangnya sekarang dah banyak uang??  Lalu apa donk??…Aaarrgghh. Kalo gue tanyain ke elo, Lo sekolah buat apa?? Hayo dijawab….

 
17 Comments

Posted by on March 12, 2009 in Serius Tapi Santai

 

17 responses to “Lo Sekolah Buat Apa?

  1. ichanx

    March 13, 2009 at 4:36 pm

    mantan nasabah gw… duitnya milyaran…. dan dia bahkan buta huruf! emang sekolah itu gak penting!!! hihihi

     
  2. vizon

    March 17, 2009 at 1:46 am

    saya sekolah karena saya ingin pintar dan bisa punya pekerjaan, sebab bapak saya miskin, tidak kaya… tapi yg lebih penting, saya sekolah karena saya ingin JADI DIRI SENDIRI!!! bisa berdiri di atas kaki sendiri, bukan bersandar kepada bapak saya!

    terus terang, saya tidak salut dg orang2 seperti A Chan. kenapa? karena dia sedang tidak memanusiakan anaknya. pendidikan itu adalah dalam rangka memberikan penyadaran dan menumbuhkan kreatifitas pada diri seorang manusia. bersekolah formal adalah SALAH SATU cara untuk memanusiakan manusia.

    manusia dianugerahi akal oleh Tuhan yg keluasannya tidak terkira. seharusnyalah akal manusia itu diisi dg pengetahuan seluas2nya. perkara nantinya mau terpakai sebagai pekerjaan itu tidak penting. ilmu adalah untuk ilmu, soal dapat kekayaan dari itu, bagi saya itu hanyalah efek samping belaka, bukan tujuan utama…🙂

     
  3. soyjoy76

    March 17, 2009 at 4:15 am

    @vizon,
    sabar Uda…sabaar…hehehe..:-)
    Isteriku juga marah-marah mbaca postingan aku sambil ngasih ultimatum: “Awas ya, kalau suatu saat kita jadi kaya..jangan coba-coba ngga nyekolahin Alif sampai setinggi-tingginya!!” Wakakaka… setelah kubaca ulang postingan ini, kesannya gue mendukung si A Chan ya? Hmm… well, sebenarnya bukan mendukung, hanya ngga menyalahkan si A Chan. It’s totally his own right, tul ga?🙂

     
  4. Billy Koesoemadinata

    March 17, 2009 at 8:40 am

    sekolah? buat bayar utang sama orang tua, sodara, dan lain2..

     
  5. omiyan

    March 18, 2009 at 8:37 am

    yang bicara tuh nasib, orang pinter terkadang nasigbnya ga sebagus orang tamatan SD soalnya terkadang makin pinter orang makin gede pula rasa gengsinya…coba deh buktikan

     
  6. DV

    March 18, 2009 at 10:36 pm

    Sekolah itu menurutku untuk berlatih fikir, Mas.
    Kita jadi memiliki sistematika berpikir yang baik. Ilmu yang dipelajari selama sekolah hanyalah menu yang memang harus dilahap demi pikiran kita yang terlatih, bukan demi ilmu yang kita kuasai itu sendiri.

    Lha memangnya kalau kita nggak sekolah trus ngapain hayo🙂 Masa 19 tahun cuman di rumah melulu dan mengharapkan nasib baik serta suami/istri yang datang bagai hujan di musim kemarau?

    Hihihihi!

     
  7. Yari NK

    March 20, 2009 at 9:06 am

    Sekolah itu secara sosial atau untuk sebuah kenegaraan itu tetap penting, walaupun mungkin untuk perorangan kurang penting. Apalagi itu mencakup natural science ataupun engineering, bukan berarti social science tidak penting, saya tidak bilang begitu tentu saja. Tapi tanpa sekolah terutama bidang natural science dan engineering peradaban manusia akan stagnan dan tidak maju, tidak akan ada handphone, tidak akan ada internet tidak akan ada televisi dsb. walaupun secara ekonomi mungkin berkecukupan seperti zaman dahulu (yang sudah banyak orang2 kaya tanpa teknologi majupun….)

     
  8. Rafki RS

    March 20, 2009 at 6:20 pm

    Lalu buat apa doooonnng😀😀😀

     
  9. beebast

    March 22, 2009 at 3:35 am

    Sekolah itu buat mbantu orang tua.
    Lho??
    Buat mbantu nantinya saat ORANG menjadi TUA.

     
  10. imoe

    April 1, 2009 at 1:47 pm

    bagi saya sekolah agar otak gak malas mikir heheheh

     
  11. boyin

    April 3, 2009 at 3:53 am

    kalo gak punya warisan ya kudu sekolah dan deketin temen temen kaya. itu penting…heee

     
  12. Volmer Simanjuntak

    April 3, 2009 at 10:06 am

    Si Badu ambil sekolah kedokteran, padahal minatnya IT. Awalnya Badu menolak, tapi ortu terus menuntut dan “mengarahkan”. Pada dasarnya Badu adalah anak yang tunduk pada ortu, jadi ia menyetujui.

    Namun, seiring waktu perjalanan menuntut ilmu, ia merasa menyangkal hati nurani. Tiap malam selalu ia bermimpi menjadi tenaga IT yang handal. Tapi demi menyenangkan ortu, ia tekun belajar kedokteran.

    Tidak terasa 7 tahun sudah berlalu, Badu wisuda.
    Gelar dokter di tangan. Ortu sungguh bahagia!

    Namun ortu kaget, Badu memberikan ijazah kepada ortu dan berkata, “Sudah saya turuti keinginan Ayah dan Ibu, izinkan saya sekolah lagi di jurusan IT! Saya harus mengejar apa yang menjadi impian saya.”

    (Ah, semoga ortu bisa lebih bijaksana di awal, jangan sampe salah jurusan…..)

     
  13. soyjoy76

    April 3, 2009 at 10:50 am

    @Imoe
    Yah..biar tetep encer🙂
    @Boyin
    Gud Idea…hehehe
    @Volmer
    What a story Bro… True story kah?🙂

     
  14. arungjeram

    April 6, 2009 at 11:43 am

    wkawwkkwwakakw….. lucu critane… wakwkawaw

    wah gue Menyesal Sekolah tinggi↓3…. khirnya jadi karyawan juga hahahhahahhaha…. ops…

    Jateng Adventuree Magelang
    Mbah Kakung, Mbah Putri, Pakde Mbokde, Mas² mbak², adek² ayo² pada Ikut Arung Jeram Mumpung masih ada kesempatan bisa Arung Jeram, nggk usah malu untuk sms ke nomor saya, nih nomernya 0817262073

     
  15. krismariana

    April 6, 2009 at 2:21 pm

    buat apa sekolah? buat baca buku. soalnya kalau di sekolah kan ada perpusnya. lha kalau beli buku sendiri, kadang nggak mampu :p

    sekolah sebenarnya buat berlatih logika. idealnya dg bersekolah orang bisa jadi manusia yg lebih baik. kalau tujuan bersekolah untuk cari duit, rasanya kok tidak tepat ya. hanya saja, sekarang rasanya memang spt itu. orang sekolah tinggi2 dg harapan bisa bekerja di tempat yg bisa memberinya gaji tinggi. dan sekolah skrg sudah jadi ajang bisnis. jadi yaaa, … kalau A Chan membesarkan anak2nya dg cara spt itu, rasanya nggak salah2 amat lah. toh kondisi pendidikan sekarang sama bobroknya.

     
  16. oni

    April 6, 2009 at 11:30 pm

    kalau ujung2nya nyari duit, sekolah memang bukan hal yang paling penting.

    tetapi kalo sekolah bukan sekadar utk nyari uang, melainkan nyari ilmu, persoalannya jadi lain.

    tdk semua orang harus sekolah tinggi. karena tidak semua orang harus jadi ilmuwan. tidak semua orang harus jadi bisnismen. karena tdk semua orang harus jadi pedagang. masing2 punya tempatnya.

     
  17. podelz

    April 7, 2009 at 12:54 pm

    sekolah buat cari network… :D:D:D

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: