RSS

The Show Must Go On

26 Nov

Tulisan berikut udah pernah gue kirim ke sebuah milis Analis Kredit dengan sedikit gue modifikasi.  Just wanna share with you all, folks…

Minggu lalu untuk kesekian kalinya gue visit ke kebun kelapa sawit yang terletak kira-kira 3 jam perjalanan darat dari home base gue. Sialnya, satu hari sebelum ke lokasi gue baca di koran lokal kalau di daerah yang akan gue kunjungi ada orang yang mati diinjak gajah yang menyerang kebun kelapa sawit miliknya. Konon si lae Ronald ini (doi orang Batak – pen) berusaha mengusir sekawanan gajah yang ngerusak pohon kelapa sawitnya dengan cara menakut-nakuti menggunakan chain saw . Bukannya takut, sekawanan gajah yang berjumlah lebih kurang 25 ekor ini (seharusnya disebut se-RT gajah) malah ngeratain si lae dan pohon sawitnya dengan tanah. Selama dua hari setelah kejadian, se-RT gajah ini tetap bertahan di TKP sambil ngemil buah sawit dari kebun lae Ronald.
Nyesel juga gue baca berita itu sebelum ke lokasi kebun sawit, yang belakangan gue tau ternyata masih tetanggaan desa sama kebunnya lae Ronald tadi. Tapi, show must go on. Gue ngga boleh keliatan jiper didepan temen-temen analis kredit gue, apalagi di mata debitur. Gue sampai dilokasi kebun pas jam 1 siang. “What a perfect time to burn out my skin” batin gue. And you know what, manajer gue yang ikut ke lokasi kebun memutuskan untuk menunggu di mess karyawan di tengah kebun (karena ini adalah debitur lama yang minta tambahan kredit untuk perluasan lahan, jadi beliau udah hapal setiap jengkal lahan kebun ini), sementara gue harus keliling kebun yang luasnya serebuan hektar pake Suzuki Thunder. Mana abis hujyan, becyek gak ada ojyek…
Tapi bro and sis, bukan itu inti yang ingin gue share ama kalian semua. Diperjalanan gue mengelilingi lahan yang baru sebagian sudah ditanami dan sebagian lagi baru aja LC (paham kan? Kata temen-temen yg ahli pertanian, Land Clearing atau pembebasan lahan) gue melihat tunggul-tunggul pohon kayu bekas ditebang yang dibiarkan membusuk diantara bibit-bibit sawit yang masih muda. Kata mas-mas yang jadi tour guide gue (maap mas, aku lali jenange sampeyan…), lahan kebun itu dulunya bekas areal HPH yang juga dikuasai oleh debitur ini. Kebayangkan gimana optimalnya Om debitur ini memanfaatkan areal hutan tersebut. Sewaktu aktivitas logging masih berjalan tanpa gangguan di Riau, pohon-pohon dihutan itu ditebang untuk dijadikan dollar. Ketika isu illegal logging makin marak dan dunia sudah teriak-teriak mengenai global warming, hutan yang telah gundul tersebut dialih fungsikan menjadi kebun sawit. Pengurusan IPL dan SHGU? Gampang…bupati ama kepala BPN kan bisa diatur. Makanya jangan heran, sebagian besar dari pengusaha kebun sawit itu dulunya adalah illegal logger (is it a common term in English?)
Dari tunggul pohon yang masih tersisa di lahan itu gue bisa membayangkan, areal itu tadinya adalah hutan sekunder dengan pohon-pohon berdiameter 60-80 cm dan jarak antar pohonnya 2-4 m. Jadi, di areal seluas 1 hektar bisa terdapat +625 pohon. (kalo ngga bisa membayangkannya, silahkan bayangin aja 625 orang segede Ade Rai berdiri di tengah 10 buah lapangan sepak bola, atau 62 orang dalam 1 lapangan sepak bola). Bayangkan lagi kalau pohon sejumlah itu masih ada di areal 1.000an hektar lagi (kali ini mohon jangan membayangkan ada 625.000 orang segede Ade Rai lagi berbaris karna ntar yang muncul malah bayangan Perang Bharata Yudha…;-p). Pasti daerah itu masih menjadi kawasan sejuk yang asri dengan pohon-pohon yang rindang.
Apa boleh buat, kenyataannya bukan pohon tinggi nan rindang yang mendiami lahan seluas itu, tapi pohon sawit yang rapuh yang ngga bisa menyimpan resapan air hujan di akar tunggangnya (apa tunggal?). Mana bisa kera dan monyet melompat dan bergelantungan didahan pohon sawit (pohon sawit gak punya dahan kan?) Mana bisa gajah maen petak umpet dibalik pohon sawit muda yang baru di TM 7 bisa setinggi gajah. Masa gajahnya disuruh nunggu 10 tahun buat maen petak umpet. Kalo udah gini, ngga heran gajah-gajah itu maen petak umpet sambil nyari makan ke rumah-rumah penduduk di sekitar kebun sawit. Lebih menyedihkan lagi, pas kunjungan ke kebun sawit beberapa bulan yang lalu gue ngeliat seekor kera duduk termenung diatas tunggul pohon yang baru ditebang waktu LC. I mean it, bro…kera itu termenung persis kayak pialang saham yang baru aja bikin rugi investornya ;-p Pasti yang dipikirkan kera itu sama kayak korban penggusuran Bang Yos di pasar Taman Puring, Jakarta dulu, “kemana aku arus mencari makan? Hiks..hiks…”
Lho…kok gue berpikir ala aktivis lingkungan hidup gini ya? Padahal gue kunjungan ke kebun kan tujuannya mau mastiin apakah kebun sawit itu secara bisnis layak dikasih kredit apa ngga. Gue bukan disuruh ngeliat apakah kebun sawit itu menghilangkan mata pencarian si kera, merusak tempat tinggal si gajah atau menyebabkan pemanasan global. Menganalisa kredit, termasuk pembiayaan pengembangan kebun kelapa sawit, adalah pekerjaan gue dan sumber mata pencarian gue. Gue digaji oleh Bank tempat gue bekerja ya buat nganalisa kredit. Dengan demikian secara ngga langsung gue nyari makan diatas kesusahan si kera, si gajah dan lain-lain. Debitur gue juga ngebuka kebun kelapa sawit untuk mencari makan, sebagai sumber penghasilannya. Dengan demikian secara ngga langsung si debitur juga nyari makan diatas kesusahan si kera, si gajah dan lain-lain. Ironis memang. Sekali lagi, gue cuma bisa bilang, the show must go on. Mudah-mudahan aja kalau gue berkunjung lagi ke kebun sawit dilain waktu ngga ketemu ama gajah-gajah yang sedang marah. Siapa tau mereka mulai ngerti, gue salah satu mata rantai penghancuran hutan ini. Hehehe…Peace.. Apa kalian terkadang juga merasakan apa yang gue rasa? The Show must go on

(Home Base, 27 Juli 2008)

 
1 Comment

Posted by on November 26, 2008 in Serius Tapi Santai

 

One response to “The Show Must Go On

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: