Dalam sebuah iklan radio gue mendengar suatu tagline yang menggelitik, bunyinya kurang lebih begini: “It’s not who you know, it’s who knows you what matter most” Artinya, bukan siapa yang kamu kenal, tapi siapa yang kenal kamu yang paling penting. Hmm… sedikit bernada sombong sih, tapi kayaknya paradigma ini berguna juga buat gue menilai calon debitur .
Seorang lelaki datang ke kantor gue dengan berpakaian necis dan pembawaan super ramah. Sesuai standar layanan, gue berdiri menyapa dan menanyakan keperluannya. Rupanya si bapak mau mengajukan kredit untuk usahanya. Berarti beliau datang ke orang yang tepat, secara kerjaan gue menangani kredit untuk usaha, hehehe…
Selepas bercerita mengenai kontrak-kontrak penjualan yang diperolehnya dari importir diluar negeri dan kemungkinan pemberian kredit oleh Bank, pembicaraan mulai mengarah ke hal-hal yang lebih umum. Semua pembicaraan standar layaknya obrolan di warung kopi sampai si bapak ini mulai bercerita soal kedekatannya dengan tokoh-tokoh nasional. Bagaimana ia merupakan teman SATU KAMPUS dengan Amien Rais atau betapa ia KENAL DEKAT dengan Pak Machmud MD waktu ia kuliah di Jogja dulu. Tak lupa beliau menunjukkan fotonya dengan pejabat-pejabat tersebut dari gallery di blackb**ry-nya. Lebih jauh, dia mengaku dititipin pesan oleh gubernur Riau untuk membantu menggerakkan sektor bisnis dan perdagangan luar negeri dan bersinergi dengan perbankan di provinsi kaya minyak itu.
Olala… bisa ditebak, bualan si bapak ini tak lain untuk menekan gue secara psikologis bahwa ia, seperti halnya pejabat-pejabat yang dikenalnya itu, adalah orang penting di Riau, dekat dengan penguasa di provinsi itu dan dengan demikian… setujuilah permohonan kreditnya. Wow.. nggak bisa begitu, Bos. Pertama, kalau si bapak ini kenal dengan para pejabat itu, apa para pejabat itu juga kenal dengannya? Jangan-jangan si bapak cuma mengaku kenal sama Amien Rais, sedangkan mantan ketua MPR itu sendiri nggak kenal dengannya. Foto berdua dengan orang penting atau selebriti bukan berarti mereka mempunyai hubungan akrab. Buat apa mengaku kenal dengan pejabat ini dan itu kalau ternyata mereka sendiri tidak mengenal kita. Kedua, kalaupun memang ternyata si bapak ini kenal dengan para pejabat tersebut, apa serta merta permohonan kreditnya harus disetujui apapun keadaan dan prospek usahanya? Terlalu naif kalau si bapak itu berpikir demikian walaupun pada kenyataannya dia bukan satu-satunya yang berpikir dan melakukan ‘soft intimidation’ seperti itu dalam mengajukan kredit.
Lebih jauh, banyak calon debitur yang datang dan mengaku kenal dekat dengan direksi Bank tempat gue bekerjalah, dekat dengan Menneg BUMN lah dan kenal banyak orang penting lainnya yang diyakini bisa menciutkan mental pihak yang menganalisa permohonan kredit. Gue sih peduli amat dia mau jual nama siapapun, selama usahanya jelek dan nggak prospektif gue tolak aja. Lagian, belum tentu juga direksi gue beneran kenal sama calon debitur itu. Nice Try.
It’s not who you know, it’s who knows you what matter most. Happy Weekend…


January 27th, 2012 at 5:09 pm
hehehe benar sekali!
Aku paling benci pada orang yang belum apa-apa sudah bluffing dia kenal si ini si itu… Kadang sambil tertawa dalam hati, aku membatin… segitu aja bangga, aku juga kenal kok, dan cukup dekat
Semoga saja ada yang masih kenal dengan saya dalam… lets say after 20 years … semoga….
January 28th, 2012 at 6:57 am
Hehehe…pasti malu kalo ternyata lawan bicaranya kenal lebih dekat dengan orang yang lagi di bluffing-in… Happy weekend…
January 27th, 2012 at 7:30 pm
Waaahhh … itu trick kuno Pak Anderson … hahahaha
Dan betul kata Pak Anderson … biasanya yang begini ini untuk menutupi kekurangan yang ada di bisnisnya sendiri …
setau saya … orang yang sedang mengajukan kredit … yang dibangga-banggakan adalah … produknya … atau hasil nyata service nya …
Salam saya Pak Anderson
January 27th, 2012 at 7:31 pm
dan satu lagi …
jangan lupa … sekarang ada teknologi imaging yang canggih …
siapa tau aja dia ganti wajah seseorang yang sedang berfoto dengan dia … kemudian dimontage dengan wajah orang terkenal
salam saya
January 28th, 2012 at 7:00 am
Betul Om… dengan photoshop, saya juga bisa berfoto bareng Barrack Obama dan membual, “hey…saya kenal dekat dengan presiden AS, ini lhoo fotonya..” Happy weekend, Om..
January 28th, 2012 at 10:01 am
Mentalitas, Bro!
Padahal pada akhirnya keterbukaan jaman melalui jalur informasi membuat mereka yang konon bernama besar sekalipun ya tak lepas dari cacat dan cela.. apalagi mereka yang cuma sok kenal aja
Senang kamu nulis lagi!
January 30th, 2012 at 6:03 pm
Pak Anderson, benar sekali prinsipnya yang penting kita profesional saja. Kalau kita berjalan di atas kebenaran tidak usah takut. Sukses ya
Btw kok link Pak Anderson di blog saya error ?
January 30th, 2012 at 7:56 pm
Orang itu salah triknya…
Kalau aku jadi dia, bakal bilang begini:
“Saya kenal baik lho dengan bankir yang menangani kredit di bank ini. Saya juga punya foto bareng dia. Mau tau? Lihat tuh di blog saya”, hahaha…
Hal yang kurang lebih sama sering aku alami dengan mahasiswa. Bahkan yang lebih ekstrim adalah, ada seseorang penting di Rejang Lebong dan mengatakan kalau dia adalah paman dari mahasiswaku tersebut. Dia memintaku untuk membatalkan nilai “D” dari mahasiswa tersebut, dan menggantinya dengan yang lebih tinggi..
Apa yang aku lakukan dengan itu? Justru menurunkan nilainya menjadi “E”, alias gagal…
January 31st, 2012 at 1:05 pm
@DV
Makasih dukungannya Bro… Gue juga senang bisa mengupload tulisan lagi di blog ini..
@Uded
Makasih kunjungannya Uda. Link di blog Uda error? Mungkin saya buru-buru ngetiknya jadi ada huruf yang kececer dan jadinya error..
@Vizon,
Mantabh Uda… hajar aja orang kayak gitu. Emangnya kalau dia orang penting lantas bisa menyelamatkan ‘kebodohan’ keponakannya?
February 7th, 2012 at 2:02 pm
hahaha…bagi bankir, ada motto…jangan menunggu nasabah datang ketempatmu minta kredit, karena mungkin nasabah itu sudah ditolak dari Bank-bank lain. Namun pergilah keluar, cari nasabah yang baik, berkunjung ke usahanya, melihat cara pelayanannya, tanya bagaimana komentar pemasoknya, juga bagaimana pendapat konsumen yang menggunakan produk/jasa nasabah itu.
Kalau cuma foto dengan pejabat sih, nggak ada gunanya, tak ada hubungannya dengan kelayakan usaha.
February 8th, 2012 at 6:26 am
Betul Bu… biasanya yang langsung datang ke kantor dengan gaya menterang, pake Alphard, bawa data lengkap dan sesumbar macam-macam malah jadinya mencurigakan..