RSS

Mengatasi Masalah Tanpa Masalah

04 Mar

Diantara berbagai tagline dari perusahaan-perusahaan di negeri ini, tagline ‘Mengatasi Masalah Tanpa Masalah‘ dari Perum Pegadaian cukup menggelitik saya. Idealnya, dari sudut pandang si empunya perusahaan, jasa yang ditawarkan perusahaan dengan logo timbangan ini adalah solusi terhadap masalah keuangan anda tanpa menimbulkan masalah baru.

Tapi dalam kenyataannya, apakah selalu demikian? Lha, kan ada jangka waktu harus dilunasi, ada biaya yang harus dibayar dan ada risiko barangnya dilelang kalau telat menebus barang anda? Belum lagi kalau aset yang digadaikan itu punya nilai sejarah buat kita atau keluarga kita, bisa berabe kalau sampai dilelang. Nah, apa bukan menimbulkan masalah baru namanya? Hehehe…. no offense buat pembaca yang bekerja di Pegadaian. Itu cuma prolog buat postingan saya kali ini…

Begitulah. Apakah suatu alternatif penyelesaian masalah yang diambil nggak lantas menimbulkan masalah baru itu biasanya bersifat situasional. Selagi masalah baru yang ditimbulkan masih lebih kecil dampaknya dari masalah yang baru aja diselesaikan…beres…berarti solusi masalah anda tokcer.

Alkisah saya memperhatikan bagaimana pengasuh anak saya mengatasi masalah susahnya menyuapi si Alif makan. Si bungsu saya ini (atau si sulung, terserahlah, lha wong baru satu :-) ) kalau disuruh makan akan serta merta pura-pura sibuk dengan mainannya, atau berlarian kesana-kemari. Ketika si pengasuh mulai ngos-ngosan mengejar, ia akan berkata: “Ayo Alif, makan dulu. Ntar dilaporin sama pak dokter lho, biar di suntik aja Alif-nya“. Alif pun akan berhenti berlari dan segera makan sambil berharap si pengasuh tak mengadukannya ke dokter.

Lain waktu, Alif menolak ketika mau dimandiin. Setelah berhasil tertangkap, si pengasuh mengucapkan mantra untuk menenangkan bocah 2 tahun ini dari meronta-ronta: “Kalau nggak mau mandi ntar Alif digigit kodok lho, hiii…” Alif pun segera nurut ke kamar mandi dan dimandiin.

Saya sendiri sering kewalahan kalau mau menyuapi Alif makan atau mau memandikannya. Butuh waktu lebih lama dan kesabaran lebih tinggi sampai akhirnya pekerjaan itu bisa tuntas. Tapi tak urung saya juga beranggapan cara penyelesaian masalah oleh si pengasuh tadi bertentangan dengan semboyannya Pegadaian. Mengatasi Masalah dengan Masalah.

Bayangkan kalau disuntik jadi satu hal yang menakutkan buat Alif, padahal dia sendiri nggak tau disuntik itu sebenarnya apa dan gimana rasanya. Kalau suatu saat ia dihadapkan pada keadaan harus disuntik, maka akan jadi masalah baru bagaimana menenangkannya dan meyakinkan bahwa disuntik itu bukan masalah dan sakitnya cuma sebentar.

Pun demikian dengan sang kodok. Menjadikan kodok sebagai obyek yang menakutkan akan menimbulkan salah kaprah dimasa depan (at least sampai Alif benar-benar paham situasinya). Bayangkan anakku yang badannya besar lari terbirit-birit melihat kodok…oalaah…

Begitulah. Apakah anda udah mengatasi masalah tanpa masalah? Kalau iya, anda cocok bergabung dengan Perum Pegadaian *ngaco*

About these ads
 
20 Comments

Posted by on March 4, 2010 in Santai

 

Tags: ,

20 responses to “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah

  1. ikkyu_san a.k.a imelda

    March 4, 2010 at 4:23 pm

    Sepertinya kebanyakan anak-anak suka ditakut-takuti dengan polisi… sehingga tidak ada anak mau berurusan dengan polisi bukan?
    Kalau di sini malah anak-anak “akrab” dengan polisi, sampai ada panggilan khusus… bukan keisatsu atau polisi tapi “omawarisan” (orang yang berkeliling)

    Menakut-nakuti anak dengan cara begitu memang ampuh sementara, karena pasti akan menimbulkan masalah baru. Saya sendiri pernah melakukan kesalahan besar dalam mendidik anak, yaitu saya berkata, “Mama pergi saja ke Jakarta, kamu tinggal sama papa. Kamu nakal!” dan keluar rumah. Sejak itu Riku trauma kalau saya keluar rumah biarpun sebentar untuk buang sampah.

    Ya, ternyata saya belum pantas untuk bergabung dengan Perum Penggadaian hihihi….

    EM

    Anderson:
    Duh kasian Riku :-) Tapi sekarang dah berani donk ditinggal di rumah sendirian? Hehehe… Ya, Mbak… kebetulan Perum Pegadaian belum punya kantor cabang di Tokyo tuh… :-D

     
  2. Inge

    March 4, 2010 at 5:53 pm

    belum punya anak, jd bacanya cuman bs sambil ketawa-ketawa aja…

    oia, jadi inget jg ama iklan pepsodent yg ‘ayah adi dan dika’, ttg gmn cara ayah biar anaknya mau sikat gigi… nah kalau itu mungkin ayah adi cocok bergabung dng perum pegadaian *tambah ngaco*

    Anderson:
    Saya senang iklan itu, Nge… Barangkali itu salah satu pendekatan yang cukup baik, dengan menmbuat kegiatan itu jadi sesuatu yang fun buat si anak…

     
  3. imoe

    March 4, 2010 at 6:46 pm

    Apapun itu, menakut-nakuti anak dengan sesuatu adalah hal yang tidak bisa dibenarkan. Makanya orang tua dan pengasuh di tuntut untuk kreatif memebrikan pemahaman tentang PENTINGNYA sesuatu kepada anak.

    Ini, teman saya anaknya sulit makan juga, nah caranya sederhana, dia bilang…’ayo dong makan, nanti kalau tidak makan budi akan sakit, naha kalau budi sakit mama sedih, papa sedih semua sedih gak bisa main-main lagi sama budi” nah..dengan cara begitu ternyata si budi akan merasa bahwa dia menjadi bagian penting dalam kebahagian keluarga….nah akhirnya ank tuh makan…

    Hehehehehehe

    Anderson:
    Bisa dicoba, Jo… Tengkyu :-)

     
    • ikkyu_san a.k.a imelda

      March 5, 2010 at 2:01 pm

      aku pengen tau ntar imoe dan istrinya apa bener-bener tidak pernah nakutin anaknya satu kalipun (dalam semua pembinaan loh, bukan hanya makan hihihi…..)
      coz…teori gampang, praktek susah bow

      EM

      Anderson: Hayoo… Ajo ditantangain Mbak Imelda tuh…

       
  4. annosmile

    March 4, 2010 at 8:52 pm

    merasa belum punya anak..
    hmm..jadi bagaimana mengatasi sebuah masalah tanpa menimbulkan sebuah masalah..
    saya ingat dulu waktu kecil saya ditakut-takuti orang tua kalau nggak mau mandi..dan nggak gosok gigi waktu mau tidur..hihihi

    Anderson:
    Hehehe…nggak harus dah punya anak buat memahami situasi kayak gini..

     
  5. emmychen

    March 4, 2010 at 9:25 pm

    nah itu cara didiknya ngga bener loh..
    aku pernah denger mama bilang anaknya yg masih kecil, “kalo kamu nggak bgini-bgitu berarti kamu nggak sayang mama…”

    anak kecil jadi nurut bukan karena emang itu sesuatu yang benar untuk dilakukan, tapi karena takut kalau2 mamanya marah sama dia..
    sharusnya diberi pengertian ya.. bukan diancam atau ditakuti.. *eh tp anak kecil apa bisa ngerti ya?* haha blom punya anak sih jadi ngga paham juga :)

    btw pegadaian itu… bahasa iklan aja lah yaaaa… kyk iklan provider hp yg ngomongnya ‘serba gratis serba murah’ intinya ya sama aja.. hihi..

    mnurutku mengatasi masalah tanpa masalah bahasa kerennya ya win-win solution, stuju nggak?
    “Selagi masalah baru yang ditimbulkan masih lebih kecil dampaknya dari masalah yang baru aja diselesaikan…beres…berarti solusi masalah anda tokcer.” –> stujuuuu :)

    Anderson:
    Stuju Mbak… *dua jempol*

     
  6. nakjaDimande

    March 5, 2010 at 9:09 am

    semoga belum ada yang nakut-nakutin Alif bahwa klo dia ngga mau tidur siang, giginya bakal dicabut sama Bundo.

    jangan sampai dibayangan Alif bahwa bundo adalah sejenis monster yang suka ngejar anak2 dan mencabut giginya tanpa anestesi..! **pdhl emg hampir mirip :mrgreen:

    Anderson:
    Ondemande…Bundo, saya baru aja merencanakan utk menakut-nakuti alif dengan dokter gigi… soalnya suka mingkem rapat-rapat kalau mau digosok giginya, wakakaka….

     
  7. vizon

    March 5, 2010 at 10:00 am

    Perihal menakut-nakuti itu juga berlaku dalam hal beribadah, Son… Mengancam anak dengan neraka bila tidak beribadah adalah sebuah kesalahan menurut saya. Karena, hal itu akan berdampak terhadap ketidakikhlasannya dalam menjalankannya. Ibadah yang dilakukan hanya semata-mata karena takut neraka, bukan karena butuh berdekat-dekat dengan Tuhan…

    Btw, kenapa ya dokter dan polisi sering dijadikan tameng untuk menakut-nakuti anak yang tidak menurut? jangan-jangan kedua profesi itu memang menakutkan ya…? hahaha… :D

    Anderson:
    Psst…hati-hati, Da. Ada dokter juga yang suka mampir di blog ini :-D

     
  8. Wempi

    March 5, 2010 at 3:08 pm

    Kalo gak mau mandi nanti kamu dijual… lebih bagus begitu keknya…
    kalopun takut dijual, akan lebih bagus toh :lol:

    Anderson:
    Yaa.. boleh juga tuh solusinya, Wemp..

     
  9. aurora

    March 5, 2010 at 6:04 pm

    wew…. jadi keder nih, komen bapak-ibu diatas pada cerdas dan panjang-panjang…
    aku cuma bisa sharing sama prinsipku bang: “do not intimidate, just promise the reward” jangan mengancam, namun janjikanlah sebuah imbalan.

    Anderson:
    Kenapa musti keder, Rif? Prinsipmu mantap kok. Hanya saja, meminjam komentar Mbak Imelda, masih harus dibuktikan dalam prakteknya…hehehe

     
  10. DV

    March 5, 2010 at 7:53 pm

    Dulu waktu kecil saya sering dibilangin sama nenek saya yang tinggal di Blitar begini, “Don, makannya dihabisin kalau nggak ayamnya mati semua!”
    Kubalas saja “Saya ngga punya ayam, mama beli ayam di pasar”

    Ada banyak hal yang perlu diubah dari hal2 sepele, Bro..
    Menurutku demikian…

     
  11. Yari NK

    March 5, 2010 at 10:40 pm

    Itu namanya “mengatasi masalah dengan menunda masalah” ya?? Kalau itu contoh “sempurna”nya adalah kartu kredit ya?? Mengatasi masalahnya tinggal gesek aja, tapi nanti akhir bulan tagihannya bikin pusing. Apalagi bagi mereka yang waktu bikin kartu kreditnya pakai referensi slip gaji palsu atau aspal… huehuehue…

     
  12. arman

    March 6, 2010 at 2:06 am

    hahaa emang idealnya gak boleh begitu. tapi kadang mau gak mau dah mesti ditakut2i abis udah keabisan akal juga… :P

    asal jangan sering2 ya. hahaha.

     
  13. boyin

    March 6, 2010 at 9:40 am

    anak saya juga suka ditakuti ama dokter akhirnya 3 tahun di LN dia gak pernah ke dokter karena takut dan lebih menjaga kesehatannya seperti nggak banyak makan ice cream, makan potato chips soalnya kalo kebanyakan saya suka bilang “nanti kl kebanyakan bisa sakit dan nanti daddy bawa ke dokter lho” akhirnya dia menghentikan makan chips nya.

     
  14. Mamah Aline

    March 7, 2010 at 2:55 am

    kadang sifatnya menenangkan sementara, padahal efek sampingnya ada juga semacam anak nurut mandi tapi jai takut melihat kodok karena mau digigit, repot juga sih…

     
  15. Reva Liany Pane

    March 8, 2010 at 11:02 am

    Belum pernah ada yg ditakutin pake mantra ‘dimakan hantu’, ya? Doohhh…, untung banget kalo gitu krn yg satu ini benar-benar menyesatkan :(

     
  16. tikno

    March 11, 2010 at 1:56 pm

    Posting yang menarik, sederhana tapi ada maknanya.

     
  17. Bukik

    July 11, 2010 at 7:11 pm

    hehehe
    apakah selalu anak kecil mesti sulit makan ya
    Damai anak saya juga begitu

    bedanya, saya justru “melarang” anak saya makan
    seperti anak kecil lainnya
    Damai justru berlomba-lomba untuk makan
    hehe

     
  18. vanda

    January 27, 2011 at 3:47 pm

    huhft….

     
  19. uul

    April 27, 2012 at 1:02 pm

    Waduh ◦♡hihihi(∩_∩)◦°˚”̮‎​◦ jd geli ngebaca postingan ini“ mengatasi masalah tanpa masalah “jd pengen jelasin dikit ndk papa yo ‎​​ˆ⌣ˆ‎​​ karna masalah keuangan bisa teratasi apalagi jika barang warisan kan sayang jika dijual,bilapun ada biayax. Sewa sangat murah dari mulai 0.75% jangka waktu sampai 4 bulan jika sdh jatuh tempo dan belum dpt melunasi bisa hanya bayar sewa modalx dan jangka waktupun diperpanjang ..flexibel bisa dicicil jd sangat membantu masyarakat menengah kebawah jadi benar2 bukan hanya kata2 iklan saja..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: