Sebuah Catatan Tentang Kematian

November 7, 2009

Gue tiba-tiba ingin menulis soal kematian. Ya, sesuatu yang mungkin saja sebenarnya sudah sangat dekat dengan kita, tapi sering terlupakan. Lho, memangnya kalau ingat sama kematian, terus bisa menghindarinya gituh? Yo ndak, tho… Terus, kenapa gue tiba-tiba ingat soal kematian? Begini ceritanya… Read the rest of this entry »


Hikayat Rentenir

November 2, 2009

Alkisah di Desa Sukademo, negeri antah berantah, seorang rentenir bernama Paijo sedang gundah. Ia baru saja di-non aktifkan dari jabatannya sebagai wakil ketua rentenir sektor Pasar Baru dan dengan demikian berstatus Rentenir Menunggu Penempatan alias non-job. Keputusan ini diambil oleh Bang Beni, sang Koordinator Rentenir di kantor pusat karena Paijo dinilai telah lalai dalam proses pemberian hutang kepada Ahong, pengrajin sendal kulit di Desa Sukademo. Hutang yang diberikan belakangan menjadi macet karena konfik rumahtangga si Ahong yang merembet ke bisnisnya. Paijo dianggap merugikan Bu Pertiwi, pemodal yang selama ini mendanai bisnis rentenir Bang Beni. Bu Pertiwi adalah Kepala Desa Sukademo, yang dengan demikian memiliki kekuasaan yang legitimate di desa itu. Konon kabarnya, kalau Paijo kemudian dianggap mendapat keuntungan pribadi dari proses pemberian hutang kepada si Ahong, maka masalahnya akan bergeser dari masalah administratif ke ranah hukum pidana mengacu pada UU Anti Korupsi. Ciloko.

Read the rest of this entry »


Substance Over Form

October 28, 2009

Buat sodara-sodara yang pernah belajar akuntansi, mungkin istilah diatas udah mahfum. Ya…istilah itu merupakan salah satu Prinsip Akuntansi, yang menjadi ideologi seorang akuntan melakukan tugasnya (emang tugas akuntan apaan? :-D ) Intinya prinsip itu, yang merupakan salah satu dari beberapa Prinsip Akuntansi lainnya, mengharuskan seorang akuntan untuk lebih mementingkan substansi dari laporan keuangan yang dibuatnya dibandingkan bentuk laporan itu sendiri. Makanya ngga heran laporan keuangan dimana-mana bentuknya selalu standar, kaku dan minim improvisasi. Eits…tunggu dulu, sebelum sodara-sodara yang nggak punya latar belakang akuntansi buru-buru meng-close posting ini, perlu gue jelaskan kalau gue sama sekali enggak berniat nulis soal akuntasi disini. Bukan juga gue mau ngajarin gimana caranya nyusun laporan keuangan… :-)

Read the rest of this entry »


Prospek Pembiayaan Kopi Luwak

October 20, 2009

Anda penggemar kopi? Kopi apa yang biasa anda minum? Kopi Aceh kah? Kopi Lampung kah? Atau kopi Starbuck (halah…ini mah bukan salah satu jenis kopi..euy). Nah, adalagi salah satu jenis kopi asal Indonesia yang sangat terkenal yaitu kopi Luwak. Konon kopi ini merupakan salah satu yang termahal di dunia, dengan harga mencapai US$ 50 – US$ 250 atau Rp 500.000 – Rp 2.500.000 per kilogram biji kopi *sigh* Nah, sebagai bankir, bisnis yang mengundang duit ini pastilah mengundang minat gue untuk menganalisa prospek pembiayaannya :-D

Read the rest of this entry »


You Don’t Know What You’ve Got Until It’s Gone

October 16, 2009

Wah…judulnya panjang kabeh… Boso londo, pula…  Beberapa hari ini gue memang sering muter lagu dengan judul tersebut diatas, yang dinyanyiin sama grup Rock tahun 80-an, Cinderella. Suara perut yang serak melengking dari vokalisnya, yang keluar dari speaker kualitas pas-pasan di PC gue dikantor cukup bikin geleng-geleng kepala tetangga booth gue. Beruntung bos gue yang masa ABG-nya dilalui pas Led Zeppelin lagi jaya-jayanya ternyata juga penggemar musik cadas dan paham banget lagu itu. Jadi, alih-alih nyuruh gue ngecilin volume speakernya, kita malah ngebahas keunggulan dan kelemahan grup musik Cinderella ini!! *gubrak* Read the rest of this entry »


Windfall Profit

October 13, 2009

Dalam ilmu ekonomi dikenal istilah windfall profit atau bahasa awamnya, rejeki nomplok alias ketiban duren dari langit. Istilah ini biasa digunakan untuk menunjukkan keuntungan yang diperoleh suatu negara atau perusahaan dari kejadian yang tidak di duga sebelumnya. Waktu harga minyak bumi naik tinggi akibat perang di Irak, negara-negara penghasil minyak diam-diam tersenyum riang karena dollar mengalir deras ke rekening bank mereka. Itu windfall profit. Pun ketika nilai tukar dollar naik gila-gilaan terhadap rupiah waktu krisis moneter tahun 1998, para eksportir yang penghasilannya dalam dollar bersiul-siul kegirangan. Itu juga windfall profit. Layaknya hukum kekekalan energi (jieeh…suit…suit… padahal pas SMA dulu nilai IPA gue pas-pasan kok :-) , diantara yang profit selalu ada yang loss. Ketika negara-negara penghasil minyak bumi tersenyum riang, negeri pengimpor minyak pada manyun, tekor, nombok dan harus ngeluarin uang ekstra untuk beli minyak. Ketika eksportir Indonesia beriul-siul kegirangan, importir yang kudu merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan dollar buat membayar pembeliannya pada terjengkang, mumet dan stress berat.  Read the rest of this entry »


Bundo Kanduang Menangis..

October 2, 2009

Ah… tak ada yang bisa kuungkapkan tentang bencana yang melanda kampung halamanku. Terlalu pilu untuk membayangkan penderitaan yang dialami saudara-saudaraku, teman-temanku dan warga kampungku. Terlalu rumit buatku untuk memahami hikmah dibalik semua tragedi ini. Belum reda tawa riang para keluarga yang berkumpul di hari yang fitri. Belum pula habis waktuku memandangi foto-foto keriangan itu. Walaupun aku tahu persis, dan selalu bilang: You can suddenly feel the happiness right after you feel a very deep sorrow. Either way, your happiness might turn into sadness just in a blink of an eye. Tetap saja aku ngga ngerti. Alunan saluang sayup-sayup mengantar tayangan kehancuran masif yang melanda kampung halamanku. Basah mataku membayangkan penderitaan mereka. Aku hanya bisa menyaksikan semuanya lewat televisi. Entah harus bersyukur atau menyesal karena aku dan anak isteriku meninggalkan kota itu tiga hari lebih cepat dari bencana itu terjadi. Entahlah. Kata orang aku beruntung, karena terhindar dari bencana yang bukan ngga mungkin merenggut nyawaku, nyawa isteriku atau anakku. Tapi bukan masalah aku terhindar dari mautnya yang mengganggu pikiranku. Ingin rasanya aku ada diantara kerabat-kerabatku itu, berbagi kesusahan dengan mereka. Betapa mereka saat ini hidup dalam ketakutan, tanpa penerangan dan kesulitan air bersih. Bundo kanduang menangis. Alunan saluang mengiringi tangisnya melepas kepergian anak, suami, isteri, ayah, ibu dan ninik mamak menuju Sang Pencipta. Doaku untuk saudaraku yang berpulang ke Rahmatullah. Doaku untuk ketabahan kerabat yang ditinggal. Doaku untuk keselamatan ranah minang. Doaku untuk keselamatan negeriku. Alunan saluang sayup-sayup terdengar…


Jangan Putus Kontinuitas..

September 30, 2009

Sejak awal Ramadhan yang lalu gue bertekad untuk selalu sholat taraweh berjamaah di masjid. Atau kalau ngga sempat, tarawih berjamaah berdua isteri di rumah jadi rencana cadangan. Kontinuitas itu awalnya berjalan mulus sampai suatu hari rasa malas mulai hinggap. Banyaknya kerjaan dikantor dijadikan alasan pembenar untuk ‘ijin’ nggak taraweh satu malam itu. Selanjutnya bisa di tebak, berbagai alasan silih berganti muncul yang menyebabkan aktivitas taraweh gue jadi putus-nyambung-putus-nyambung.. Begitulah, kalau kontinuitas yang udah berjalan baik disela dengan kegiatan lain (atau terkadang ngakunya mau istirahat..), biasanya akan sulit untuk memulai kembali, atau menemukan iramanya lagi, sehingga kembali menjadi aktivitas yang kontinyu. Read the rest of this entry »